Ambon Manise, Maluku


Bukan berlebihan bila terminologi kota laut dilekatkan pada ibukota Maluku ini. Jalan utama yang selalu berbatasan dengan laut memberikan sebuah sensasi alam yang tiada terbendung. Seakan-akan Ambon adalah atlantis di dunia modern. Penduduk dan laut sudah menjadi bagian kehidupan, laut adalah ambon dan ambon adalah laut. Perjalanan menyisir jalan utama Kota Laut Ambon adalah sebuah sensasi kehidupan baru untuk saya yang biasa hidup di sebuah kota yang jauh dari aroma pesisir.

kedatangan saya pagi ini sekitar pukul 7.00 waktu ambon, meski waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, tetapi langit masih tampak seperti pukul 06.00 pagi jika dibandingkan dengan kota Bandung. menghirup udara segar ambon yang sangat sejuk menjadi kenikmatan tersendiri saat lubang pernafasan ini menghidup senyawa O yang yang telah berubah menjadi O2.

berbagai baliho, spanduk, billboard besar yang menandakan dukungan atas SAIL BANDA 2010 pun terasa sangat di pelataran parkir bandara pattimura ambon. saya memutuskan untuk menaiki sebuah angkot dengan supir bernama pak burhan setelah saya berkenalan dengannya dalam perjalanan. perjalanan pagi di kota ambon merupakan pengalaman baru untuk saya, mengikuti jalan yang seakan menjadi bagian dari pesisir dan mentari yang baru keluar dari kelambunya memberikan kehangatan tersendiri dalam perjalanan di Kota Laut Ambon.

 

petualangan di negeri timur ini adalah petualangan sendiri yang saya dedikasikan untuk diri saya sendiri. orang-orang sering menyebutnya solo-travelling. ya , boleh saja disebut seperti itu. tetapi buat saya ini adalah perjalanan pencarian inspirasi. hmm.. sahabat, mungkin  anda pernah mengalami masa dimana anda terlalu menjadi budak atas rutinitas diri anda dan menyebabkan diri anda menjadi orang lain. percayalah, solo travelling bisa memberikan kesegaran baru dalam aktivitas anda.

perjalanan saya 3 hari di kota ambon yang belum pernah datangi sebelumnya memberikan sebuah tantangan bagi diri saya, karena saya tidak begitu mengenal daerah ini sebelumnya dan ada apa saja di kota ini. akhirnya saya memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan menyewa ojek secara harian di kota Ambon, dan menjadikan supir ojek juga merangkap sebagai pemandu saya selama perjalanan.

saya berkenalan dengan bu ronald (bu adalah panggilan untuk kakak lelaki, seperti mas, atau akang) sebagai seorang tukang ojek di daerah paso. saya dikenalkan oleh pak burhan, supir angkot yang saya naiki sebelumnya. melalui perkenalan ini, tanpa terasa saya sudah menjadi teman bagi bu ronald selama tiga hari di ambon manisee…

kota ambon adalah sebuah kota yang berkembang secara linear membentuk huruf U mengelilingi teluk ambon. keunikan dari posisi tata ruangnya antara lain; bandara dan pusat kota terletak di ujung U yang berbeda sehingga memberikan kesempatan bagi pendatang untuk bisa menikmati seluruh pantai di teluk ambon dengan tuntas. selain itu, jalan yang berbukit membuat pusat kota tepat berada di bawah bukit yang bisa dinikmati dari ketinggian. pusat kota ambon sejatinya tidak begitu besar, akan tetapi dibalik kesederhanaan ini terdapat berjuta gairah budaya timur indonesia yang sangat gemerlap.

saya berani mengatakan ini, karena sunggu saya merasakan sentuhan timur indonesia yang amat sangat manise. tiada keramahan dan ketulusan memuliakan tamu yang pernah saya rasakan sebelumnya. saya rasakan dari cara setiap orang yang saya temui memberikan sebuah sapaan hangat dan seakan-akan kita adalah saudara. tiada toleransi beragama yang saya rasakan seindah di ambon,  dalam perjalanan saya bersama bu ronald, saya selalu diberhentikan di masjid terdekat saat azan tiba. bukan saya yang meminta  untuk berhenti, akan tetapi beliau sangat paham bahwa sebagai seorang muslim saya harus sholat 5 waktu, padahal bu ronald adalah seorang nasrani yang taat. sungguh indah, dan saya menjadi bertanya tentang pemberitaan tentang konflik agama di sini, benarkah itu terjadi di dalam masyarakat yang sangat santun dan toleransi ini.

keindahan kota ambon sangat sempurna, perpaduan cantiknya alam dan mulianya para penduduk membuat ambon memang layak disandingkan dengan kata manisee. perjalanan di kota ambon memang cukup lengkap, selain pantai yang indah dengan tarian desir ombak, ambon juga memiliki berbagai bukit yang memberikan panorama spektakuler. salah satu bukit yang terkenal adalah gunung nona, dibukit ini para penikmat alam bisa melihat kota ambon dari ketinggian dan laut lepas yang membentengi ambon .

pada sisi lain kota ambon, dalam perjalanan menujudesa shoya, juga terdapat titik panorama yang sangat indah. sangat jelas terlihat bagaimana mega-mega langit beririsan dengan batas kota ambon. dalam perjalanan mendaki ke bukit-bukit di ambon, tiada lelah yang kan terasa, karena setiap langkah yang dipijak akan menghasilkan sebuah panorama baru yang tak terlupakan.

panorama siang memang seakan membuncahkan gairah petualang, tetapi jangan merasa puas dulu bila belum menikmati matahari terbenam di Kota Laut ambon Manisee. saya menikmati pemandangan mentari terbenam di atas kapal feri galalah-pokka. kapal ini memperndek jalan agar para pejalan tak perlu mengikuti jalan huruf U dan cukup memotong teluk dengan menggunakan feri pelni dengan harga yang sangat murah. buat saya perjalanan ini bukan sekedar menyebrang teluk, akan tetapi juga merupakan taman bermain untuk sepuasnya menangkap momen terbenamnya mentari dari berbagai sudut kamera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

selain menggunakan kapal feri, perjalanan menyebrangi teluk ambon ini juga bisa menggunakan sampan hanya dengan rp.1000 saja. jumlah yang sangat murah untuk transportasi dan pemandangan teluk yang sangat indah. seperti yang saya orkestrasikan sebelumnya, laut sudah menjadi bagian kehidupan ambon. masyarakat hidup, berkehidupan dan mencari penghidupan dari laut ambon yang menyimpang berjuta kekayaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

manisoo ! … satu hal lagi yang unik dari masyarakat kota ambon adalah kebanggaan mereka terhadap timnas sepakbola belanda. memang secara kultur, ada kedekatan antara belanda dan ambon. masyarakat ambon bisa sampai berpesta keliling jalan saat belanda memenangkan pertandingan. di beberapa rumah bahkan, di pasang bendera belanda sangat besar untuk menunjukkan kecintaan mereka pada orang belanda. dalam percakapan saya dengan seseorang di warung makan, beliau sangat bangga bawah van persie dan van bronkhorst memiliki keturunan darah maluku.

kedekatan ini membuat beberapa kata dalam bahasa ambon merupakan kata serapan dari belanda, seperti jalan-jalan = fakansi (vacation), terima kasih = danke. bahasa ambon lainnya yang saya pelajari antara lain ; aku = beta, kamu = ale, kita = katong, kakak lelaki = bu, kakak perempuan = usy, selamat jalan = amatoo !

nice place it is… ambon manise….

Negeri Booi


Hatonyo Beach, My own little Adventure

Akhir 2011, Saya menyempatkan diri menjelajah bagian Pulau Saparua, Maluku, yang belum pernah saya pijak. Penjelajahan ini pun dilakukan tanpa terencana, benar-benar penjelajahan impulsif saya. Siang itu saya sekedar berkunjung ke rumah teman lama saya Jimpat (twitter : @jpattia) di negeri Booi. Negeri Booi yang terletak di ujung selatan Pulau Saparua, adalah desa yang sejuk karena terletak di dataran tinggi. Saya harus memarkir mobil di pintu masuk negeri ini, karena tidak ada akses bagi kendaraan bermotor. Jalanan dalam negeri ini semuanya bertangga-tangga, seperti yang terlihat di foto di bawah.

Img_3794

Setelah ngobrol dengan jimpat, sore itu ia mengajak saya berkeliling negerinya. Menurut hitungan Jimpat, ada 536 anak tangga pada jalan utama Negeri Booi. Cukup melelahkan berkeliling negeri dengan naik turun tangga, tapi orang Booi sudah terbiasa. Saya bahkan melihat seorang nenek renta berjalan menapak anak tangga sambil meng”Keku” (membawa barang dengan cara diletakan di atas kepala) seikat kayu bakar tanpa kecapean. Kata jimpat mereka yang lahir di Booi memang terbiasa hidup seperti ini, bahkan Jimpat sendiri mengaku bisa berjalan menapaki negerinya walau dengan mata tertutup. Dari rumah Jimpat yang terletak di jantung negeri Booi, kami pun menapak turun menuju ke pantai negeri ini. Pantai Booi sedang rame karena sore itu akan diadakan lomba panggayo manggurebe (semacam lomba dayung perahu). Dari pantai negeri, Jimpat mengajak saya ke pantai Hatonyo yang terletak lebih terpencil. Tentu saja saya tak bisa menolak kesempatan yang bagus ini.

Kami Pun bergerak makin ke arah selatan dari pantai negeri, menelusuri masuk ke hutan negeri Booi. Pepohonan Cengkih, Pala, Kenari serta Durian adalah vegetasi utama dalam hutan Negeri Booi. Sayang sedang tidak musim buah, kalau tidak kami bisa menikmati durian matang yang baru dipetik dari pohonnya. Perjalanan menelusuri hutan Booi berlangsung sekitar setengah jam, dengan medan rintangan sedang. Sesampai di Pantai Hatonyo, saya langsung takjub dengan keindahan alamnya yang masih asri.  Menapak kaki di pasir putih yang tebal di Pantai ini sangat mengasikan, sangat mengundang diri untuk langsung menceburkan diri ke dalam laut. Sayangnya kami harus mengurungkan niat kami karena tidak membawa baju ganti. Pantai Hatonyo sangat bersih dari sampah, letaknya yang sulit terjamah menjaga keperawanan pantai ini. Pepohonan pun masih lebat disini sehingga kami tidak kepanasan bermain main. Kami pun menyusuri garis pantai ini dari ujung ke ujung, kira-kira sepanjang 200 meter. Tak terasa waktu sejam telah kami habiskan di pantai ini, hari pun semakin larut dan kami harus segera kembali kalau tidak mau menyusuri hutan di tengah kegelapan. Pengen kembali lagi ke pantai ini :)

 1 of 6

Pelantikan Raja Negeri Ouw


Kali ini saya bercerita sedikit mengenai pelantikan Raja Negeri Ouw. Agar pembaca tidak bingung mungkin perlu dijelaskan sedikit bahwa di Propinsi Maluku setelah jaman otonomi daerah maka penamaan desa kembali disebut “Negeri” dengan kepala pemerintahan seorang “Raja”. Hal ini dimaksudkan agar nilai nilai kearifan lokal tidak hilang tergerus dengan perkembangan jaman.

 

Layaknya sebuah kerajaan dimana penerus tahta adalah keturunan raja sebelumnya, maka demikian pula terjadi dalam pemilihan raja negeri. Calon raja terpilih minimal masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja negeri sebelumnya, atau disebut matarumah negeri. Kemudian yang memutuskan siapa raja terpilih adalah para saniri negeri, tetua-tetua adat negeri yang sehari hari membantu raja. Seorang raja memiliki masa pemerintahan 5 tahun, dan setelah itu dapat dipilih lagi. Keputusan Saniri negeri akhirnya dilegitimasi dalam SK bupati maluku tengah.

 

Bulan desember 2010 saya berkesempatan mengikuti upacara pelantikan Raja Negeri Ouw, salah satu desa binaan puskesmas tempat saya bertugas. Yang Terpilih sebagai Raja negeri Ouw periode 2010-2015 adalah bapak Simon Pelupessy. Dalam bahasa asli maluku sendiri desa ouw disebut Lisaboly Kakelisa.

 

Prosesi dimulai dengan pelantikan secara Hukum oleh Bupati maluku tengah, Abdullah Tuasikal. Surat keputusan bupati dibacakan dan kemudian raja terlantik diambil sumpah jabatannya. Acara dilanjutkan dengan jamuan makan di rumah raja negeri ouw. Setelah Acara makan-makan selesai dimulailah pelantikan raja secara adat. Rombongan raja kembali ke Baileu (rumah adat maluku) disertai tarian cakalele dari para kapitan. Acara ditutup dengan pelantikan raja secara gerejawi di gereja negeri ouw.

 

Sungguh suatu prosesi yang panjang untuk melantik seorang raja, membutuhkan waktu seharian untuk menuntaskan semua prosesi ini. Bahkan lebih rumit daripada pelantikan presiden menurut saya. Tapi itulah uniknya kebudayaan maluku ini.

 9 of 11P

Fam-Fam Dari Negeri Ouw


1.       UKU LUA.

1.1.             SOA MAYAWA:KEPALA SOA TATIPATTA

*        MARGA TATIPATTA, TEUNONYA PELATU

*        MARGA SILAHOOY, TEUNONYA SAMATOUW

*        MARGA SAHETAPY, TEUNONYA KOLESINA

*        MARGA TITAHENA SBGN, TEUNONYA SAMATOUW

*        MARGA MANUPUTTY SBGN, TEUNONYA LEPALISSA

*        MARGA AYAWAILA SBGN, TEUNONYA SOTANIA

 

1.2.              SOA SALAHITU:KEPALA SOA SAPTENNO

*        MARGA SAPTENNO, TEUNONYA LILIPALU

*        MARGA TITALEY, TEUNONYA PELATU

*        MARGA TITAHENA sbgn, TEUNONYA SAMATOUW

*        MARGA LATUSALLO, TEUNONYA MATAALU

*        MARGA AYAWAILA sbgn, TEUNONYA SOTANIA

*        MARGA SILALILY, TEUNONYA LAUKOTU

*        MARGA TONGKE, TEUNONYA SOWALA

*        MARGA LEIWAKABESSY sbgn, TEUNONYA WAKA

*        MARGA HATUPUANG, TEUNONYA-

*        MARGA LIKUBESSY, TEUNONYA-

 

2.       UKU TOLU.

2.1.             SOA SALAHALU:KEPALA SOA HUTUBESSY

*        MARGA HUTUBESSY, TEUNONYA HAPEA

*        MARGA MANUPUTTY(Wakanno), TEUNONYA PEWAKA

*        MARGA SERHALAWAN, TEUNONYA SAPASINA

*        MARGA SOPACUA, TEUNONYA LEPALISSA

*        MARGA SEILATU, TEUNONYA HAPEA

*        MARGA PIKAWALA, TEUNONYA SELANA

*        MARGA HEHAKAYA sbgn, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA TITAHENA SATU KELUARGA, TEUNONYA SAMATOUW

 

2.2.             SOA PELETIMU:KEPALA SOA SYAHAILATUA

*        MARGA SYAHAILATUA, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA TUTUPOLY, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA HEHAKAYA, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA LEIWAKABESSY sbgn, TEUNONYA WAKA

*        MARGA LAHALLO, TEUNONYA SELANNA

*        MARGA TOISUTA, TEUNONYA LEPALISSA

 

2.3.             SOA LESIAMA:KEPALA SOA LIKUMAHUA

*        MARGA LIKUMAHUA, TEUNONYA LOUHATU

*        MARGA MAKAILOPU, TEUNONYA LOUHATU

*        MARGA TOMASOA, TEUNONYA LOUHATU

*        MARGA SINANU, TEUNONYA PEHATA

*        MARGA LUMALESSIL, TEUNONYA HABAWA

*        MARGA LATUMAHINA, TEUNONYA PEMAHU

*        MARGA PELUPESSY, TEUNONYA LILSAPI

*        MARGA NOYA, TEUNONYA PALESI

*        MARGA MATULAPELWA, TEUNONYA PELOKO

*        MARGA MATULATUA, TEUNONYA PELOKO

 

Saparua, Wisata Nostalgia Turis Eropa


Benteng Duurstede, peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1676 oleh Arnold de Vlaming Van Duuds Hoorn, di Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Kamis (6/1/2011). Benteng ini jadi salah satu daya tarik wisata di Saparua.
 
SEPULUH tahun pascakonflik di Maluku, sektor pariwisata di Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, bergeliat kembali. Pulau kecil seluas 247 kilometer persegi itu tak hanya menawarkan pesona alam, tetapi juga jejak historis kedatangan bangsa Eropa di Nusantara.
Saparua, yang berjarak sekitar 50 mil dari Ambon, ibu kota Maluku, bisa dijangkau dengan kapal cepat selama satu jam dari Pelabuhan Tulehu, Maluku Tengah, di Pulau Ambon. Pulau berpenduduk 36.698 jiwa ini bersama dua pulau lain di dekatnya yang tergabung dalam gugus Pulau Lease, yaitu Haruku dan Nusa Laut, pernah menjadi primadona wisata Maluku, sebelum kerusuhan 1999. Ketua Asosiasi Agen Perjalanan Wisata Maluku, Tony Tomasoa, menceritakan, sebelum tahun 1999 itu, destinasi wisata ke Saparua bersaing dengan Pulau Banda – ikon wisata lainnya di kepulauan rempah-rempah Maluku. Dua lokasi ini selalu menjadi rujukan bagi wisatawan yang berlibur ke Maluku. Saparua, yang dikelilingi Laut Banda, menawarkan keindahan melalui pantai-pantainya. Mulai dari pantai berpasir putih, seperti pantai di samping Benteng Duurstede dan Kulur, hingga pantai yang dipenuhi batu karang, yaitu Tanjung Ouw. Indahnya Tanjung Ouw bahkan diabadikan melalui lagu berjudul ”Tanjung Ouw” yang dipopulerkan penyanyi Bob Tutupoly. Di tempat ini keteduhan menyambut pengunjung. Wisatawan biasanya menghabiskan waktu di Tanjung Ouw dengan bersantai menikmati keindahan karang yang panjang atau berenang di laut yang jernih. Berselonjor di bawah pohon kelapa semakin terasa nikmat saat semilir angin menerpa. Tidak jauh dari Tanjung Ouw, wisatawan bisa melihat kepiawaian Oya Pelupessy (72) mengolah tanah liat menjadi sempeh atau gerabah. ”Turis senang melihat pembuatan sempeh. Tidak sedikit dari mereka yang mencoba membuat sendiri,” kata Oya. Buku tamu yang dimilikinya menunjukkan banyaknya wisatawan asal Belanda, Inggris, dan Swiss yang berkunjung ke sana. Tak sebatas di permukaan, bawah laut Saparua pun memiliki pesona yang memukau. Menurut pengelola Mahu Village Lodge di Desa Mahu, Paul Tomasoa, setidaknya ada enam titik penyelaman yang digemari turis. Misalnya, di Tawaka, sekitar Pulau Molana, dan sekitar Nusa Laut. ”Terumbu karangnya bertingkat. Selain itu, ikan beraneka jenis bisa ditemukan di sana. Sering kali ikan-ikan itu seperti berbaris membentuk formasi bertingkat,” tuturnya. Peninggalan sejarah Saparua juga sarat peninggalan sejarah. Benteng Duurstede, benteng peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1676, adalah salah satunya. Benteng yang ada di bukit setinggi 20 kaki ini masih berdiri kokoh. Kapitan Pattimura yang bernama asli Thomas Matulessy mengusir penjajah Belanda dari benteng ini tanggal 16 Mei 1817. Dari atas benteng itu, pengunjung bisa melihat hampir seluruh Pulau Saparua hingga Pulau Nusa Laut yang berada di sebelah timur Saparua. Tak heran, jika benteng ini ”diburu” turis asing. Di rumah yang pernah ditempati Pattimura, di Negeri Haria, pengunjung bisa melihat peninggalan sang kapitan. Di bangunan yang masih didiami keluarga Matulessy ini, terpajang celana tenun, selempang tenun, dan ikat kepala yang semuanya berwarna merah, yang pernah dikenakan Pattimura saat berjuang melawan Belanda. Sejumlah dokumen bercerita tentang perjuangan Pattimura. Menurut pihak keluarga, semua itu diperoleh dari Belanda. Camat Saparua, Ferry Siahaya, mengatakan, lima tahun terakhir ini kunjungan ke Saparua relatif membaik. ”Rata-rata kunjungan turis asing di Saparua sekitar 20 orang setiap bulan. Bulan Desember, jumlahnya bisa meningkat menjadi 50-an orang,” katanya. Mayoritas turis asing berasal dari Belanda, terutama yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan warga di Saparua. ”Ada juga yang berasal dari Inggris, Perancis, Swiss, dan Amerika Serikat,” papar Ferry. ”Keluarga dari Belanda kebanyakan datang pada bulan Desember. Natal menjadi momen berkumpul dengan keluarga di perantauan, termasuk yang di Belanda,” kata Raja Negeri Itawaka, LF Wattimena. Meski demikian, baru Desember 2010 lalu Negeri Itawaka menggelar perayaan Natal sedunia. Saat itu, ada 30 warga negara Belanda yang datang. Menurut Wattimena, ikatan satu gandong atau satu kandunganlah yang merekatkan hubungan mereka, meski terpisah jarak dan status kewarganegaraan. Tren meningkatnya jumlah wisatawan ini bisa jadi karena lebih mudahnya Saparua diakses dari Ambon. ”Beroperasinya kapal cepat dengan daya tampung sekitar 200 penumpang mendorong turis datang ke Saparua. Kapal yang beroperasi sejak tahun lalu itu dua kali sehari dari Ambon,” ujar Ferry. Selain itu, ada pula penerbangan langsung dari Amsterdam, Belanda, ke Ambon, via Jakarta, yang dioperasikan Garuda Indonesia sejak pertengahan tahun lalu. Pertengahan tahun lalu pula, pemerintah juga melakukan promosi yang cukup gencar terkait Festival Duurstede di Benteng Duurstede dan Sail Banda di Maluku. Ini tentunya menjadi salah satu pendongkrak peningkatan jumlah wisatawan ke pulau kecil itu. Tak perlu heran jika kini bermunculan penginapan baru di sana. Dua dari lima penginapan yang sempat berhenti beroperasi akibat kerusuhan, kini juga beroperasi kembali. ”Rencananya, akan ada dua lagi penginapan dalam waktu dekat,” papar Ferry. Paul Tomasoa optimistis, ke depan pariwisata Saparua akan pulih, seperti sebelum kerusuhan 1999. Namun, dia mengingatkan, geliat pariwisata yang kini sudah terasa itu harus diikuti perbaikan sumber daya manusia dan penambahan fasilitas penunjang bagi wisatawan. ”Tanpa perbaikan, promosi yang gencar yang dilakukan bisa jadi bumerang, karena ternyata kondisi di Saparua tidak sama dengan yang dipromosikan,” kata Paul lagi. Robbie Pickering (30), turis asal Inggris yang sedang berwisata di Saparua, menyatakan hal serupa. ”Tempat seperti Saparua banyak dicari turis Eropa saat ini. Sebab, di sana sedang musim dingin, sedangkan di Saparua udaranya lebih panas dan bisa melihat matahari setiap hari. Tapi, dengan minimnya fasilitas, turis bisa mencari tempat lain yang fasilitasnya lebih baik,” katanya.

Sejarah Bangsa Alifuru


Sejarah Alif’uru

Daerah pemerintahan selama Kerajaan Nunu Saku berdiridilanjutkan dalam Kerajaan Sahulau, (kedua kerajaanini mempunyai daerah pemerintahan yang sama) yaitu:sebelah utara dinamakan “Hono Ulu / Uru”,sebelah timur “Hua Ulu / Uru”,sebelah selatan “Nua Ulu / Uru” atau “Na Ulu/ Uru” dansebelah barat “Bere Ulu / Uru”, yang kini dikenalndengan nama “Buru”.Orang-orang Alif’uru ini dikenal didunia luar padawaktu itu dengan nama Ina/In(i)a (Pesulima 42-44)Kerajaan Nunu Saku lenyap dan tidak dapat berfungsilagi, disebabkan oleh malapetaka yang maha dasyat yangmenimpua Nusa El Hak seperti keadaan yang dikemukakanoleh geolog William Haxby atau oleh “air baha” menurutversi Alkitab.Runtuhnya Kerajaan ini sesuai pula dengan TeoriRuntuhnya suatu Negara dan atau Kerajaan (Ilmu NegaraUmum dan Indonesia, Prof. Dr. C.S.T.Kansil, S.H:Christine S.T.Kansil, S.H., M.H, halaman 34-35).Tetapi yang jelas bahwa “Lamuri” / “Lemuria” atau yangdisebut dalam Kapata-Kapata tua : “El Muria” atau “ElMulia”, adalah sisa peninggalan benua Mu yang amatluas (Op.cit).Dalam kehidupan dari Bangsa Alif’uru INA, ada 2 (dua)Generasi yang biasa disebut “SiwaLima”.Generai 1 (Pertama) disebut PATASIWA yang terdiri dari9 (sembilan ) keturunan.Generasi II (Kedua) disebut PATALIMA yang terdiri dari5 (lima) Keturunan.Datuk leluhur kita menceritakan kejadian-kejadian yangterjadi (yang mereka alami dan rasakan) itu melualuKapatakapata, walaupun tidak dijelaskan tanggal, bulanatau tahun.Kapata itu berasal dari kata “KAPA PATA TITA”.Kapa mempunyai arti :”Puncak Gunung yang berbentuktajam seperti jari terlunjuk ke langit”.Pata, artinya :”Diputuskan secara difinitif dan takdapat dirobah”, sedangkan “Tita” mempunyai arti :”Sabda”, ucapan tegas.Kapa Pata Tita, artinya : “Ucapan-ucapan tegas yangtak dapat dirubah, yang naik keatas sebagai gunungberpuncak tombak tertuju ke Allah”,Ucapan-ucapan yang suci dan mempunyai kekuatan yangdirahasiakan. Dan sebagian terbesar daripada Kapatakapata mempunyai lebih daripada dua arti dansewaktu-sewaktu mempunyai tiga pengertian(Boulan/Syauta, 25).Dari Kapata-Kapata Tua yang berikut mempunyai matarantai yang menghubungkan dengan Nuh, : “HUA MU ALE”,demikian bunyinya :01. “HUA MU ALE”, artinya : “Penampilan (benua) MUsewaktu Allah turun ke ruang lingkup hidup di sekitarkita”.02. “NETE NUSAN JADI LOTEMENA”, artinya : “Timbunantanah yang meluas (menjadi) besar”.03. “NUNU SAKU JADI WAA HALE MULI”, artinya :”Sewaktuair surut menjadikan berikut Nunu Saku”.04. “SEI REWA TANUSAN JADI YANA MENA O”, artinya:”Siapa yang tahu tanusang berbentuk (bisa jadi) yangsebelumnya” (adalah anak nusang).05. “SEI ULI NOHO DUME ROLA IKA KANIKE”, artinya:”Siap Rumpun Rumah Nuh yang ada berkumpulbersama-sama”.06. “LOYOTA WAI ELA ROLA MESE MESE”, artinya:”Gelombang besar-besar yang kuat-kuat”(EmeEse=Berkuasa).07. “SINGGE TURU HUA MU ALE-LUHU WATA SIMOLALI”,artinya: “Sampai tenggelamkan permukaan (benua) Muyang asli”. Kapata ini mengkisahkan kejadian air bah pada zamanNuh. Disini disebut Noho, mungkin nama aslinya NUHU.Pada ketika itu benua Mu, tempat kediaman merekahilang dari permukaan air. Kemudian mereka kandasdiatas himpunan tanah yang nampaknya kecil diataspermukaan air (laut), tetapi yang menjadi semakinbesar (dengan surutnya air laut), dan akhirnya menjadiNunu Saku. (Op.Cit.56).Dalam Kapata-Kapata tua yang berikut ini membuktikanbahwa gunung-gunung tinggi diseluruh kolong langit initergenang air laut. Menurut Alkitab Kejadian 7:20, AirBah itu setinggi 15 hasta atau 6.75 meter, sehinggasiang hari malam tertimbun air laut, yang disampaikandalam kapata-kapata tuanya sebagai berikut :01. HENA MASA WAYA WAIYA LETE HUNI MU A O “, artinya :”Negeri di tempat-tempat kediaman kita yang tinggi diMU, siang malam tertimbun air”.02. “YURI TASI BEA SALA NE KOTIKA O”, artinya : “Biladiusut asal usul kita semua orang-tidak salah ketikaitu”.03. “A OLEH RUMA O RUMA SINGGI SOPA O”, artinya:”Rumah kita turun temurun bertingkat tinggi asli”.04. “O PAUNE ITE KIBI RATU HIRA ROLI O”, artinya :”Kita semua tanpa kecuali sama saja seperti Raja”.05. “HENA MASA WAIYA LETE HUNI MU A O” artinya :”Negeri kita yang tinggi di MU siang hari malamtertimbun air”.06. “YURI TASI BEA SALA NE KOTIKA O”, artinya : “Biladiusut asal usul kita semua orang-tidak salah ketikaitu”.07. “BUANG E MU LABUANG E !”, artinya : “Labuh manatempat berlabuh di MU !”.08. “HASA HASA PULU MU LABUANG”, artinya :”Berlayarlah dekat dekat pantai pulau MU-jangan yangsatu jauh dari yang lain dibawa pimpinan yangtunggal”.09. “TANJONG E TENGO TANJONG E”, artinya : “Tanjong-edimana ada tanjong e”10. “HASA HASA SOKI TENGO TANJONG”, artinya :”Berlayar dekat dekat pantai sedikit lagi sudahkelihatan tanjong”.11. “WELE WELE YO YURI WELE WELE YO”, artinya : “Yaombak-ombak ! kita semua diatas ombak”.12. “YA YAKI HITI UMA LETE SOPU YO”, artinya : “Yangmemecah terangkat tinggi setinggi rumah tinggi yangkita puja itu”.13. “WAYA TUTU HITU O !”, artinya : “Timbunan airmenutup tujuh rumah turun temurun yang asli o !”. Kapata-kapata ini mengkisahkan kembali air bah padazaman Nuh, tentang negeri-negeri di daratan/datarantinggi benua MU (benua yang hilang) dimana siang harimalam tertimbun air laut. Kapata ini mengkisahkantempat mereka dimana terdapat rumah-rumah didaratan/dataran tinggi tenggelam, dapat kitabayangkan, cocok dengan uraian geolog William Haxbyyang dikemukakan oleh Marcia Bartusiak dan peta bumi268 juta tahun sebelum masehi menunjukkan benua yanghilang tersebut.Mengenai Nuh terdapat juga dalam kapata kapata Tuayang berbunyi demikian :”Maanusa Manu Wei, Latu Pohon ee, Latu Selan eee, LatuAna Mena ee”. artinya : “Pusat pertengahan bumi ini,mulai dari Raja Pohon Pertengahan (Latu Pohon ee =ialah Nuh), terus ke Raja-Raja turun temurun (LatuSelan ee) sampai kini dengan memulai dari anak-anakRaja yang sulung (Latu Ana Mena ee)”.Maa = Pertengahan, Nusa = Tanah kering(pulau/benua/bumi). Manu = Sesuatu yang berharga darilangit / burung / ayam yang melambangkan kehidupanatau yang hidup, Wei = Terbagi-bagi / terpecah-pecah /berhamburan keseluruh dunia (bumi).Dalam Kapata-kapata Tua sesuai tradisi lisan yangmasih ada tentang tempat dimana bahtera Nuh kandas,adalah daerah Nunusaku yang disebut oleh mereka gunung”ARA”. Kapata-kapata selanjutnya menyebut sebagai”Thene Selano” atau “Thene Serano”, yang berarti yangmula pertama muncul atau yang mula pertama kering.Jejak pertama yang dibuat oleh Nuh dinamakan “MaaNusa”.Maanusa Manu Wei artinya “Pusat Pertengahan Bumidimana Manusia (Bangsa Alif’uru keturunan PatasiwaPatalima = Siwalima yang adalah bangsa INA umat Allah/ yang hidup bersama Allah) tercerai beraikesekeliling permukaan bumi”…..(Pesulima 119).Sela berarti “Berdiam / Beristirahat / Berhenti”Manusela menunjukkan tempat dimana Nuh sebagai manusiayang hidup dengan Allah (Saleh Hua) sudah datang untukberdiam dan beristirahat.Kapata-kapata Tua dari Nunu Saku , “NUH” digambarkansebagai pemimpin rakyat yang pertama dari orangAlif’uru sesudah air bah. Mereka menyebutnya : ” MU -ENG ELHAK” atau “MUENG EL(H)AK” artinya : “MU” =tempat asal / pusat tempat tinggal dari Manu = Ayam =Lambang kehidupan dari manusia + ENG = “Penganjur /Pemimpin / Pelindung / Penghentar / Pelayan;”EL” = Allah; “HAK” = Agung / Besar / Penuh Kuasa.Jadi “MU ENG EL(H)AK” mempunyai arti secarakeseluruhan ialah : “Penganjur / Pemimpin / Pelayandari Allah yang Maha Besar dan Maha Kuasa / Perkasabagi umat manusia, ditempat (dibumi) dimana ia berada(berdiam) (Pesulima, 8).Seorang Mu Eng EL Hak dialah yang menguasai / menguruskepentingan manusia (Alif’uru = Siwa Lima) mau secarabadani / lahiriah pun secara rohaniah / agamaniah.Oleh sebab itu, seorang Mu Eng EL Hak mempunyai 3(Tiga) fungsi dalam dirinya, ialah : “Raja”, “Imam”dan “Nabi”. Dikemudian hari, sesudah pembentukan kerajaan Sahulau,maka fungsi-fungsi ini telah dipecahkan menjadi duabahagian, untuk 2 (Dua) orang ialah :01. Upu Latu / Upu Latu Kabasaran.02. Mueng-Mueng Kerajaan, bukan lagi MUENG ELHAK.Upu Latu / Upu Latu Kabasaran memegang kekuasaan atasbidang duniawiah, sedangkan Mueng-Mueng Kerajaanmemegang kekuasaan atas bidang rohaniah, yangberhubungan dengan Upu El / Elo / Eli Lanit ee, UpuKahuresi Leha Banua / Buwana.Bangsa Alif’uru adalah orang-orang yang pertama yangmendiami Nusa El Hak.Dalam bahasa tua Nunusaku Ucapan-ucapan dari bangsaAlif’uru terkenal antara lain “0-Loa Nusa Hiti Nusa,Solo Hua eee Maun eeel”, artinya : “Turun pulau atauturun pulaukah dengan Allah atau sejahtera Allah tetapbeserta / menyertai kita”.Sesudah runtuhnya kerajaan Nunu Saku dengan ibukotaNunu Saku disebabkan bencana alam yang maha dahsyatmaka banga Alif’uru mulai membangun kembali ibukotadan kota-kota, negeri-negeri, atau pemukiman yangbaru. Mereka menyusun kembali suatu strukturkehidupan masyarakat dan tata pemerintahan yang baru.Perpecahan pada induk Nunusaku menyebabkan Tiga Latuturun masing-masing :01. Latu Polanunu, menyusuri batang air Eti.02. Latu Pasanea, menyusuri batang air Sapalewa.03. Latu Tomatala, menyusuri batang air Tala.Sedangkan Latu Kapitan Besar tinggal menjaga kebesaranNunusaku sampai hari ini.Perpecahan ini melangkah terus dengan suku Ainu dariAinuwele yang berlayar ke timur terakhir singgah diJepang yang menjadi suku asli bangsa Jepang sekarang.Teno Heka merupakan seorang tokoh Jepang sebagai dewayang sebenarnya adalah Teono Heka atau Teon Heka yangmerupakan salah satu Teon mata rumah yang hilang diMaluku dari bangsa Alif’uru sampai hari ini.Mereka keluar dengan membawa semua pusakanya yangdipuja sampai hari ini di Jepang antara lain bulansabit.Kesamaan besar terdapat pada cawat yang dipakai danbahasa yang berdisiplin sama dengan bahasa bangsaAlif’uru.Bahasa yang dipakai oleh Bangsa Alif’uru, ada 2 (Dua)Golongan Besar yaitu : Bahasa ALUNE (Alif’uru Gunung);dan Bahasa WEMALE (Alif’uru Pantai). Bahasa Wemalekemudian mengalami perubahan-perubahan, sesuai denganPerpecahan Kerajaan Sahulau menjadi Kerajaan-KerajaanKecil dan atau Negeri-Negeri Kecil dengan Bahasamasing-masing yang berjumlah diatas 100 (Seratus)macam, namun tetap memiliki disiplin dan atau pangkalbahasa yang sama.Sejarah perjalanan perahu Belang yang pada umumnyamerupakan kapal tua bangsa Maluku bisa mencapaiSkandinavia yang terkenal dengan bangsa Viking(Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark) yang memakaiarumbai kepala nagga, ekor naga pada belakang perahudan memakai layar seram (Layar segi empat).Disamping itu mereka memakai topi perang yangmempunyai tanduk ujung dua dikepala melambangkanbangsa Ina yang ada di Maluku (Topi bertanduk tigabangsa Inama, bertanduk satu bangsa Ama). Bangsa Amadapat dilihat pada keturunan Cina yang keluarberperang dengan topi tanduk satu.Dipulau Seram atau Nusa Ina yang merupakan indukperpecahan terdapat Inama yang memakai topi bertanduktiga.Batavia adalah nama Jakarta yang diberikan oleh JanPieterzoon Coen mengingatkan moyang mereka yangterkenal sebagai laki-laki perkasa yang berkelahi dariEropa Utara (Skandinavia) sampai ke Jerman. Bataviadiambil dari kata Batavier atau Batafur atau Batafuruyang merupakan seorang saudara laki-laki Alif’uru yangputih yang berlayar jauh dengan arumbai belangmeninggalkan Nusa Ina menuju ke suatu tempat yangsegala sesuatunya putih (waktu itu terjadi musimsalju).Bangsa Alif’uru merupakan suatu bangsa induk yang tuasekali yang tidak dapat dibohongi dengan pembuktianyang ada di alam. Sebab manusia dengan segalakepandaiannya dapat memutar balikkan segala fakta yangada dibumi sesuai jaman dan kekuasaannya, tetapi alamtidak pernah berbohong. Salam Alifuru Satu Darah!

Kapitan Pattimura


 

Thomas Matulessy Pattimura

Thomas Matulessy alias Pattimura Pahlawan Maluku sebelum menaiki tiang gantungan dia berkata: “..beta akan mati … tetapi nanti akan bangkit pattimura-pattimura muda, yang akan meneruskan beta punya perjuangan…”

Thomas Matulessy Pattimura

Patung Pattimura

Thomas Matulessy digantung pada tempat ini, yang sekarang disebut Lapangan Merdeka, dan dijadikan Taman Pattimura (Pattimura Park).

Prasasti Thomas Matulessy Pattimura Lapangan Merdeka

Prasasti Pattimura Pada Taman Pattimura, Lapangan Merdeka

Ada Kontraversi tentang tempat kelahiran Kapitan Pattimura, ada yang mengatakan di Negeri Hualohi, Seram Selatan tetapi banyak yang menyebutkan lahir di Negeri Haria, Porto, Pulau Saparua. Tapi yang jelas Kapitan Lahir di Maluku, 8 Juni 1783 dan meninggal di Ambon,Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun, atau dikenal dengan nama Thomas Matulessy atau Thomas Matulessia, adalah Pahlawan Nasional Indonesia. Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarir dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris.

Pattimura adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina Silahoi. Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

Menurut Sejarawan Mansyur Suryanegara, leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti. Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan “kapitan” yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

 

Thomas Matulessy Pattimura

 

Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris. Kata “Maluku” berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja. Mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menerapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahn dinas militer ini dipaksakan.

Thomas Matulessy Pattimura

Patung Pattimura, Siang Hari

Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya.

Thomas Matulessy Pattimura

Patung Pattimura, Malam Hari

Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.

Thomas Matulessy Pattimura

Di Bawah Sinar Bulan

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan.

Thomas Matulessy Pattimura

Thomas Matulessy – Pattimura
Pahlawan Maluku

Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN” oleh pemerintah Republik Indonesia…… Pahlawan Nasional Indonesia. Ketuhanan yang maha esa Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan kemerdekaan bagi seluruh rakyat indonesia.