Ambon Manise, Maluku


Bukan berlebihan bila terminologi kota laut dilekatkan pada ibukota Maluku ini. Jalan utama yang selalu berbatasan dengan laut memberikan sebuah sensasi alam yang tiada terbendung. Seakan-akan Ambon adalah atlantis di dunia modern. Penduduk dan laut sudah menjadi bagian kehidupan, laut adalah ambon dan ambon adalah laut. Perjalanan menyisir jalan utama Kota Laut Ambon adalah sebuah sensasi kehidupan baru untuk saya yang biasa hidup di sebuah kota yang jauh dari aroma pesisir.

kedatangan saya pagi ini sekitar pukul 7.00 waktu ambon, meski waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, tetapi langit masih tampak seperti pukul 06.00 pagi jika dibandingkan dengan kota Bandung. menghirup udara segar ambon yang sangat sejuk menjadi kenikmatan tersendiri saat lubang pernafasan ini menghidup senyawa O yang yang telah berubah menjadi O2.

berbagai baliho, spanduk, billboard besar yang menandakan dukungan atas SAIL BANDA 2010 pun terasa sangat di pelataran parkir bandara pattimura ambon. saya memutuskan untuk menaiki sebuah angkot dengan supir bernama pak burhan setelah saya berkenalan dengannya dalam perjalanan. perjalanan pagi di kota ambon merupakan pengalaman baru untuk saya, mengikuti jalan yang seakan menjadi bagian dari pesisir dan mentari yang baru keluar dari kelambunya memberikan kehangatan tersendiri dalam perjalanan di Kota Laut Ambon.

 

petualangan di negeri timur ini adalah petualangan sendiri yang saya dedikasikan untuk diri saya sendiri. orang-orang sering menyebutnya solo-travelling. ya , boleh saja disebut seperti itu. tetapi buat saya ini adalah perjalanan pencarian inspirasi. hmm.. sahabat, mungkin  anda pernah mengalami masa dimana anda terlalu menjadi budak atas rutinitas diri anda dan menyebabkan diri anda menjadi orang lain. percayalah, solo travelling bisa memberikan kesegaran baru dalam aktivitas anda.

perjalanan saya 3 hari di kota ambon yang belum pernah datangi sebelumnya memberikan sebuah tantangan bagi diri saya, karena saya tidak begitu mengenal daerah ini sebelumnya dan ada apa saja di kota ini. akhirnya saya memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan menyewa ojek secara harian di kota Ambon, dan menjadikan supir ojek juga merangkap sebagai pemandu saya selama perjalanan.

saya berkenalan dengan bu ronald (bu adalah panggilan untuk kakak lelaki, seperti mas, atau akang) sebagai seorang tukang ojek di daerah paso. saya dikenalkan oleh pak burhan, supir angkot yang saya naiki sebelumnya. melalui perkenalan ini, tanpa terasa saya sudah menjadi teman bagi bu ronald selama tiga hari di ambon manisee…

kota ambon adalah sebuah kota yang berkembang secara linear membentuk huruf U mengelilingi teluk ambon. keunikan dari posisi tata ruangnya antara lain; bandara dan pusat kota terletak di ujung U yang berbeda sehingga memberikan kesempatan bagi pendatang untuk bisa menikmati seluruh pantai di teluk ambon dengan tuntas. selain itu, jalan yang berbukit membuat pusat kota tepat berada di bawah bukit yang bisa dinikmati dari ketinggian. pusat kota ambon sejatinya tidak begitu besar, akan tetapi dibalik kesederhanaan ini terdapat berjuta gairah budaya timur indonesia yang sangat gemerlap.

saya berani mengatakan ini, karena sunggu saya merasakan sentuhan timur indonesia yang amat sangat manise. tiada keramahan dan ketulusan memuliakan tamu yang pernah saya rasakan sebelumnya. saya rasakan dari cara setiap orang yang saya temui memberikan sebuah sapaan hangat dan seakan-akan kita adalah saudara. tiada toleransi beragama yang saya rasakan seindah di ambon,  dalam perjalanan saya bersama bu ronald, saya selalu diberhentikan di masjid terdekat saat azan tiba. bukan saya yang meminta  untuk berhenti, akan tetapi beliau sangat paham bahwa sebagai seorang muslim saya harus sholat 5 waktu, padahal bu ronald adalah seorang nasrani yang taat. sungguh indah, dan saya menjadi bertanya tentang pemberitaan tentang konflik agama di sini, benarkah itu terjadi di dalam masyarakat yang sangat santun dan toleransi ini.

keindahan kota ambon sangat sempurna, perpaduan cantiknya alam dan mulianya para penduduk membuat ambon memang layak disandingkan dengan kata manisee. perjalanan di kota ambon memang cukup lengkap, selain pantai yang indah dengan tarian desir ombak, ambon juga memiliki berbagai bukit yang memberikan panorama spektakuler. salah satu bukit yang terkenal adalah gunung nona, dibukit ini para penikmat alam bisa melihat kota ambon dari ketinggian dan laut lepas yang membentengi ambon .

pada sisi lain kota ambon, dalam perjalanan menujudesa shoya, juga terdapat titik panorama yang sangat indah. sangat jelas terlihat bagaimana mega-mega langit beririsan dengan batas kota ambon. dalam perjalanan mendaki ke bukit-bukit di ambon, tiada lelah yang kan terasa, karena setiap langkah yang dipijak akan menghasilkan sebuah panorama baru yang tak terlupakan.

panorama siang memang seakan membuncahkan gairah petualang, tetapi jangan merasa puas dulu bila belum menikmati matahari terbenam di Kota Laut ambon Manisee. saya menikmati pemandangan mentari terbenam di atas kapal feri galalah-pokka. kapal ini memperndek jalan agar para pejalan tak perlu mengikuti jalan huruf U dan cukup memotong teluk dengan menggunakan feri pelni dengan harga yang sangat murah. buat saya perjalanan ini bukan sekedar menyebrang teluk, akan tetapi juga merupakan taman bermain untuk sepuasnya menangkap momen terbenamnya mentari dari berbagai sudut kamera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

selain menggunakan kapal feri, perjalanan menyebrangi teluk ambon ini juga bisa menggunakan sampan hanya dengan rp.1000 saja. jumlah yang sangat murah untuk transportasi dan pemandangan teluk yang sangat indah. seperti yang saya orkestrasikan sebelumnya, laut sudah menjadi bagian kehidupan ambon. masyarakat hidup, berkehidupan dan mencari penghidupan dari laut ambon yang menyimpang berjuta kekayaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

manisoo ! … satu hal lagi yang unik dari masyarakat kota ambon adalah kebanggaan mereka terhadap timnas sepakbola belanda. memang secara kultur, ada kedekatan antara belanda dan ambon. masyarakat ambon bisa sampai berpesta keliling jalan saat belanda memenangkan pertandingan. di beberapa rumah bahkan, di pasang bendera belanda sangat besar untuk menunjukkan kecintaan mereka pada orang belanda. dalam percakapan saya dengan seseorang di warung makan, beliau sangat bangga bawah van persie dan van bronkhorst memiliki keturunan darah maluku.

kedekatan ini membuat beberapa kata dalam bahasa ambon merupakan kata serapan dari belanda, seperti jalan-jalan = fakansi (vacation), terima kasih = danke. bahasa ambon lainnya yang saya pelajari antara lain ; aku = beta, kamu = ale, kita = katong, kakak lelaki = bu, kakak perempuan = usy, selamat jalan = amatoo !

nice place it is… ambon manise….

Negeri Booi


Hatonyo Beach, My own little Adventure

Akhir 2011, Saya menyempatkan diri menjelajah bagian Pulau Saparua, Maluku, yang belum pernah saya pijak. Penjelajahan ini pun dilakukan tanpa terencana, benar-benar penjelajahan impulsif saya. Siang itu saya sekedar berkunjung ke rumah teman lama saya Jimpat (twitter : @jpattia) di negeri Booi. Negeri Booi yang terletak di ujung selatan Pulau Saparua, adalah desa yang sejuk karena terletak di dataran tinggi. Saya harus memarkir mobil di pintu masuk negeri ini, karena tidak ada akses bagi kendaraan bermotor. Jalanan dalam negeri ini semuanya bertangga-tangga, seperti yang terlihat di foto di bawah.

Img_3794

Setelah ngobrol dengan jimpat, sore itu ia mengajak saya berkeliling negerinya. Menurut hitungan Jimpat, ada 536 anak tangga pada jalan utama Negeri Booi. Cukup melelahkan berkeliling negeri dengan naik turun tangga, tapi orang Booi sudah terbiasa. Saya bahkan melihat seorang nenek renta berjalan menapak anak tangga sambil meng”Keku” (membawa barang dengan cara diletakan di atas kepala) seikat kayu bakar tanpa kecapean. Kata jimpat mereka yang lahir di Booi memang terbiasa hidup seperti ini, bahkan Jimpat sendiri mengaku bisa berjalan menapaki negerinya walau dengan mata tertutup. Dari rumah Jimpat yang terletak di jantung negeri Booi, kami pun menapak turun menuju ke pantai negeri ini. Pantai Booi sedang rame karena sore itu akan diadakan lomba panggayo manggurebe (semacam lomba dayung perahu). Dari pantai negeri, Jimpat mengajak saya ke pantai Hatonyo yang terletak lebih terpencil. Tentu saja saya tak bisa menolak kesempatan yang bagus ini.

Kami Pun bergerak makin ke arah selatan dari pantai negeri, menelusuri masuk ke hutan negeri Booi. Pepohonan Cengkih, Pala, Kenari serta Durian adalah vegetasi utama dalam hutan Negeri Booi. Sayang sedang tidak musim buah, kalau tidak kami bisa menikmati durian matang yang baru dipetik dari pohonnya. Perjalanan menelusuri hutan Booi berlangsung sekitar setengah jam, dengan medan rintangan sedang. Sesampai di Pantai Hatonyo, saya langsung takjub dengan keindahan alamnya yang masih asri.  Menapak kaki di pasir putih yang tebal di Pantai ini sangat mengasikan, sangat mengundang diri untuk langsung menceburkan diri ke dalam laut. Sayangnya kami harus mengurungkan niat kami karena tidak membawa baju ganti. Pantai Hatonyo sangat bersih dari sampah, letaknya yang sulit terjamah menjaga keperawanan pantai ini. Pepohonan pun masih lebat disini sehingga kami tidak kepanasan bermain main. Kami pun menyusuri garis pantai ini dari ujung ke ujung, kira-kira sepanjang 200 meter. Tak terasa waktu sejam telah kami habiskan di pantai ini, hari pun semakin larut dan kami harus segera kembali kalau tidak mau menyusuri hutan di tengah kegelapan. Pengen kembali lagi ke pantai ini :)

 1 of 6

Pelantikan Raja Negeri Ouw


Kali ini saya bercerita sedikit mengenai pelantikan Raja Negeri Ouw. Agar pembaca tidak bingung mungkin perlu dijelaskan sedikit bahwa di Propinsi Maluku setelah jaman otonomi daerah maka penamaan desa kembali disebut “Negeri” dengan kepala pemerintahan seorang “Raja”. Hal ini dimaksudkan agar nilai nilai kearifan lokal tidak hilang tergerus dengan perkembangan jaman.

 

Layaknya sebuah kerajaan dimana penerus tahta adalah keturunan raja sebelumnya, maka demikian pula terjadi dalam pemilihan raja negeri. Calon raja terpilih minimal masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja negeri sebelumnya, atau disebut matarumah negeri. Kemudian yang memutuskan siapa raja terpilih adalah para saniri negeri, tetua-tetua adat negeri yang sehari hari membantu raja. Seorang raja memiliki masa pemerintahan 5 tahun, dan setelah itu dapat dipilih lagi. Keputusan Saniri negeri akhirnya dilegitimasi dalam SK bupati maluku tengah.

 

Bulan desember 2010 saya berkesempatan mengikuti upacara pelantikan Raja Negeri Ouw, salah satu desa binaan puskesmas tempat saya bertugas. Yang Terpilih sebagai Raja negeri Ouw periode 2010-2015 adalah bapak Simon Pelupessy. Dalam bahasa asli maluku sendiri desa ouw disebut Lisaboly Kakelisa.

 

Prosesi dimulai dengan pelantikan secara Hukum oleh Bupati maluku tengah, Abdullah Tuasikal. Surat keputusan bupati dibacakan dan kemudian raja terlantik diambil sumpah jabatannya. Acara dilanjutkan dengan jamuan makan di rumah raja negeri ouw. Setelah Acara makan-makan selesai dimulailah pelantikan raja secara adat. Rombongan raja kembali ke Baileu (rumah adat maluku) disertai tarian cakalele dari para kapitan. Acara ditutup dengan pelantikan raja secara gerejawi di gereja negeri ouw.

 

Sungguh suatu prosesi yang panjang untuk melantik seorang raja, membutuhkan waktu seharian untuk menuntaskan semua prosesi ini. Bahkan lebih rumit daripada pelantikan presiden menurut saya. Tapi itulah uniknya kebudayaan maluku ini.

 9 of 11P

Fam-Fam Dari Negeri Ouw


1.       UKU LUA.

1.1.             SOA MAYAWA:KEPALA SOA TATIPATTA

*        MARGA TATIPATTA, TEUNONYA PELATU

*        MARGA SILAHOOY, TEUNONYA SAMATOUW

*        MARGA SAHETAPY, TEUNONYA KOLESINA

*        MARGA TITAHENA SBGN, TEUNONYA SAMATOUW

*        MARGA MANUPUTTY SBGN, TEUNONYA LEPALISSA

*        MARGA AYAWAILA SBGN, TEUNONYA SOTANIA

 

1.2.              SOA SALAHITU:KEPALA SOA SAPTENNO

*        MARGA SAPTENNO, TEUNONYA LILIPALU

*        MARGA TITALEY, TEUNONYA PELATU

*        MARGA TITAHENA sbgn, TEUNONYA SAMATOUW

*        MARGA LATUSALLO, TEUNONYA MATAALU

*        MARGA AYAWAILA sbgn, TEUNONYA SOTANIA

*        MARGA SILALILY, TEUNONYA LAUKOTU

*        MARGA TONGKE, TEUNONYA SOWALA

*        MARGA LEIWAKABESSY sbgn, TEUNONYA WAKA

*        MARGA HATUPUANG, TEUNONYA-

*        MARGA LIKUBESSY, TEUNONYA-

 

2.       UKU TOLU.

2.1.             SOA SALAHALU:KEPALA SOA HUTUBESSY

*        MARGA HUTUBESSY, TEUNONYA HAPEA

*        MARGA MANUPUTTY(Wakanno), TEUNONYA PEWAKA

*        MARGA SERHALAWAN, TEUNONYA SAPASINA

*        MARGA SOPACUA, TEUNONYA LEPALISSA

*        MARGA SEILATU, TEUNONYA HAPEA

*        MARGA PIKAWALA, TEUNONYA SELANA

*        MARGA HEHAKAYA sbgn, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA TITAHENA SATU KELUARGA, TEUNONYA SAMATOUW

 

2.2.             SOA PELETIMU:KEPALA SOA SYAHAILATUA

*        MARGA SYAHAILATUA, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA TUTUPOLY, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA HEHAKAYA, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA LEIWAKABESSY sbgn, TEUNONYA WAKA

*        MARGA LAHALLO, TEUNONYA SELANNA

*        MARGA TOISUTA, TEUNONYA LEPALISSA

 

2.3.             SOA LESIAMA:KEPALA SOA LIKUMAHUA

*        MARGA LIKUMAHUA, TEUNONYA LOUHATU

*        MARGA MAKAILOPU, TEUNONYA LOUHATU

*        MARGA TOMASOA, TEUNONYA LOUHATU

*        MARGA SINANU, TEUNONYA PEHATA

*        MARGA LUMALESSIL, TEUNONYA HABAWA

*        MARGA LATUMAHINA, TEUNONYA PEMAHU

*        MARGA PELUPESSY, TEUNONYA LILSAPI

*        MARGA NOYA, TEUNONYA PALESI

*        MARGA MATULAPELWA, TEUNONYA PELOKO

*        MARGA MATULATUA, TEUNONYA PELOKO

 

Saparua, Wisata Nostalgia Turis Eropa


Benteng Duurstede, peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1676 oleh Arnold de Vlaming Van Duuds Hoorn, di Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Kamis (6/1/2011). Benteng ini jadi salah satu daya tarik wisata di Saparua.
 
SEPULUH tahun pascakonflik di Maluku, sektor pariwisata di Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, bergeliat kembali. Pulau kecil seluas 247 kilometer persegi itu tak hanya menawarkan pesona alam, tetapi juga jejak historis kedatangan bangsa Eropa di Nusantara.
Saparua, yang berjarak sekitar 50 mil dari Ambon, ibu kota Maluku, bisa dijangkau dengan kapal cepat selama satu jam dari Pelabuhan Tulehu, Maluku Tengah, di Pulau Ambon. Pulau berpenduduk 36.698 jiwa ini bersama dua pulau lain di dekatnya yang tergabung dalam gugus Pulau Lease, yaitu Haruku dan Nusa Laut, pernah menjadi primadona wisata Maluku, sebelum kerusuhan 1999. Ketua Asosiasi Agen Perjalanan Wisata Maluku, Tony Tomasoa, menceritakan, sebelum tahun 1999 itu, destinasi wisata ke Saparua bersaing dengan Pulau Banda – ikon wisata lainnya di kepulauan rempah-rempah Maluku. Dua lokasi ini selalu menjadi rujukan bagi wisatawan yang berlibur ke Maluku. Saparua, yang dikelilingi Laut Banda, menawarkan keindahan melalui pantai-pantainya. Mulai dari pantai berpasir putih, seperti pantai di samping Benteng Duurstede dan Kulur, hingga pantai yang dipenuhi batu karang, yaitu Tanjung Ouw. Indahnya Tanjung Ouw bahkan diabadikan melalui lagu berjudul ”Tanjung Ouw” yang dipopulerkan penyanyi Bob Tutupoly. Di tempat ini keteduhan menyambut pengunjung. Wisatawan biasanya menghabiskan waktu di Tanjung Ouw dengan bersantai menikmati keindahan karang yang panjang atau berenang di laut yang jernih. Berselonjor di bawah pohon kelapa semakin terasa nikmat saat semilir angin menerpa. Tidak jauh dari Tanjung Ouw, wisatawan bisa melihat kepiawaian Oya Pelupessy (72) mengolah tanah liat menjadi sempeh atau gerabah. ”Turis senang melihat pembuatan sempeh. Tidak sedikit dari mereka yang mencoba membuat sendiri,” kata Oya. Buku tamu yang dimilikinya menunjukkan banyaknya wisatawan asal Belanda, Inggris, dan Swiss yang berkunjung ke sana. Tak sebatas di permukaan, bawah laut Saparua pun memiliki pesona yang memukau. Menurut pengelola Mahu Village Lodge di Desa Mahu, Paul Tomasoa, setidaknya ada enam titik penyelaman yang digemari turis. Misalnya, di Tawaka, sekitar Pulau Molana, dan sekitar Nusa Laut. ”Terumbu karangnya bertingkat. Selain itu, ikan beraneka jenis bisa ditemukan di sana. Sering kali ikan-ikan itu seperti berbaris membentuk formasi bertingkat,” tuturnya. Peninggalan sejarah Saparua juga sarat peninggalan sejarah. Benteng Duurstede, benteng peninggalan Belanda yang dibangun tahun 1676, adalah salah satunya. Benteng yang ada di bukit setinggi 20 kaki ini masih berdiri kokoh. Kapitan Pattimura yang bernama asli Thomas Matulessy mengusir penjajah Belanda dari benteng ini tanggal 16 Mei 1817. Dari atas benteng itu, pengunjung bisa melihat hampir seluruh Pulau Saparua hingga Pulau Nusa Laut yang berada di sebelah timur Saparua. Tak heran, jika benteng ini ”diburu” turis asing. Di rumah yang pernah ditempati Pattimura, di Negeri Haria, pengunjung bisa melihat peninggalan sang kapitan. Di bangunan yang masih didiami keluarga Matulessy ini, terpajang celana tenun, selempang tenun, dan ikat kepala yang semuanya berwarna merah, yang pernah dikenakan Pattimura saat berjuang melawan Belanda. Sejumlah dokumen bercerita tentang perjuangan Pattimura. Menurut pihak keluarga, semua itu diperoleh dari Belanda. Camat Saparua, Ferry Siahaya, mengatakan, lima tahun terakhir ini kunjungan ke Saparua relatif membaik. ”Rata-rata kunjungan turis asing di Saparua sekitar 20 orang setiap bulan. Bulan Desember, jumlahnya bisa meningkat menjadi 50-an orang,” katanya. Mayoritas turis asing berasal dari Belanda, terutama yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan warga di Saparua. ”Ada juga yang berasal dari Inggris, Perancis, Swiss, dan Amerika Serikat,” papar Ferry. ”Keluarga dari Belanda kebanyakan datang pada bulan Desember. Natal menjadi momen berkumpul dengan keluarga di perantauan, termasuk yang di Belanda,” kata Raja Negeri Itawaka, LF Wattimena. Meski demikian, baru Desember 2010 lalu Negeri Itawaka menggelar perayaan Natal sedunia. Saat itu, ada 30 warga negara Belanda yang datang. Menurut Wattimena, ikatan satu gandong atau satu kandunganlah yang merekatkan hubungan mereka, meski terpisah jarak dan status kewarganegaraan. Tren meningkatnya jumlah wisatawan ini bisa jadi karena lebih mudahnya Saparua diakses dari Ambon. ”Beroperasinya kapal cepat dengan daya tampung sekitar 200 penumpang mendorong turis datang ke Saparua. Kapal yang beroperasi sejak tahun lalu itu dua kali sehari dari Ambon,” ujar Ferry. Selain itu, ada pula penerbangan langsung dari Amsterdam, Belanda, ke Ambon, via Jakarta, yang dioperasikan Garuda Indonesia sejak pertengahan tahun lalu. Pertengahan tahun lalu pula, pemerintah juga melakukan promosi yang cukup gencar terkait Festival Duurstede di Benteng Duurstede dan Sail Banda di Maluku. Ini tentunya menjadi salah satu pendongkrak peningkatan jumlah wisatawan ke pulau kecil itu. Tak perlu heran jika kini bermunculan penginapan baru di sana. Dua dari lima penginapan yang sempat berhenti beroperasi akibat kerusuhan, kini juga beroperasi kembali. ”Rencananya, akan ada dua lagi penginapan dalam waktu dekat,” papar Ferry. Paul Tomasoa optimistis, ke depan pariwisata Saparua akan pulih, seperti sebelum kerusuhan 1999. Namun, dia mengingatkan, geliat pariwisata yang kini sudah terasa itu harus diikuti perbaikan sumber daya manusia dan penambahan fasilitas penunjang bagi wisatawan. ”Tanpa perbaikan, promosi yang gencar yang dilakukan bisa jadi bumerang, karena ternyata kondisi di Saparua tidak sama dengan yang dipromosikan,” kata Paul lagi. Robbie Pickering (30), turis asal Inggris yang sedang berwisata di Saparua, menyatakan hal serupa. ”Tempat seperti Saparua banyak dicari turis Eropa saat ini. Sebab, di sana sedang musim dingin, sedangkan di Saparua udaranya lebih panas dan bisa melihat matahari setiap hari. Tapi, dengan minimnya fasilitas, turis bisa mencari tempat lain yang fasilitasnya lebih baik,” katanya.

Sejarah Bangsa Alifuru


Sejarah Alif’uru

Daerah pemerintahan selama Kerajaan Nunu Saku berdiridilanjutkan dalam Kerajaan Sahulau, (kedua kerajaanini mempunyai daerah pemerintahan yang sama) yaitu:sebelah utara dinamakan “Hono Ulu / Uru”,sebelah timur “Hua Ulu / Uru”,sebelah selatan “Nua Ulu / Uru” atau “Na Ulu/ Uru” dansebelah barat “Bere Ulu / Uru”, yang kini dikenalndengan nama “Buru”.Orang-orang Alif’uru ini dikenal didunia luar padawaktu itu dengan nama Ina/In(i)a (Pesulima 42-44)Kerajaan Nunu Saku lenyap dan tidak dapat berfungsilagi, disebabkan oleh malapetaka yang maha dasyat yangmenimpua Nusa El Hak seperti keadaan yang dikemukakanoleh geolog William Haxby atau oleh “air baha” menurutversi Alkitab.Runtuhnya Kerajaan ini sesuai pula dengan TeoriRuntuhnya suatu Negara dan atau Kerajaan (Ilmu NegaraUmum dan Indonesia, Prof. Dr. C.S.T.Kansil, S.H:Christine S.T.Kansil, S.H., M.H, halaman 34-35).Tetapi yang jelas bahwa “Lamuri” / “Lemuria” atau yangdisebut dalam Kapata-Kapata tua : “El Muria” atau “ElMulia”, adalah sisa peninggalan benua Mu yang amatluas (Op.cit).Dalam kehidupan dari Bangsa Alif’uru INA, ada 2 (dua)Generasi yang biasa disebut “SiwaLima”.Generai 1 (Pertama) disebut PATASIWA yang terdiri dari9 (sembilan ) keturunan.Generasi II (Kedua) disebut PATALIMA yang terdiri dari5 (lima) Keturunan.Datuk leluhur kita menceritakan kejadian-kejadian yangterjadi (yang mereka alami dan rasakan) itu melualuKapatakapata, walaupun tidak dijelaskan tanggal, bulanatau tahun.Kapata itu berasal dari kata “KAPA PATA TITA”.Kapa mempunyai arti :”Puncak Gunung yang berbentuktajam seperti jari terlunjuk ke langit”.Pata, artinya :”Diputuskan secara difinitif dan takdapat dirobah”, sedangkan “Tita” mempunyai arti :”Sabda”, ucapan tegas.Kapa Pata Tita, artinya : “Ucapan-ucapan tegas yangtak dapat dirubah, yang naik keatas sebagai gunungberpuncak tombak tertuju ke Allah”,Ucapan-ucapan yang suci dan mempunyai kekuatan yangdirahasiakan. Dan sebagian terbesar daripada Kapatakapata mempunyai lebih daripada dua arti dansewaktu-sewaktu mempunyai tiga pengertian(Boulan/Syauta, 25).Dari Kapata-Kapata Tua yang berikut mempunyai matarantai yang menghubungkan dengan Nuh, : “HUA MU ALE”,demikian bunyinya :01. “HUA MU ALE”, artinya : “Penampilan (benua) MUsewaktu Allah turun ke ruang lingkup hidup di sekitarkita”.02. “NETE NUSAN JADI LOTEMENA”, artinya : “Timbunantanah yang meluas (menjadi) besar”.03. “NUNU SAKU JADI WAA HALE MULI”, artinya :”Sewaktuair surut menjadikan berikut Nunu Saku”.04. “SEI REWA TANUSAN JADI YANA MENA O”, artinya:”Siapa yang tahu tanusang berbentuk (bisa jadi) yangsebelumnya” (adalah anak nusang).05. “SEI ULI NOHO DUME ROLA IKA KANIKE”, artinya:”Siap Rumpun Rumah Nuh yang ada berkumpulbersama-sama”.06. “LOYOTA WAI ELA ROLA MESE MESE”, artinya:”Gelombang besar-besar yang kuat-kuat”(EmeEse=Berkuasa).07. “SINGGE TURU HUA MU ALE-LUHU WATA SIMOLALI”,artinya: “Sampai tenggelamkan permukaan (benua) Muyang asli”. Kapata ini mengkisahkan kejadian air bah pada zamanNuh. Disini disebut Noho, mungkin nama aslinya NUHU.Pada ketika itu benua Mu, tempat kediaman merekahilang dari permukaan air. Kemudian mereka kandasdiatas himpunan tanah yang nampaknya kecil diataspermukaan air (laut), tetapi yang menjadi semakinbesar (dengan surutnya air laut), dan akhirnya menjadiNunu Saku. (Op.Cit.56).Dalam Kapata-Kapata tua yang berikut ini membuktikanbahwa gunung-gunung tinggi diseluruh kolong langit initergenang air laut. Menurut Alkitab Kejadian 7:20, AirBah itu setinggi 15 hasta atau 6.75 meter, sehinggasiang hari malam tertimbun air laut, yang disampaikandalam kapata-kapata tuanya sebagai berikut :01. HENA MASA WAYA WAIYA LETE HUNI MU A O “, artinya :”Negeri di tempat-tempat kediaman kita yang tinggi diMU, siang malam tertimbun air”.02. “YURI TASI BEA SALA NE KOTIKA O”, artinya : “Biladiusut asal usul kita semua orang-tidak salah ketikaitu”.03. “A OLEH RUMA O RUMA SINGGI SOPA O”, artinya:”Rumah kita turun temurun bertingkat tinggi asli”.04. “O PAUNE ITE KIBI RATU HIRA ROLI O”, artinya :”Kita semua tanpa kecuali sama saja seperti Raja”.05. “HENA MASA WAIYA LETE HUNI MU A O” artinya :”Negeri kita yang tinggi di MU siang hari malamtertimbun air”.06. “YURI TASI BEA SALA NE KOTIKA O”, artinya : “Biladiusut asal usul kita semua orang-tidak salah ketikaitu”.07. “BUANG E MU LABUANG E !”, artinya : “Labuh manatempat berlabuh di MU !”.08. “HASA HASA PULU MU LABUANG”, artinya :”Berlayarlah dekat dekat pantai pulau MU-jangan yangsatu jauh dari yang lain dibawa pimpinan yangtunggal”.09. “TANJONG E TENGO TANJONG E”, artinya : “Tanjong-edimana ada tanjong e”10. “HASA HASA SOKI TENGO TANJONG”, artinya :”Berlayar dekat dekat pantai sedikit lagi sudahkelihatan tanjong”.11. “WELE WELE YO YURI WELE WELE YO”, artinya : “Yaombak-ombak ! kita semua diatas ombak”.12. “YA YAKI HITI UMA LETE SOPU YO”, artinya : “Yangmemecah terangkat tinggi setinggi rumah tinggi yangkita puja itu”.13. “WAYA TUTU HITU O !”, artinya : “Timbunan airmenutup tujuh rumah turun temurun yang asli o !”. Kapata-kapata ini mengkisahkan kembali air bah padazaman Nuh, tentang negeri-negeri di daratan/datarantinggi benua MU (benua yang hilang) dimana siang harimalam tertimbun air laut. Kapata ini mengkisahkantempat mereka dimana terdapat rumah-rumah didaratan/dataran tinggi tenggelam, dapat kitabayangkan, cocok dengan uraian geolog William Haxbyyang dikemukakan oleh Marcia Bartusiak dan peta bumi268 juta tahun sebelum masehi menunjukkan benua yanghilang tersebut.Mengenai Nuh terdapat juga dalam kapata kapata Tuayang berbunyi demikian :”Maanusa Manu Wei, Latu Pohon ee, Latu Selan eee, LatuAna Mena ee”. artinya : “Pusat pertengahan bumi ini,mulai dari Raja Pohon Pertengahan (Latu Pohon ee =ialah Nuh), terus ke Raja-Raja turun temurun (LatuSelan ee) sampai kini dengan memulai dari anak-anakRaja yang sulung (Latu Ana Mena ee)”.Maa = Pertengahan, Nusa = Tanah kering(pulau/benua/bumi). Manu = Sesuatu yang berharga darilangit / burung / ayam yang melambangkan kehidupanatau yang hidup, Wei = Terbagi-bagi / terpecah-pecah /berhamburan keseluruh dunia (bumi).Dalam Kapata-kapata Tua sesuai tradisi lisan yangmasih ada tentang tempat dimana bahtera Nuh kandas,adalah daerah Nunusaku yang disebut oleh mereka gunung”ARA”. Kapata-kapata selanjutnya menyebut sebagai”Thene Selano” atau “Thene Serano”, yang berarti yangmula pertama muncul atau yang mula pertama kering.Jejak pertama yang dibuat oleh Nuh dinamakan “MaaNusa”.Maanusa Manu Wei artinya “Pusat Pertengahan Bumidimana Manusia (Bangsa Alif’uru keturunan PatasiwaPatalima = Siwalima yang adalah bangsa INA umat Allah/ yang hidup bersama Allah) tercerai beraikesekeliling permukaan bumi”…..(Pesulima 119).Sela berarti “Berdiam / Beristirahat / Berhenti”Manusela menunjukkan tempat dimana Nuh sebagai manusiayang hidup dengan Allah (Saleh Hua) sudah datang untukberdiam dan beristirahat.Kapata-kapata Tua dari Nunu Saku , “NUH” digambarkansebagai pemimpin rakyat yang pertama dari orangAlif’uru sesudah air bah. Mereka menyebutnya : ” MU -ENG ELHAK” atau “MUENG EL(H)AK” artinya : “MU” =tempat asal / pusat tempat tinggal dari Manu = Ayam =Lambang kehidupan dari manusia + ENG = “Penganjur /Pemimpin / Pelindung / Penghentar / Pelayan;”EL” = Allah; “HAK” = Agung / Besar / Penuh Kuasa.Jadi “MU ENG EL(H)AK” mempunyai arti secarakeseluruhan ialah : “Penganjur / Pemimpin / Pelayandari Allah yang Maha Besar dan Maha Kuasa / Perkasabagi umat manusia, ditempat (dibumi) dimana ia berada(berdiam) (Pesulima, 8).Seorang Mu Eng EL Hak dialah yang menguasai / menguruskepentingan manusia (Alif’uru = Siwa Lima) mau secarabadani / lahiriah pun secara rohaniah / agamaniah.Oleh sebab itu, seorang Mu Eng EL Hak mempunyai 3(Tiga) fungsi dalam dirinya, ialah : “Raja”, “Imam”dan “Nabi”. Dikemudian hari, sesudah pembentukan kerajaan Sahulau,maka fungsi-fungsi ini telah dipecahkan menjadi duabahagian, untuk 2 (Dua) orang ialah :01. Upu Latu / Upu Latu Kabasaran.02. Mueng-Mueng Kerajaan, bukan lagi MUENG ELHAK.Upu Latu / Upu Latu Kabasaran memegang kekuasaan atasbidang duniawiah, sedangkan Mueng-Mueng Kerajaanmemegang kekuasaan atas bidang rohaniah, yangberhubungan dengan Upu El / Elo / Eli Lanit ee, UpuKahuresi Leha Banua / Buwana.Bangsa Alif’uru adalah orang-orang yang pertama yangmendiami Nusa El Hak.Dalam bahasa tua Nunusaku Ucapan-ucapan dari bangsaAlif’uru terkenal antara lain “0-Loa Nusa Hiti Nusa,Solo Hua eee Maun eeel”, artinya : “Turun pulau atauturun pulaukah dengan Allah atau sejahtera Allah tetapbeserta / menyertai kita”.Sesudah runtuhnya kerajaan Nunu Saku dengan ibukotaNunu Saku disebabkan bencana alam yang maha dahsyatmaka banga Alif’uru mulai membangun kembali ibukotadan kota-kota, negeri-negeri, atau pemukiman yangbaru. Mereka menyusun kembali suatu strukturkehidupan masyarakat dan tata pemerintahan yang baru.Perpecahan pada induk Nunusaku menyebabkan Tiga Latuturun masing-masing :01. Latu Polanunu, menyusuri batang air Eti.02. Latu Pasanea, menyusuri batang air Sapalewa.03. Latu Tomatala, menyusuri batang air Tala.Sedangkan Latu Kapitan Besar tinggal menjaga kebesaranNunusaku sampai hari ini.Perpecahan ini melangkah terus dengan suku Ainu dariAinuwele yang berlayar ke timur terakhir singgah diJepang yang menjadi suku asli bangsa Jepang sekarang.Teno Heka merupakan seorang tokoh Jepang sebagai dewayang sebenarnya adalah Teono Heka atau Teon Heka yangmerupakan salah satu Teon mata rumah yang hilang diMaluku dari bangsa Alif’uru sampai hari ini.Mereka keluar dengan membawa semua pusakanya yangdipuja sampai hari ini di Jepang antara lain bulansabit.Kesamaan besar terdapat pada cawat yang dipakai danbahasa yang berdisiplin sama dengan bahasa bangsaAlif’uru.Bahasa yang dipakai oleh Bangsa Alif’uru, ada 2 (Dua)Golongan Besar yaitu : Bahasa ALUNE (Alif’uru Gunung);dan Bahasa WEMALE (Alif’uru Pantai). Bahasa Wemalekemudian mengalami perubahan-perubahan, sesuai denganPerpecahan Kerajaan Sahulau menjadi Kerajaan-KerajaanKecil dan atau Negeri-Negeri Kecil dengan Bahasamasing-masing yang berjumlah diatas 100 (Seratus)macam, namun tetap memiliki disiplin dan atau pangkalbahasa yang sama.Sejarah perjalanan perahu Belang yang pada umumnyamerupakan kapal tua bangsa Maluku bisa mencapaiSkandinavia yang terkenal dengan bangsa Viking(Swedia, Norwegia, Finlandia, Denmark) yang memakaiarumbai kepala nagga, ekor naga pada belakang perahudan memakai layar seram (Layar segi empat).Disamping itu mereka memakai topi perang yangmempunyai tanduk ujung dua dikepala melambangkanbangsa Ina yang ada di Maluku (Topi bertanduk tigabangsa Inama, bertanduk satu bangsa Ama). Bangsa Amadapat dilihat pada keturunan Cina yang keluarberperang dengan topi tanduk satu.Dipulau Seram atau Nusa Ina yang merupakan indukperpecahan terdapat Inama yang memakai topi bertanduktiga.Batavia adalah nama Jakarta yang diberikan oleh JanPieterzoon Coen mengingatkan moyang mereka yangterkenal sebagai laki-laki perkasa yang berkelahi dariEropa Utara (Skandinavia) sampai ke Jerman. Bataviadiambil dari kata Batavier atau Batafur atau Batafuruyang merupakan seorang saudara laki-laki Alif’uru yangputih yang berlayar jauh dengan arumbai belangmeninggalkan Nusa Ina menuju ke suatu tempat yangsegala sesuatunya putih (waktu itu terjadi musimsalju).Bangsa Alif’uru merupakan suatu bangsa induk yang tuasekali yang tidak dapat dibohongi dengan pembuktianyang ada di alam. Sebab manusia dengan segalakepandaiannya dapat memutar balikkan segala fakta yangada dibumi sesuai jaman dan kekuasaannya, tetapi alamtidak pernah berbohong. Salam Alifuru Satu Darah!

Kapitan Pattimura


 

Thomas Matulessy Pattimura

Thomas Matulessy alias Pattimura Pahlawan Maluku sebelum menaiki tiang gantungan dia berkata: “..beta akan mati … tetapi nanti akan bangkit pattimura-pattimura muda, yang akan meneruskan beta punya perjuangan…”

Thomas Matulessy Pattimura

Patung Pattimura

Thomas Matulessy digantung pada tempat ini, yang sekarang disebut Lapangan Merdeka, dan dijadikan Taman Pattimura (Pattimura Park).

Prasasti Thomas Matulessy Pattimura Lapangan Merdeka

Prasasti Pattimura Pada Taman Pattimura, Lapangan Merdeka

Ada Kontraversi tentang tempat kelahiran Kapitan Pattimura, ada yang mengatakan di Negeri Hualohi, Seram Selatan tetapi banyak yang menyebutkan lahir di Negeri Haria, Porto, Pulau Saparua. Tapi yang jelas Kapitan Lahir di Maluku, 8 Juni 1783 dan meninggal di Ambon,Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun, atau dikenal dengan nama Thomas Matulessy atau Thomas Matulessia, adalah Pahlawan Nasional Indonesia. Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarir dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris.

Pattimura adalah putra Frans Matulesi dengan Fransina Silahoi. Adapun dalam buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

Menurut Sejarawan Mansyur Suryanegara, leluhur bangsa ini, dari sudut sejarah dan antropologi, adalah homo religiosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap sesuatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka, menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Oleh sebab itu, tingkah laku sosialnya dikendalikan kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti. Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus yang dimiliki seseorang. Kesaktian itu kemudian diterima sebagai sesuatu peristiwa yang mulia dan suci. Bila ia melekat pada seseorang, maka orang itu adalah lambang dari kekuatan mereka. Dia adalah pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat-sifat itu melekat dan berproses turun-temurun. Walaupun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan “kapitan” yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

 

Thomas Matulessy Pattimura

 

Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris. Kata “Maluku” berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja. Mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menerapkan kebijakan politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten), serta mengabaikan Traktat London I antara lain dalam pasal 11 memuat ketentuan bahwa Residen Inggris di Ambon harus merundingkan dahulu pemindahan koprs Ambon dengan Gubenur dan dalam perjanjian tersebut juga dicantumkan dengan jelas bahwa jika pemerintahan Inggris berakhir di Maluku maka para serdadu-serdadu Ambon harus dibebaskan dalam artian berhak untuk memilih untuk memasuki dinas militer pemerintah baru atau keluar dari dinas militer, akan tetapi dalam pratiknya pemindahn dinas militer ini dipaksakan.

Thomas Matulessy Pattimura

Patung Pattimura, Siang Hari

Kedatangan kembali kolonial Belanda pada tahun 1817 mendapat tantangan keras dari rakyat. Hal ini disebabkan karena kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Rakyat Maluku akhirnya bangkit mengangkat senjata di bawah pimpinan Kapitan Pattimura. Maka pada waktu pecah perang melawan penjajah Belanda tahun 1817, Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sfat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya.

Thomas Matulessy Pattimura

Patung Pattimura, Malam Hari

Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir Raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para Raja Patih maupun rakyat biasa. Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Patimura.

Thomas Matulessy Pattimura

Di Bawah Sinar Bulan

Pertempuran-pertempuran yang hebat melawan angkatan perang Belanda di darat dan di laut dikoordinir Kapitan Pattimura yang dibantu oleh para penglimanya antara lain Melchior Kesaulya, Anthoni Rebhok, Philip Latumahina dan Ulupaha. Pertempuran yang menghancurkan pasukan Belanda tercatat seperti perebutan benteng Belanda Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano, Ouw- Ullath, Jasirah Hitu di Pulau Ambon dan Seram Selatan.

Thomas Matulessy Pattimura

Thomas Matulessy – Pattimura
Pahlawan Maluku

Perang Pattimura hanya dapat dihentikan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Para tokoh pejuang akhirnya dapat ditangkap dan mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “PAHLAWAN PERJUANGAN KEMERDEKAAN” oleh pemerintah Republik Indonesia…… Pahlawan Nasional Indonesia. Ketuhanan yang maha esa Kemanusiaan yang adil dan beradab Persatuan Indonesia Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan kemerdekaan bagi seluruh rakyat indonesia.

Menelusuri Maluku, Tanah Surga


Menelusuri  Maluku

Maluku atau yang dikenal secara internasional sebagai Moluccas adalah salah satu provinsi tertua di Indonesia. Ibukotanya adalah Ambon. Pada tahun 1999, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Utara, dengan ibukota di Sofifi. Provinsi Maluku terdiri atas gugusan kepulauan yang dikenal dengan Kepulauan Maluku.

SOSIAL BUDAYA

Suku Bangsa

Suku bangsa Maluku didominasi oleh ras suku bangsa Melanesia Pasifik yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Samudra Pasifik.
Banyak bukti kuat yang merujuk bahwa Maluku memiliki ikatan tradisi dengan bangsa bangsa kepulauan pasifik, seperti bahasa, lagu-lagu daerah, makanan, serta perangkat peralatan rumah tangga dan alat musik khas, contoh: Ukulele (yang terdapat pula dalam tradisi budaya Hawaii).
Mereka umumnya memiliki kulit gelaprambut ikalkerangka tulang besar dan kuat serta profil tubuh yang lebih atletis dibanding dengan suku-suku lain di Indonesia, dikarenakan mereka adalah suku kepulauan yang mana aktivitas laut seperti berlayar dan berenang merupakan kegiatan utama bagi kaum pria.
Sejak jaman dahulu, banyak diantara mereka yang sudah memiliki darah campuran dengan suku lain, perkawinan dengan suku Minahasa, Sumatra, Jawa, Madura, bahkan kebanyakan dengan bangsa Eropa (umumnya Belanda dan Portugal) kemudian bangsa Arab, India sudah sangat lazim mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama 2300 tahun dan melahirkan keturunan keturunan baru, yang mana sudah bukan ras Melanesia murni lagi. Karena adanya percampuran kebudayaan dan ras dengan orang Eropa inilah maka Maluku merupakan satu-satunya wilayah Indonesia yang digolongkan sebagai daerah Mestizo. Bahkan hingga sekarang banyak marga di Maluku yang berasal bangsa asing seperti Belanda (Van Afflen, Van Room, De Wanna, De Kock, Kniesmeijer, Gaspersz, Ramschie, Payer, Ziljstra, Van der Weden dan lain-lain) serta Portugal (Da Costa, De Fretes, Que, Carliano, De Souza, De Carvalho, Pareira, Courbois, Frandescolli dan lain-lain). Ditemukan pula marga bangsa Spanyol (Oliviera, Diaz, De Jesus, Silvera, Rodriguez, Montefalcon, Mendoza, De Lopez dan lain-lain) serta Arab (Al-Kaff, Al Chatib, Bachmid, Bakhwereez, Bahasoan, Al-Qadri, Alaydrus, Assegaff dan lain-lain). Cara penulisan marga asli Maluku pun masih mengikuti ejaan asing seperti Rieuwpassa (baca: Riupasa), Nikijuluw (baca: Nikiyulu), Louhenapessy (baca: Louhenapesi), Kallaij (baca: Kalai) dan Akyuwen (baca: Akiwen).
Dewasa ini, masyarakat Maluku tidak hanya terdapat di Indonesia saja melainkan tersebar di berbagai negara di dunia. Kebanyakan dari mereka yang hijrah keluar negeri disebabkan olah berbagai alasan. Salah satu sebab yang paling klasik adalah perpindahan besar-besaran masyarakat Maluku ke Eropa pada tahun 1950-an dan menetap disana hingga sekarang. Alasan lainnya adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, menuntut ilmu, kawin-mengawin dengan bangsa lain, yang dikemudian hari menetap lalu memiliki generasi-generasi Maluku baru di belahan bumi lain. Para ekspatriat Maluku ini dapat ditemukan dalam komunitas yang cukup besar serta terkonsentrasi di beberapa negara seperti Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Belgia, Jerman dan berbagai benua lainnya.

Bahasa

Bahasa yang digunakan di provinsi Maluku adalah Bahasa Melayu Ambon, yang merupakan salah satu dialek bahasa Melayu. Sebelum bangsa Portugis menginjakan kakinya di Ternate (1512), bahasa Melayu telah ada di Maluku dan dipergunakan sebagai bahasa perdagangan. Bahasa Indonesia, seperti di wilayah Republik Indonesia lainnya, digunakan dalam kegiatan-kegiatan publik yang resmi seperti di sekolah-sekolah dan di kantor-kantor pemerintah.
Bahasa yang digunakan di pulau Seram, pulau ibu (Nusa Ina/Pulau asal-muasal) dari semua suku-suku di Provinsi Maluku dan Maluku Utara adalah sebagai berikut:
  • bahasa Wamale (di Seram Barat)
  • bahasa Alune (di Seram Barat)
  • bahasa Nuaulu (dipergunakan oleh suku Nuaulu di Seram selatan; antara teluk El-Paputih dan teluk Telutih)
  • bahasa Koa (di pegunungan Manusela dan Kabauhari)
  • bahasa Seti (di pergunakan oleh suku Seti, di Seram Utara dan Telutih Timur)
  • bahasa Gorom (bangsa yang turun dari Seti dan berdiam di Seram Timur)
Maluku merupakan wilayah kepulauan terbesar di seluruh Indonesia. Banyaknya pulau yang saling terpisah satu dengan yang lainnya, juga mengakibatkan semakin beragamnya bahasa yang dipergunakan di provinsi ini. Jika diakumulasikan, secara keseluruhan, terdapat setidaknya 132 bahasa di kepulauan Maluku.
Dua bahasa yang telah punah adalah Palamata dan Moksela.
Sebelum bangsa-bangsa asing (Arab, Cina, Portugis, Belanda dan Inggris) menginjakan kakinya di Maluku (termasuk Maluku Utara), bahasa-bahasa tersebut sudah hidup setidaknya ribuan tahun.
Bahasa Indonesia, seperti di wilayah Republik Indonesia lainnya, digunakan dalam kegiatan-kegiatan publik yang resmi seperti di sekolah-sekolah dan di kantor-kantor pemerintah, mengingat sejak 1980-an berdatangan 5000 KK (lebih) transmigran dari Pulau Jawa. Dengan banyaknya penduduk dari pulau lain tersebut, maka khazanah bahasa di Pulau Seram (dan Maluku) juga bertambah, yaitu kini ada banyak pemakai bahasa-bahasa Jawa, Bali dan sebagainya.

Sosial Budaya

Dalam masyarakat Maluku dikenal suatu sistem hubungan sosial yang disebut Pela dan Gandong.

PEMERINTAHAN

Kabupaten dan Kota

No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Buru Namlea
2 Kabupaten Buru Selatan Namrole
3 Kabupaten Kepulauan Aru Oobo
4 Kabupaten Maluku Barat Daya Tiakur
5 Kabupaten Maluku Tengah Masohi
6 Kabupaten Maluku Tenggara Tual
7 Kabupaten Maluku Tenggara Barat Saumlaki
8 Kabupaten Seram Bagian Barat Dataran Hunipopu
9 Kabupaten Seram Bagian Timur Dataran Hunimoa
10 Kota Ambon -
11 Kota Tual -

Daftar gubernur

No. Foto Periode Nama Gubernur Keterangan
1 J Latuharhary.jpg 1950 – 1955 Mr. J.J. Latuharhary
2 1955 – 1960 M. Djosan
3 1960 – 1965 Muhammad Padang
4 1965 – 1968 G.J. Latumahina
5 1968 – 1973 Soemitro
6 1973 – 1975 Soemeru
7 1975 – 1980 Hasan Slamet
8 1980 – 1985 Hasan Slamet
9 1985 – 1990 Sebastian Soekoso
10 1990 – 1993 Sebastian Soekoso
11 1993 – 1998 M. Akib Latuconsina
12 Saleh latconsina.jpg 1998 – 2003 Dr. M. Saleh Latuconsina
13 KA Ralahalu.jpg 2003 – 2013 Brigjen TNI (Purn) Karel Albert Ralahalu

PEREKONOMIAN

Secara makro ekonomi, kondisi perekonomian Maluku cenderung membaik setiap tahun. Salah satu indikatornya antara lain, adanya peningkatan nilai PDRB. Pada tahun 2003 PDRB Provinsi Maluku mencapai 3,7 triliun rupiah kemudian meningkat menjadi 4,05 triliun tahun 2004. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2004 mencapai 4,05 persen dan meningkat menjadi 5,06 persen pada 2005.

Pariwisata

Sejak zaman purba kala, Maluku diakui telah memiliki daya tarik alam selain daripada rempah-rempahnya. Terdiri dari ratusan kepulauan membuat Maluku memiliki keunikan panorama disetiap pulaunya dan mengundang banyak turis asing datang untuk mengunjungi bahkan menetap di kepulauan ini. Selain objek wisata alam, beberapa peninggalan zaman kolonial juga merupakan daya tarik tersendiri karena masih dapat terpelihara dengan baik hingga sekarang. Beberapa dari objek wisata terkenal di Maluku antara lain:
  • Pantai Natsepa, Ambon
  • Pintu Kota, Ambon
  • Benteng Duurstede, Saparua
  • Benteng Amsterdam, Ambon
  • Benteng Victoria, Ambon
  • Banda Neira, Banda
  • Benteng Belgica, Banda
  • Pantai Hunimoa, Ambon
  • Pantai Ngur Sarnadan (Pasir Panjang), Kai
  • Gua Ohoidertavun di Letvuan, Kai
  • Sawai, Seram
  • Leksula, Buru
  • Pintu Kota, Ambon
  • Pantai Latuhalat, Ambon
  • Tanjung Marthafons, Ambon
  • Taman Nasional Manusela, Seram
  • Air Terjun Waihetu, Rumahkay, Seram
  • Pantai Hatuurang
  • Pantai Lokki, Seram
  • Pantai Englas, Seram
  • Pulau Pombo
  • Pulau Tiga
  • Pulau Luciapara
  • Pulau Ay, Run dan Rozengain (Hatta), Kepulauan Banda
  • Weluan, Kep. Tanimbar
  • Pulau Bais
  • Tanjung Sesar, Seram
  • Pulau Panjang, Pulau Lulpus dan Pulau Garogos
  • Gunung Boy
  • Kilfura, Seram
  • Pantai Soplessy, Seram
  • Gua Lusiala, Seram
  • Pantai Kobisadar
  • Ahuralo, Amahai
  • Gua Hutan Kartenes
  • Goa Akohy di Tamilouw, Seram
  • Benteng Titaley, Seram
  • Danau Binaya, Piliana

KOMUNIKASI:

Ambon Cyber City

Pada pertengahan tahun 2008, kota Ambon ditetapkan sebagai Cyber City. Pekerjaan proyek Ambon Cyber City yang dilakukan Pemkot Ambon untuk memberikan kemudahan berakses internet telah selesai hingga akhir Desember tahun tersebut. Pelaksanaan proyek ini semata-mata guna memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berakses dengan mudah dan murah ke “dunia maya”, tanpa harus antri di “warung internet” atau berlangganan telepon dengan biaya mahal untuk berinternet. Hanya dengan modal laptop atau komputer yang memiliki fasilitaswireless, masyarakat sudah bisa menikmati internet dengan mudah berbagai tempat di pusat kota Ambon. Pemkot Ambon pun telah menjalin kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi Telkomsel untuk meminjam tower perusahaan seluler itu, di mana peralatan Cyber akan dipasang pada menara tower milik perusahaan itu, sehingga bisa memancarkan sinyalnya dan menjangkau seluruh wilayah Kota Ambon.

Stasiun Televisi Lokal

Maluku juga mempunyai televisi lokal yaitu Molucca Tv dan Ambon Tv.

Surat Kabar Harian

  • Ambon Express
  • Suara Maluku
  • Metro Maluku
  • Siwalima
  • Radar Ambon
  • Titah Siwalima
  • Maluku Expose
  • Marinyo
  • Seram Pos
  • Suara Ekspresi

Stasiun Radio Lokal

  • Suara Pelangi
  • DMS
  • Rock FM
  • Binaya
  • G-Tavlul
  • Dian Mandiri
  • Sangkakala
  • Baku-Bae
  • Resthy Mulya
  • Arika Polnam
  • Manusela FM
  • Kabaresi

PENDIDIKAN

Perguruan Tinggi

Negeri

Nama Perguruan Tinggi Tahun Pendirian Pemimpin Lokasi Situs Web
Universitas Pattimura(UNPATTI) 1962 Prof. Dr. H.B. Tetelepta, M.Pd. Ambon http://www.unpatti.ac.id
Politeknik Negeri Ambon (POLNAM) 1985 Ir. H. D. Nikijuluw, M.T. Ambon http://www.polnam.ac.id
Politeknik Perikanan Negeri Tual(POLIKANT)[3] 2004 Ir. P. Beruatwarin, M.Si. Tual

Swasta

Nama Perguruan Tinggi Pemimpin Lokasi
Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) DR. A.M.L. Batlayeri Ambon
Universitas Darussalam (UNIDAR) Prof. Drs. Ismail Tahir Ambon
Universitas Iqra Drs. R. Suyatno S. Kusuma, M.Si. Buru
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Ambon F.C. Renyut. S.Sos. M.Si. Ambon
STIA Abdul Aziz Kataloka Drs. J. Madubun. M.Si. Ambon
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Said Perimtah Dr. A. Wattiheluw, S.Sos., M.Si. Masohi
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Darul Rachman Drs. Muuti Matloan Tual
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Langgur P.C. Renwarin, S.E. M.Si. Tual
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Saumlaki Semuel Luturyali, S.H. Saumlaki
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Umel Asyara Rumkei, S.E. Tual
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Saumlaki Drs. M.M. Lololuan Saumlaki
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Manajemen (STIEM) Rutu Nusa Drs. G.M.B.K. Dahaklory Ambon
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial (STIS) Mutiara Cilifius Reyaan, S.Sos. Tual
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Kebangsaan Drs. J. Kapressy Masohi
Sekolah Tinggi Perikanan Hatta Sjahrir Prof. Dr. Hamadi B. Husein Banda
STKIP Gotong Royong Drs. Autan Sahib Patty Masohi
Akademi Maritim Maluku (AMM) Drs. P.P. Rahaor. M.Pd. Ambon
Akademi Kebidanan (AKBID) Aru Yonita E.O. Uniplaita, A.Kp., M.Kes. Dobo

SENI DAN BUDAYA

Musik

Alat musik yang terkenal adalah Tifa (sejenis gendang) dan Totobuang. Masing-masing alat musik dari Tifa Totobuang memiliki fungsi yang bereda-beda dan saling mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang sangat khas. Namun musik ini didominasi oleh alat musik Tifa. Terdiri dari Tifa yaitu, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas, ditambah sebuah Gong berukuran besar dan Toto Buang yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang di taruh pada sebuah meja dengan beberapa lubang sebagai penyanggah. Adapula alat musik tiup yaitu Kulit Bia (Kulit Kerang).
Dalam kebudayaan Maluku, terdapat pula alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian seperti halnya terdapat dalam kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat. Hal ini dapat dilihat ketika musik-musik Maluku dari dulu hingga sekarang masih memiliki ciri khas dimana terdapat penggunaan alat musik Hawaiian baik pada lagu-lagu pop maupun dalam mengiringi tarian tradisional seperti Katreji.
Diluar daripada beragamnya alat musik, orang Maluku terkenal handal dalam bernyanyi. Sejak dahulu pun mereka sudah sering bernyanyi dalam mengiringi tari-tarian tradisional. Tak ayal bila sekarang terdapat banyak penyanyi terkenal yang lahir dari kepulauan ini. Sebut saja para legenda seperti Broery Pesoelima dan Harvey Malaihollo. Belum lagi para penyanyi kaliber dunia lainnya seperti Daniel Sahuleka, Ruth Sahanaya, Monica Akihary, Eric Papilaya, Danjil Tuhumena, Romagna Sasabone, Harvey Malaihollo serta penyanyi-penyanyi muda berbakat seperti Glen Fredly, Ello Tahitu dan Moluccas.

Tarian

Tari yang terkenal adalah tari Cakalele yang menggambarkan Tari perang. Tari ini biasanya diperagakan oleh para pria dewasa sambil memegang Parang dan Salawaku (Perisai).
Ada pula Tarian lain seperti Saureka-Reka yang menggunakan pelepah pohon sagu. Tarian yang dilakukan oleh enam orang gadis ini sangat membutuhkan ketepatan dan kecepatan sambil diiringi irama musik yang sangat menarik.
Tarian yang merupakan penggambaran pergaulan anak muda adalah Katreji. Tari Katreji dimainkan secara berpasangan antara wanita dan pria dengan gerakan bervariasi yang enerjik dan menarik. Tari ini hampir sama dengan tari-tarian Eropa pada umumnya karena Katreji juga merupakan suatu akulturasi dari budaya Eropa (Portugis dan Belanda) dengan budaya Maluku. Hal ini lebih nampak pada setiap aba-aba dalam perubahan pola lantai dan gerak yang masih menggunakan bahasa Portugis dan Belanda sebagai suatu proses biligualisme. Tarian ini diiringi alat musik biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar, dengan pola rithm musik barat (Eropa) yang lebih menonjol. Tarian ini masih tetap hidup dan digemari oleh masyarakat Maluku sampai sekarang.
Selain Katreji, pengaruh Eropa yang terkenal adalah Polonaise yang biasanya dilakukan orang Maluku pada saat kawinan oleh setiap anggota pesta tersebut dengan berpasangan, membentuk formasi lingkaran serta melakukan gerakan-gerakan ringan yang dapat diikuti setiap orang baik tua maupun muda.

ADAT PERKAWINAN

Daerah Maluku yang terdiri dari beratus-ratus pulau mempunyai berbagai suku bangsa, seperti suku Ternate, suku Ambon, suku Seram, suku Tidore, suku Kei dan sebagainya. dibawah ini akan diterangkan mengenai adat perkawinan di Maluku Utara yang banyak didiami oleh suku Ternate dan suku Tidore.

SEJARAH

Maluku memiliki sejarah yang panjang mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama kurang lebih 2300 tahun lamanya dengan didominasi secara berturut-turut oleh bangsa Arab, Portugis, Spanyol dan Belanda serta menjadi daerah pertempuran sengit antara Jepang dan Sekutu pada era Perang Dunia ke II.
Para penduduk asli Banda berdagang rempah-rempah dengan negara-negara Asia lainnya, seperti Cina, paling tidak sejak zaman Kekaisaran Romawi. Dengan adanya kemunculan agama Islam, perdagangan didominasi oleh para pedagang Muslim. Salah satu sumber kuno Arab menggambarkan lokasi dari pulau ini berjarak sekitar lima belas hari berlayar dari Timur ‘pulau Jaba’ (Jawa)namun perdagangan langsung hanya terjadi hingga akhir tahun 1300an. Para pedagang Arab tidak hanya membawa agama Islam, tetapi juga sistem kesultanan dan mengganti sistem lokal yang dimana didominasi oleh Orang Kaya, yang disamping itu lebih efektif digunakan jika berurusan dengan pihak luar.
Melalui perdagangan dengan para pedagang Muslim, bangsa Venesia kemudian datang untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dari Eropa antara 1200 dan 1500, melalui dominasi atas Mediterania ke kota pelabuhan seperti Iskandariyah (Mesir), setelah jalur perdagangan tradisional mulai terganggu oleh Mongol dan Turki. Dalam menunjang monopoli ini kemudian mereka ikut serta dalam Abad Eksplorasi Eropa. Portugal mengambil langkah awal penjelajahan dengan berlayar ke sekitar tanjung selatan benua Afrika, mengamankan rute-rute penting perdagangan, bahkan tanpa sengaja menemukan pantai Brazil dalam pencarian ke arah selatan. Portugal akhirnya sukses dan pembentukan daerah monompolinya sendiri dan memancing keukasaan maritim lain seperti Spanyol-Eropa, Perancis, Inggris dan Belanda untuk mengganggu posisinya.
Karena tingginya nilai rempah-rempah di Eropa dan besarnya pendapatan yang dihasilkan, Belanda dan Inggris segera terlibat dalam konflik untuk mendapatkan monopoli atas wilayah ini. Persaingan untuk memiliki kontrol atas kepulaiuan ini menjadi sangat intensif bahakn untuk itu Belanda bahkan memberikan pulau Manhattan (sekarang New York), di pihak lain Inggris memberikan Belanda kontrol penuh atas kepulauan Banda. Lebih dari 6.000 jiwa di Banda telah mati dalam perang rempah-rempah ini. Dan dikemudian hari, kemenangan atas kepulauan ini dikantongi Kerajaan Belanda.

Era Portugis dan Spanyol

Selain dari adanya pengaruh kebudayaan hal yang paling signifikan dari efek kehadiran Portugis adalah gangguan dan disorganisasi perdagangan Asia namun disamping itu adalah adanya penyebaran Agama Kristen di Indonesia Timur termasuk Maluku. Portugis yang telah menaklukkan Malaka pada awal abad keenambelas dan pengaruh mereka terasa sangat kuat di Maluku dan kawasan lain di timur Indonesia. Setelah penaklukan Portugis atas Malaka pada bulan Agustus 1511, Afonso de Albuquerque pelajari rute ke Kepulauan Banda dan Kpulauan Rempah-Rempah lainnya dengan mengirim sebuah penjelajahan tiga kapal ekspedisi di bawah pimpinan António de Abreu, Simao Afonso Bisigudo dan Francisco Serrano. Di tengah perjalanan untuk kembali, Francisco Serrao yang terdampar di pulau Hitu (Ambon utara) pada 1512. Ia mendirikan hubungan dengan penguasa lokal yang terkesan dengan kemampuan militer. Adanya pertikaian antara Kerajaan Ternate dan Tidore juga melibatkan Portugis.
Setelah bergabung dengan Ternate, Serrão kemudian membangun benteng di pulau tersebut dan menjadi kepala duitan dari para serdadu Portugis di bawah pelayanan satu dari dua sultan yang berkuasa mengendalikan perdagangan rempah-rempah. Namun dengan adanya penyebaran agama Kristen mengakibatkan terjadinya ketegangan dengan Penguasa Ternate yang adalah Muslim. Ferdinand Magellan Serrão mendesak dia untuk bergabung di Maluku dan memberikan informasi para penjelajah tentang Kepulauan rempah-rempah. Akan tetapi, keduanya meninggal sebelum sempat bertemu satu sama lain. Pada tahun 1535 Raja Tabariji diberhantikan dan dikirim ke Goa oleh Portugis. Ia kemudaun menganut Kristen serta mengubah namanya menjadi Dom Manuel. Setelah dinyatakan bersalah, dia dikirim kembali ke takhtanya kembali, tetapi meninggal dalam perjalanan di Melaka pada 1545. Meskipun begitu, ia mewariskan pulau Ambon kepada Ayah Baptisnya yang adalah seorang Portugis, Jordão de Freitas. Setelah kejadian pembunuhan Sultan Hairun oleh Portugis, Ternate keudian mengusir mereka pada tahun 1575 setelah pengepungan selama 5 tahun.
Pendaratan Portugis yang pertama di Ambon terjadi pada tahun 1513, yang dikemudian hari akan menjadi pusat kegiatan Portugal di Maluku setelah pengusiran dari Ternate. Kekuatan Eropa didaerah tersebut pada saat itu lemah dan Ternate makin menyebarkan kekuasaannya sebagai Kerajaan Islam anti Portugis dibawah pimpinan Sultan Baab Ullah dan anaknya Sultan Said. Di Ambon, Portugis mendapat perlawanan dari penduduk muslim lokal di daerah utara pulau tesebut terutama di Hitu yang telah lama menjalin hubungan kerjasama perdagangan dan agama dengan kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa.Sesungguhnya, Portugis tidak pernah berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah lokal dan gagal dalam upaya untuk membangun otoritas mereka atas kepulauan Banda, pusat produksi pala.
Spanyol kemudian mengambil kontrol atas Ternate dan Tidore. Misionaris dan saah satu dari Orang Suci Katholik, Santo Fransiscus Xaverius (Saint Francis Xavier), tiba di Maluku pada tahun 1546-1547 kepada orang Ambon, Ternate dan Morotai serta meletakkan dasar untuk misi permanen disana. Dengan tibanya beliau disana, 10.000 orang telah dibaptis menjadi Katholik, dengan presentase terbanyak di pulau Ambon dan sekitar tahun 1590 terdapat 50.000 bahkan 60.000 orang telah dibaptis, walaupun beberapa daerah sekitarnya tetap menjadi daerah Muslim.
Selama pekerjaan Misionaris, telah terdapat komunitas Kristen dalam jumlah besar di daerah timur Indonesia selama beberapa waktu, serta telah berkontribusi terhadap kepentingan bersama dengan Eropa, khususnya di antara orang Ambon. Pengaruh lainnya termasuk sejumlah besar kata berasal dari Indonesia Portugis yang di samping Melayu merupakan bahasa pergaulan sampai awal abad kesembilanbelas. Kata-kata dalam Bahasa Indonesia seperti pesta, sabun, bendera, meja, Minggu, semua berasal dari bahasa Portugis. Banyak pula nama-nama keluarga di Maluku berasal dari Portugis seperti de Lima, Waas, da Costa, Dias, de Fretas, Gonsalves, Mendosa, Rodrigues dan da Silva.

Kerajaan Belanda

Orang Belanda tiba pada tahun 1599 dan melaporkan adanya usaha Portugis untuk memonopoli perdagangan tradisional mereka. Setelah Orang Ambon berhasil membantu Belanda dalam membangun benteng di Hitu Lama, Portugis memulai kampanye melawan bantuan terhadap Ambon dari Belanda. Setelah 1605 Frederik Houtman menjadi gubernur Belanda pertama Ambon. VOC merupakan perusahan perdagangan Belanda yang terhambat oleh tiga faktor daam menjalankan usahanya yaitu: Portugis, penduduk lokal dan Inggris. Sekali lagi, penyelundupan merupakan satu-satunya cara untuk monopoli Eropa. Selama abad ke-17, Banda melakukan perdagangan bebas dengan Ingris. Upaya Belanda adalah dengan mengurangi jumlah penduduk asli Banda lalu mengirim lainnya ke luar pulai serta mendirikan instalasi budak kerja.
Walaupun lainnya kembali menetap di Kepulauan Banda, sisa wilayah Maluku lainnya tetap sangat sulit untuk berada dibawah kontrol asing bahkan setelah Portugis mendirikan stasiun perdagangannya di Makassar, terjadi pemberontakan penduduk lokal pada tahun 1636 dan 1646. Dibawah kontrol kompeni Maluku teradministrasi menjadi residen Belanda yaitu Ternate di Utara dan Amboyna (Ambon) di selatan.

Perang Dunia II

Pecahnya Perang Pasifik tanggal 7 Desember 1941 sebagai bagian dari Perang Dunia II mencatat era baru dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Gubernur Jendral Belanda A.W.L. Tjarda van Starkenborgh , melalui radio, menyatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda dalam keadaan perang dengan Jepang. Tentara Jepang tidak banyak kesulitan merebut kepulauan di Indonesia. Di Kepulauan Maluku, pasukan Jepang masuk dari utara melalui pulau Morotai dan dari timur melalui pulau Misool. Dalam waktu singkat seluruh Kepulauan Maluku dapat dikuasai Jepang. Perlu dicatat bahwa dalam Perang Dunia II, tentara Australia sempat bertempur melawan tentara Jepang di desa Tawiri. Dan untuk memperingatinya dibangun monumen Australia di desa Tawiri (tidak jauh dari Bandara Pattimura). Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maluku dinyatakan sebagai salah satu propinsi Republik Indonesia. Namun pembentukan dan kedudukan Propinsi Maluku saat itu terpaksa dilakukan di Jakarta, sebab segera setelah Jepang menyerah, Belanda (NICA) langsung memasuki Maluku dan menghidupkan kembali sistem pemerintahan kolonial di Maluku. Belanda terus berusaha menguasai daerah yang kaya dengan rempah-rempahnya ini, bahkan hingga setelah keluarnya pengakuan kedaulatan pada tahun 1949 dengan mensponsori terbentuknya Republik Maluku Selatan (RMS).

Mitos KNIL = Orang Maluku


Mitos KNIL = Orang Maluku

Anggota KNIL asal Maluku
Tahun 1936, jumlah pribumi yang menjadi serdadu KNIL mencapai 33 ribu orang, atau sekitar 71% dari keseluruhan tentara KNIL, di antaranya terdapat sekitar 4.000 orang Ambon, 5.000 orang Manado dan 13.000 orang Jawa.

Apabila meneliti jumlah perwira, bintara serta prajurit yang murni orang Belanda terlihat, bahwa sebenarnya jumlah mereka sangat kecil. Juga stigmatisasi bahwa orang Ambon adalah tumpuan Belanda dalam dinas ketentaraan adalah tidak benar, karena ternyata jumlah orang Ambon yang menjadi serdadu Belanda jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah orang Jawa. Juga pribumi yang mencapai pangkat tertinggi di KNIL bukanlah orang Ambon, melainkan Kolonel KNIL R. Abdulkadir Wijoyoatmojo, yang tahun 1947 memimpin delegasi Belanda dalam perundingan di atas kapal perang AS Renville, yang membuahkan Persetujuan Renville.

Tahun 1950, setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat, jumlah orang Indonesia yang masih menjadi serdadu KNIL diperkirakan sekitar 60.000 (!) orang, dan sebagian besar dari mereka diterima ke dalam tubuh Tentara nasional Indonesia (TNI). Jumlah orang Ambon diperkirakan sekitar 5.000 orang, yang sebagian besar ikut dibawa ke Belanda dan tinggal di sana sampai sekarang.

Dengan merekrut tentara yang berasal dari pribumi serta politik divide et impera-nya, menjadi tulangpunggung yang memungkinkan Belanda menang dalam banyak pertempuran melawan kerajaan-kerajaan di India-Belanda, dan di beberapa daerah –seperti di Jakarta- mereka dapat berkuasa selama sekitar 300 tahun. Hal tersebut terjadi karena juga ditunjang oleh keserakahan dan egoisme para raja dan sultan serta pribumi lain yang bersedia bekerjasama dengan penjajah.

KNIL adalah didirikan pertama kali tahun 1830 ketika van den Bosch menjadi Gubernur Jenderal di Hindia Belanda. Selama puluhan tahun, KNIL dimata pemerintah kolonial di Batavia terbilang sukses dalam menumpas berbagai pemberontakan di nusantara—walaupun masih ada pemberontakan kecil yang terus meletup. Tujuan didirikannya KNIL jelas bisa ditebak, menegakan kekuasaan kolonial secara de facto atas Hindia Belanda dalam rangka memperkaya kerajaan Belanda dengan melakukan berbagai eksploitasi isi tanah Hindia Belanda. Penguasa lokal bisa menjadi pengha;lang rencana itu karena merasa terganggu. Hal itu bisa berbuah menjadi sebuah pemberontakan. Jadi tugas KNIL paling utama menghabisi perlawanan dalam negeri—didalam koloni Hindia Belanda—dan sebagai militer KNIL hanya difokuskan didalam negeri saja. KNIL bukanlah sebagai angkatan perang yang ditugaskan untuk menghadapi musuh dari luar

Perekrutan prajurit bawahan KNIL dilakukan hanya dibeberapa tempat saja di Hindia Belanda. Pemerintah kolonial, seperti memiliki kebijakan tidak tertulis, hanya merekrut prajurit KNIL dari daerah-daerah yang tidak terjadi pergolakan—atau setidaknya, selama beberapa waktu tidak memiliki permusuhan dengan pemerintah kolonial. pemuda-pemuda dari daerah-daerah sekitar Ambon, Menado, Minahasa adalah lokasi perekrutan ideal, sebelum akhirnya orang-orang Jawa dengan adanya basis militer Belanda di Gombong.
KNIL, dalam sejarah identik dengan suku Ambon yang dicap Belanda hitam—karena banyak yang melakukan Gelijkgesteld. Steriotip bahwa Ambon identik dengan KNIL telah banyak menjebak orang-orang untuk berpikir bahwa serdadu KNIL banyak yang berasal dari orang-orang Ambon. Sebenarnya sebagian besar serdadu KNIL berasal dari Jawa—saat itu Jawa sudahmenjadi pulau, juga suku, dengan populasi terbesar di Hindia Belanda. Hanya saja prajurit KNIL dari suku Ambon memiliki pengaruh dominan dalam KNIL.
Orang Ambon bersama orang-orang Menado dan Eropa lainnya adalah formasi terdepan dalam pertempuran. Orang-orang Ambon mungkin lebih dulu direkrut dalam dinas militer kolonial dibanding suku-suku lain di Indonesia—tercatat sejak zaman Kapitan Yonker. Karena hal ini orang-orang Belanda menganggap orang-orang Ambon loyal terhadap pemerintah kolonial—sehingga pemerintah kolonial memberikan orang-orang Ambon—seperti juga orang-orang Minahasa dan Menado—fasilitas yang lebih baik daripada prajurit KNIL dari suku lain.
Masalah agama juga menjadi sumber perbedaan diantara kalangan KNIL sendiri. Sekitar 7.500 personil KNIL adalah orang-orang Katolik, baik Eropa totok maupun Eurasia. Kalangan katolik dalam KNIL ini mendapat perhatian dari kaum misionaris Eropa yang menyebarkan agama katolik di Indonesia. keuntungan mendapat kenaikan gaji, dengan menjadi seorang kristen menjadi sesuatu yang menarik bagi prajurit rendahan—kendati tidak semua prajurit rendahan pribumi melakukannya. Masalah kedisiplinan religius yang besar harus dihadapi imam serdadu kolonial itu terkait kebiasaan memelihara nyai didalam tangsi.
Pernah ada keinginan dari beberapa prajurit KNIL agar mereka tidak lagi disatukan berdasarkan suku melainkan kesamaan agama. Dalam KNIL pengarush agama protestan, meski tidak dianut oleh sebagian besar serdadu KNIL, adalah sebuah agama yang dominan—seperti yang dianut beberapa serdadu KNIL Ambon. Seorang pater bernama H.C. Verbraak yang pernah terlibat dalam rehabilitasi serdadu KNIL tahun 1882 yang ditangkap lagi setelah desersi menulis: “Pagi ini salah seorang desertir berdamai kembali dengan Allah. Ia berhasil mealrikan diri bersama seorang teman selam tiga minggu. Mereka mengalami penderitaan kejam diantara orang-orang Aceh, dan malah jauh lebih menyedihkan lagi para desertir ini menganut agama Islam. Orang-orang ini tergoda oleh rumor palsu mengenai kehidupan mewah diantara orang-orang Aceh. Barangkali tidak ada lagi keinginan untuk hidup diantara orang-orang Aceh.”.
Pemerintah kolonial berusaha menegakan disiplin tentara dengan menggunakan imam iman katolik mungkin juga pendeta protestan. Semuanya, diharapkan oleh pemrintah, akan menghindari desersi serdadu kolonial ytang sangat dibutuhkan dalam penegakan kedaulatan Hindia Belanda—yang kerap dirong-rong oleh orang-orang lokal anti koloniliasi Belanda yang datang tanpa bisa ditebak kapan akan terjadi.
Agama barat itu diserap dengan sangat baik oleh banyak serdadu KNIL, khususnya yang berasal dari Ambon, Menado, Minahasa. Hingga berakhirnya KNIL banyak serdadu KNIL, bila memang beragama, adalah penganut protestan atau katolik. Mereka nyaris tidak bisa menyatu dengan prajurit TNI yang mayoritas dan dominan dengan dengan kultur Islam—yang diantara menganut Islma kejawen.
Perbedaan agama dengan mayoritas pribumi itu bisa jadi menjadi faktor selain politis dan ekonomis yang membuat mereka begitu ingin bertempur dengan tentara Indoensia yang umumnya berbeda keyakinan dengan mereka. Dimana pada akhirnya banyak bekas serdadu KNIL yang lebih memilih meninggalkan Indoesia tanpa harus berpikir dimana tanah air mereka sebenarnya. Salah satu harapan, mereka tidak perlu pusing untuk hidup dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan mereka. Didepan mata mereka, sudah muncul suatu ramalan, dominasi agama besar yang berbeda dengan mereka akan membuat mereka menjadi korban diskriminasi sosial dimasyarakat dimasa mendatang.

Dalam pertempuran orang-orang Jawa, berada dibelakang barisan orang-orang Ambon, Menado dan Belanda. Karena formasi ini pula timbul pemikiran bahwa orang-orang Jawa tidak loyal—atau mungkin juga tidak mampu bertempur. Pemikiran macam ini jelas salah, banyak juga orang-orang Jawa terpilih untuk menjadi prajurit Marsose—pasukian khusus Belanda yang mampu bergerilya dan beradu klewang dengan pertempuran jarak dekat. Bukti ini dalam dilihat dalam kerkof (kuburan militer) di Aceh—terdapat nama-nama Jawa, Ambon, Menado yang gugur sebagai prajurit Marsose. Beberapa orang Jawa juga telah mendapatkan medali kehormatan militer Belanda atas keberanian mereka dalam pertempuran—Militaire Willemsorde kelas IV.
Karena diskriminasi fasilitas dalam KNIL—selain karena sedang terjadi revolusi kemerdekaan yang hebat di Jawa—mengakibatkan tidak ada rekrutmen serdadu KNIL lagi di Jawa dalam jumlah besar. Bekas KNIL suku Jawa—yang setelah Jepang menduduki Indonesia dibebaskan oleh Jepang—lebih senang menjadi prajurit TNI yang belum mapan daripada bergabung kembali masuk KNIL yang diskriminatif. Ambil contoh Soeharto, Gatot Subroto dari kelompok bintara. Dari kelompok bintara ini KNIL, banyak yang kemudian diterima oleh Jepang untuk dijadikan perwira dalam PETA. Tentara pendudukan Jepang tidak menerima bekas perwira karena telah menerima pengaruh profesionalisme barat. Kepada prajurit PETA, para Jepang instruktur Jepang cenderung mendiskreditkan KNIL. Pamoe Rahardjo, mantan PETA, menulis: “saya lalu teringat dalam indoktrinasi sewaktu di PETA, selalu diajarkan bahwa KNIL adalah pasukan yang menjadi musuh pokok bangsa Indonesia”.
Banyak orang berpendapat bahwa orang-orang yang bekjerja untuk kepentingan pemerintah kolonial akan mendeapat banyak kesenangan. Hal ini tidak berlaku bagi KNIL. Sebagai serdadu KNIL mereka mendapat uang yang mungkin cukup untuk hidup dan sedikit bersenang-senang. Sebagai alat pemerintah mereka seolah diberi predikat pahlawan dimana orang-orang di Hindia menghormati mereka. Hal yang terjadi pada prajurit KNIL itu bukan sebagai orang yang dihormati sebagai pahlawan yang menegakan kekuasaan kolonial di nusantara. Serdadu KNIL, terutama prajurit rendahan sebenarnya berada dalam kondisi terisolasi dalam struktur masyarakat kolonial. Bukan hanya ketika sedang mengikuti ekspedisi namun ketika berada di garnisun tentara ketika tidak berperang. Meraka, prajurit KNIL itu hanya bisa bergantung pada diri sendiri dan kawan-kawan seprofesinya. Penduduk kota biasanya memandang sebelah mata pada mereka, para serdadu KNIL.
Mereka tidak temukan kenyamanan untuk bergaul dengan orang-orang biasa diluar tangsi kecuali kedai minum dan tempat prostitusi karena kebiasaan mereka pada minuman dan wanita. karenanya, prajurit itu lebih nyaman berada ditengah kawan-kawan KNIL-nya. Hal ini semakin lama makin mengisolasikan mereka baik dari masyarakat kolonial bangsa Eropa maupun orang-orang pribumi. Dimata banyak orang-orang pribumi profesi prajurit kolonial adalah rendah. Mungkin orang memandang mereka pembunuh, penzinah dan pemabuk—bukan karena mereka mematah perlawanan lokal di nusantara untuk kerajaan Belanda. Serdadu bawahan KNIL secara turun-temurun telah dijadikan kelas terhina dalam masyarakat kolonial.
Kehinaan dimasa kolonial jelas mereka rasakan, apalagi setelah revolusi kemerdekaan RI, dimana banyak hal kehinaan yang mereka terima. Rakyat Indonesia, setelah revolusi pasti begitu membenci hal-hal berbau kolonial, apalagi tentara kolonial yang menjadi alat penjajah di nusantara. Bekas KNIL pasca revolusi pasti meramalkan akan adanya kehinaan yang mereka terima dimasa-masa Indonesia merdeka. Kehinaan itu tentu diikuti dengan rasa permusuhan orang-orang opurtunis kini pro Republik pasti merasa bisa berbuat semaunya karena republik tampil sebagai pemenang. KNIL, dalam sejarahnya tidak mau menjadi pecundang, mereka telah patahkan banyak perlawanan rakyat lokal. Sangat tidak mungkin bagi mereka menerima penghinaan dari orang-orang pasca revolusi yang pro republik. Penghinaan yang akan diterima pasti lebih menyakitkan. Bukan lagi dianggap hina namun lebih dihinakan lagi. Dendam historis pasti banyak terjadi pasca revolus.

Negeri Soya, Pulau Ambon


Negri Soya

Peta Teung Negri Soya



Negeri Soya  tidak dapat dipastikan kapan berdirinya. Yang pasti, Negeri ini termasuk Negeri yang tertua di Jazirah Leitimor.
Berdasarkan penuturan dan cerita-cerita tua,  Leluhur yang mendiami negeri Soya berasal dari Nusa Ina (Pulau Seram) antara lain,  dari Seram Utara, kurang lebih  tempatnya dekat Sawai suatu wilayah yang bernama “Soya”, serta  dari Seram Barat (sekitar daerah Tala).

Dari sumber cerita yang ada, perpindahan para leluhur orang Soya datang secara bergelombang yang kemudian menetap di Negeri Soya.
Mereka membentuk clan baru yang kemudian menjadi  nama pada tempat kediamanya yang baru. Nama ini  sama dengan nama di tempat asalnya. Hal ini dimaksudkan  sebagai kenang-kenangan atau peringatan.
Negeri Soya kemudian berkembang menjadi suatu kerajaan dengan sembilan Negeri Kecil yang dikuasai Raja Soya.

Adapun kesembilan negeri kecil tersebut yakni :

  • Uritetu, suatu negeri yang diperintah oleh “Orang Kaya”. Negeri ini letaknya sekitar Hotel Anggrek. Uritetu artinya dibalik bukit.
  •  Honipopu,  adalah sebuah negeri yang diperintah oleh “Orang Kaya”. Negeri ini  letaknya di sekitar Kantor Kota Ambon saat ini.
  • Hatuela,  juga di bawah pimpinan seorang “Orang Kaya”, letaknya di antara Batu Merah dan Tantui sekarang. Hatuela artinya Batu Besar.
  • Amantelu, dipimpin oleh  seorang “Patih”, yang  letaknya dekat Karang Panjang. Amantelu artinya, Kampung Tiga.
  • Haumalamang, dipimpin seorang “Patih”, letaknya belum dapat dipastikan. (diperkirakan di negeri Baru dekat Air Besar).
  • Ahuseng,  dipimpin oleh “Orang Kaya”,  letaknya di Kayu Putih sekarang.
  • Pera,  dipimpin oleh “Orang Kaya”, letaknya di Negeri Soya sekarang.
  • Erang,  dipimpin oleh “Orang Kaya”, letaknya di belakang Negeri Soya sekarang. Erang berasal dari nama “Erang Tapinalu” (Huamual di Seram).
  • Sohia,  adalah Negeri tempat kedudukan Raja, letaknya antara Gunung Sirimau dan Gunung Horil.

Setiap Rumah Tau (mata rumah) yang ada memilih salah satu batu yang dianggap sebagai batu peringatan kedatangan mereka pada pertama kalinya di Negeri Soya.
Batu-batu ini dianggap sebagai perahu-perahu yang membawa mereka ke tempat dimana mereka akhirnya berdiam dan yang lasim disebut “Batu Teung”.

Saat ini di Soya dapat  ditemukan beberapa Teung antara lain :

  • Teung Samurele untuk Rumah Tau Rehatta
  • Teung Saupele untuk Rumah Tau Huwaa
  • Teung Paisina untuk Rumah Tau Pesulima
  • Teung Souhitu untuk Rumah Tau Tamtelahittu
  •  Teung Rulimena untuk Rumah Tau Soplanit
  • Teung Pelatiti untuk Rumah Tau Latumalea
  • Teung Hawari untuk Rumah Tau Latumanuwey
  •  Teung Soulana untuk Rumah Tau de Wana
  • Teung Soukori untuk Rumah Tau Salakory
  • Teung Saumulu  untuk Rumah Tau Ririmasse
  • Teung Rumania untuk Rumah Tau Hahury
  • Teung neurumanguang untuk Rumah Tau lapui
Teung-Teung ini seharusnya berjumlah 14 (empat belas) buah, dua diantaranya masih perlu diselidiki. Diantara teung-teung yang ada, ada dua tempat yang mempunyai arti tersendiri bagi anggota-angota clan tersebut yakni;
  1. Baileo Samasuru, yaitu tempat mengadakan rapat dan berbicara.
  2. Tonisou, yaitu suatu perkampungan khusus bagi Rumah Tau Rehatta yang di dalamnya disebut sebuah Teung.
Beberapa diantara rumah Tau tersebut tidak lagi menetap di negeri Soya, begitu pula Negeri kecil yang pernah ada telah hilang disebabkan beberapa faktor dan perkembangan yang terjadi didalam masyarakatnya.
Raja Soya yang pertama adalah “latu Selemau” dan isterinya bernama Pera Ina. Dibawah pemerintahan Latu Selemau, Negeri Soya (termasuk 9 negeri kecil yang berada dibawah kekuasaanya), merupakan suatu kesatuan besar,   Dalam masa kebesarannya, Latu Selemau dianugerahkan beberapa gelar yang lebih agung yang merupakan bukti kebesarannya ialah : “LATU SELEMAU AGAM RADEN MAS SULTAN LABU INANG MOJOPAHIT” Gelar ini berkenan dengan hubungan dagang, bahkan perkawinan dengan orang-orang dari Kerajaan Majapaahit.
SISTEM PEMERINTAHAN NEGERI
Sistem pemerintahan negeri Soya pada mulanya merupakan sistem Saniri Latupati yang terdiri dari :
  • Upulatu (Raja);
  • Para Kapitan;
  • Kepala-kepala Soa (Jou), Patih dan Orang Kaya;
  • Kepala Adat (Maueng);
  • dan Kepala Kewang,
Lambang Negri Soya
Saniri Latupati dilengkapi dengan “Marinyo” yang biasanya bertindak sehari-hari sebagai yang menjalankan fungsi hubungan masyarakat yang dikenal sekarang dengan nama HUMAS (Hubungan Masyarakat) dan pembantu bagi badan tersebut. Saniri Latupati dapat dianggap sebagai Badan Eksekutif pada saat ini.
Saniri Besar, yaitu persidangan besar yang biasanya diadakan sekali setahun atau bila diperlukan. Persidangan Saniri Besar dihadiri oleh Saniri Latupati dan semua Laki-laki yang telah dewasa dan orang-orang tua yang berada dan berdiam di dalam negeri Soya. Persidangan Saniri Besar merupakan suatu bentuk implementasi sistem demokrasi langsung.
Dalam perkembangannya, kemudian dibentuk pula Saniri Negeri yang terdiri dari Saniri Latupatih ditambah dengan unsur-unsur yang ada dalam negeri. Misalnya : Pemuda, dan organisasi-oraganisasi dari anak negeri yang ada. Persidangan Saniri Negeri dapat di anggap sebagai persidangan legislatif.
Kondisi Geografis Negeri Soya
 
Negeri Soya adalah sebuah Negeri Adat, terletak di pinggir Kota Ambon, dengan puncakGunung Sirimau sebagai Icon-nya. Negeri ini berada di ketinggian lebih kurang 464 Meter dari permukaan laut.

Berbatasan; sebelah Timur dengan Negeri Hutumury dan Negeri Passo; sebelah Barat dengan Negeri Halatay;   sebelah selatan dengan Negeri Naku dan Ema; dan sebelah Utara dengan LautTeluk Ambon. Suhu udara pada umumnya berkisar antara 20 derajat – 30 derajat Celcius. Untuk mencapai Negeri Soya dapat digunakan kendaraan jenis apapun dengan kondisi jalan yang berliku-liku namun mulus, dengan jarak kurang lebih 4 Km dari pusat Kota Ambon.
Sejumlah kekayaan peninggalan sejarah seperti Gereja Soya, memberi nilai tersendiri bagi negeri ini. Letak Gereja Tua Soya yang selama ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, berada di tengah-tengah Negeri Soya, merupakan tempat yang sangat strategis karena berdampingan dengan sekolah dan Balai Pertemuan serta Rumah Raja. Sebagai Negeri yang kaya dengan nilai budaya dan adat istiadat,  Negeri Soya merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Maluku. Situs Gereja Tua Soya adalah salah  satu tempat yang selama ini paling banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar negeri, disamping tempat-tempat lain seperti;Tempayang yang selalu berisi air walaupun tidak hujan yang berada di  tengah puncak Gunung Sirimau.
Secara Topografis, Negeri Soya berbukit-bukit yang merupakan gejala morpologis. Keadaan demikian menjanjikan kesuburan tanah yang dapat diusahakan dengan tanaman buah-buahan dan tanaman umur panjang lainnya. Dengan Letaknya di ketinggian daerah pegunungan serta curah hujan yang cukup tinggi,  maka Negeri Soya memiliki hutan yang subur, dengan ditumbuhi aneka ragam tanaman dan tumbuh-tumbuhan liar. Semua sungai/kali yang bermuara di pantai Teluk Ambon mulai dari Waihaong sampai ke pantai Passo, bersumber di lereng-lereng Gunung Sirimau dari petuanan Negeri Soya.

Budaya dan Agama

Penduduk Negeri Soya adalah masyarakat yang ramah dan religius, dengan gotong royong sebagai ciri khas masyarakat negeri penghasil durian dan salak ini. Nilai-nilai adat dan budaya seperti : Naik Baileo, cuci air, kain gandong, naik ke gunung Sirimau, selalu terpelihara dengan baik dan merupakan sebuah tradisi budaya yang telah menjadi Icon negeri dari turun temurun hingga saat ini.
Sebelum kedatangan bangsa Portugis  di Maluku, Negeri Soya merupakan sebuah kerajaan  yang berdaulat dengan wilayah kekuasaan meliputi, Teluk Ambon sampai ke Passo, Pesisir Pantai Timur sampai Selatan Jazirah Leitimor, dibawah pemerintahan Raja yang terkenal saat itu yakni “Latu Selemau” dengan Panglima Perangnya “Kapitan Hauluang” .  Raja dan Panglima perang ini dibantu  kapitan-kapitan kecil sebagai kepala pasukan tombak, panah, dan parang salawaku, dengan kekuatan 300 orang prajurit yang didukung oleh kurang lebih 1000 orang rakyat.
Hubungan dagang kerajaan Soya dengan Hitu, Ternate, dan Tidore bahkan Raja-Raja Goa terjadi pada akhir abad 14 saat Kerajaan Mojopahit telah pudar kekuasaannya dan kerajaan Islam mulai tumbuh. Bersamaan dengan itu, masuklah Armada Portugis yang menjadikan Kerajaan Soya kurang dipengaruhi oleh budaya Hindu maupun Islam.
Masyarakat Negeri Soya ternyata tidak menerima kedatangan bangsa Portugis yang bertujuan untuk melakukan perdagangan rempah-rempah. Rakyat Negeri Soya kemudian mengangkat senjata melawan Portugis. Perlawanan masyarakat tersebut dipimpin oleh tujuh anak Latu Selemau yang menguasai Soa Ahuseng, Soa Amangtelu, Soa Uritetu, Soa Labuhan Honipopu, dan Soa Atas. Perlawanan ini ternyata tidak membuahkan hasil. Kerajaan Soya takluk kepada Portugis. Kekalahan ini berhasil merubah wajah dan status Negeri Soya dari sebuah kerajaan yang berdaulat menjadi bagian dari daerah yang dikuasai oleh Portugis. Rakyatnya kemudian diinjili dan dibaptis oleh Fransiscus Xaverius dan menjadikan orang Soya beragama Kristen Katolik. Orang Soya yang tidak mau menyerah  terus bertahan di puncak Gunung Sirimau. Mereka hidup terisolir serta tidak mempunyai hubungan dengan kerajaan lainnya.
Pada tahun 1605 armada VOC dibawah Pimpinan Steven vander Hagen    memasuki labuhan Honipopu dan menyerang Benteng Portugis dari arah laut serta mengambil alih Benteng  Portugis dan diberi nama VICTORIA. Kemenangan VOC atas Portugis  membuka peluang bagi disebarkannya paham agama Kristen Protestan oleh Pendeta-Pendeta VOC. Hasilnya adalah, banyak orang Kristen Katholik beralih menjadi Kristen Protestan.
Kegiatan penginjilan ini dikaitkan dengan kepentingan VOC dalam menegakkan kekuasaan kolonial di Pulau Ambon. Dengan hak-hak istimewa yang mereka miliki dari Kerajaan Belanda, mereka gunakan untuk mengangkat pegawai asal pribumi termasuk juga mendidik dan menthabiskan pendeta baru asal pribumi untuk kepentingan penginjilan diantaranya; Lazarus Hitijahubessy yang diutus ke Negeri Soya untuk menyebarkan Injil pada tahun 1817. Melalui penginjilannya, Negeri Soya menjadi Kristen. Pengkristenan ini, ternyata berpengaruh terhadap adat-istiadat masyarakat Negeri. Secara adaptif nilai-nilai Kristiani dimasukan ke dalam adat maupun upacara adat seperti Rapat Negeri, Kain Gandong, Naik Baileo, Cuci Air, Cuci Negeri, naik ke puncak Gunung Sirimau dan Pesta Bulan Desember sebagai tanda persiapan/ penyambutan Natal Kristus.
Gedung Gereja Tua Soya walaupun bentuknya yang sederhana, namun telah memberikan andil bagi sejarah Pekabaran Injil di Maluku, khususnya di Negeri Soya. Kekristenan di Negeri Soya harus diakui tidak dapat dilepaskan dari hadirnya Joseph Kham yang bertemu dengan orang-orang Kristen di Negeri Soya pada tahun 1821. Jika digambarkan dalam angka, maka perkembangan  kekristenan pada saat itu adalah sebagai berikut : Anggota Sidi : 22 orang,  Anggota Babtis Dewasa : 21  orang,  Anak Sekolah : 10 orang,  Anak di luar Sekolah : 7  orang,  dan Anak yang dibabtis : 1 orang.
Dari angka tersebut di atas dapat dikatakan bahwa  proses pekabaran Injil di Negeri Soya ternyata berjalan lambat. Hal ini disebabkan karena masyarakat Soya yang masih terisolir, dan karenanya tidak mudah menyerahkan diri untuk dibaptis sebagai akibat peperangan dengan Bangsa Portugis. Faktor lain adalah, angka kelahiran yang sangat rendah disamping kehidupan sosial ekonomi.. Namun, harus diakui kedatangan Joseph Kham merupakan angin baru bagi penginjilan di Maluku termasuk Soya, yang menjadikan jumlah pemeluk Agama Kristen dari waktu ke waktu terus bertambah.
Dalam kaitannya dengan penyebaran Agama Kristen di Maluku, Gedung Gereja Soya sebenarnya mempunyai catatan sejarah tersendiri. Pertumbuhan Gedung Gereja Soya pada awalnya tidak diketahui. Untuk menampung kebutuhan kegiatan ibadah, pada tahun 1876 Raja Stephanus Jacob Rehatta memimpin orang Soya untuk memperbaiki serta memperluas bangunan Gereja secara semi permanen yang dipergunakan sampai tahun 1927. Pada masa pemerintahan Leonard Lodiwijk Rehatta, Gedung Gereja Soya yang diperbaharui tahun 1927, pada tahun 1996 kembali dipugar dan atau direstorasi dibawah panduan Bidang Museum Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Maluku. Hasil ini hanya bertahan hingga 28 April 2002 saat Negeri Soya diserang oleh kaum perusuh yang mengakibatkan korban jiwa meninggal 11 orang, 12 orang luka berat, dan sejumlah lain luka ringan, disamping 22 buah rumah hangus terbakar rata dengan tanah, dan  Gedung Gereja Tua Soya yang telah menjadi Bangunan Cagar Budaya.  Gereja Tua Soya  kemudian berhasil dibangun kembali dan diresmikan oleh Ketua Sinode GPM Dr. Chr. J. Ruhulessin, M.Si dan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu.

Asal Mula Upacara Adat Cuci Negeri

Menurut sumber yang ada, pada waktu dulu upacara adat cuci negeri  berlangsung selama lima hari berturut-turut. Segera setelah musim Barat (bertiupnya angin barat) yang jatuh pada bulan Desember,  Upacara cuci negeri dimulai. Mereka percaya bahwa dengan bertiupnya angin barat,  akan membawa serta datuk-datuk. Pada malam hari menjelang hari pertama dengan dipimpin oleh “Upu Nee” (initiator), para pemuda berkumpul di Samorele. Mereka mengenakan “cidaku” (Cawat), sedangkan mukanya dicat hitam (guna penyamaran), sebaliknya,  semua wanita dilarang  keluar rumah.
Para pemuda dengan dipimpin oleh Upu Nee menuju ke Sirimau tempat bersemayam Upulatu yang didampingi oleh seekor Naga. Upu Nee berjalan mendahului rombongan dan memberitahukan Upulatu bahwa, para pemuda akan datang dari clan-clan dimana mereka berasal.
Menjelang tengah malam, para pemuda yang ada didudukan dalam posisi bertolak belakang. Dalam keadaan seperti itu, datanglah Naga menelan mereka, dan menyimpan mereka selama lima hari dalam perutnya. Pada tengah hari pada hari kelima, Naga kemudian memuntahkan mereka. Masing-masing orang dari mereka kemudian menerima tanda, suatu lukisan berbentuk segi tiga pada dahi, dada, dan perut. Sementara itu,  para wanita dan orang-orang tua telah membersihkan Samasuru dan Negeri.
Menjelang tengah hari, turunlah Upulatu bersama pemuda-pemuda tadi dari tempat Naga menuju Samasuru. Di sana, keluarganya  telah menunggu. Dalam prosesi tersebut, lagu-lagu tua dan suci dinyanyikan (suhat) Raja / Upulatu mengambil tempat pada batu tempat duduknya (PETERANA) dan berbicaralah Raja  dari tempat itu (Batu Stori Peterana) sambil menengadahkan mukanya ke Gunung Sirimau.
Sejarah mengenai jasa-jasa, pekerjaan-pekerjaan besar dari para datuk-datuk, sifat kepahlawanan mereka diceritakan kepada semua orang yang sedang berkumpul. Permohonan-permohonan dinaikan kepada Ilahi (dalam bentuk KAPATA) yang antara lain berkisa kepada penyelamatan negeri Soya beserta penduduknya dari bahaya, penyakit menular, dan mohon kelimpahan berkah, Taufik dan Hidayat-Nya kepada semua orang. Selesai ini semua,  semua orang pun berdiri dan dua orang wanita (Mata Ina) yang tertua dari keluarga (Rumah Tau), Upulatu melilitkan sebuah pita yang berwarna putih melingkari orang itu (Kain Gandong Sekarang).
Dari cerita tua ini, nampak jelas pengaruh dari Upacara Tanda ala KAKEHANG di Seram Barat. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pada waktu dulu  upacara adat di Baileo (Samasuru)  dilakukan untuk merayakan lulusnya para pemuda yang lulus dari upacara initiati di puncak Gunung Sirimau  tersebut. Kemudian setelah masuknya agama Kristen yang dibawa oleh orang Portugis dan Belanda, maka penyelenggaraan upacara ini mengalami perubahan bentuk. Selanjutnya dengan cara evolusi yang terjadi di dalam masyarakat yang meliputi segi pendidikan, kerohanian, sosial, dan lain-lain, sebagaimana penyelenggaraannya dalam bentuk sekarang.

Maksud Dan Tujuan 

Maksud dari penyelenggaraan dan perayaan upacara adat tiap tahun di Negeri Soya oleh penduduk serta semua orang yang merasa hubungan kelaurganya dengan Negeri Soya bukan semata-mata didasarkan oleh sifatnya yang tradisionil, tetapi lebih dari itu, dimaksudkan untuk memelihara, dan atau  menghidupkan secara  terus menerus kepada generasi  sekarang maupun yang akan datang, berkenaan dengan, sifat dan nilai-nilainya yang positif.
Tidak dapat disangkal bahwa dari keseluruhan upacara adat ini, terdapat sejumlah hal penting antara lain: Persatuan, musyawarah, gotong royong, kebersihan, dan toleransi. Unsur-unsur tersebut di atas yang menjadikan upacara adat cuci negeri dapat  bertahan sampai saat ini. Maksud perayaan penyelenggaraan setiap kali menjelang akhir tahun tersebut dapatlah dijelaskan sebagai berikut :
Bahwa datuk-datuk/para leluhur dahulu memilih waktu pelaksanaan upacara adat tersebut tepat di bulan Desember , saat  permulaan  musim barat (waktu bertiup angin darat). Menurut kepercayaan mereka pada waktu itu, arwah leluhur biasanya kembali dari tempat-tempat peristirahatannya ke tempat-tempat dimana mereka pernah hidup. Disamping itu, ada kepercayaan bahwa sehabis musim timur/hujan,  biasanya keadaan yang diakibatkan selama musim hujan itu sangat banyak, antara lain : tanah longsor, rumah-rumah bocor, pagar dan jembatan rusak, sumur-sumur menjadi kotor dan banyak lagi hal-hal lain yang harus dibersihkan, dibetulkan, diperbaharui.
Untuk membenahi hal-hal yang diakibatkan oleh kejadian alam tersebut, maka para datuk-datuk menyelenggarakan upacara serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan penataan negeri dari berbagai kerusakan yang terjadi.
Dengan masuknya agama Kristen yang dibawa oleh Bangsa Barat, maka beberapa hal yang berbau animisme dan dinamisme ditanggalkan dan disesuaikan dengan ajaran Kristen seperti: meniadakan persiapan-persiapan untuk menyambut arwah-arwah leluhur. Makna kegiatan ini juga kemudian dikaitkan dengan ajaran Kristen dalam kaitannya dengan persiapan-persiapan perayaan Natal. Makna dari cuci negeri ini lebih ditonjolkan dengan maksud untuk mempersiapkan masyarakat dalam menyambut Anak Natal.
Upacara cuci negeri dengan demikian lebih bersifat menyucikan diri dari perasaan perseteruan, kedengkian, curiga-mencurigai (Simbolnya pada : turun mencuci tangan, kaki, dan muka di air Wai Werhalouw dan Unuwei). Dari segi keagamaan, penyelenggaraan ini yang kebetulan berlangsung pada awal bulan Desember mempunyai makna yang luas dalam menyongsong dan menyambut hari Raya Natal, Kunci Tahun dan Tahun Baru. Kesibukan di hari-hari ini sekaligus merupakan hari-hari atau minggu advent untuk persiapan perayaan hari raya berikutnya dengan keadaan yang cukup baik.

Upacara Adat Cuci Negeri 

Sejak dahulu Negeri Soya telah terkenal dengan Upacara Adat “Cuci Negeri”. Upacara ini menarik perhatian banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri, serta para ilmuan. Seorang Anthropolog Amerika, Dr. Frank Cooley telah menyelesaikan disertasinya yang berjudul “Altar and Throne in Central Moluccan Societies” untuk mencapai gelar Doktor dengan mempergunakan banyak sekali data-data dari upacara adat tersebut.
Adapun proses  jalannya upacara adat “Cuci Negeri” dapat dijelaskan  sebagai berikut :

o    Rapat Saniri Besar
o    Pembersihan Negeri
o    Naik ke Gunung Sirimau dan Matawana
o    Turun dari Gunung Sirimau dan Penyambutan di Rulimena
o    Upacara Naik Baileo Samasuru
o    Kunjungan ke Wai Werhalouw dan Uniwei
o    Persatuan dalam  Kain Gandong
o    Kembali Ke Rumah Upulatu (Raja)
o    Pesta Negeri
o    Cuci Air

 
1.    Rapat Saniri Besar 


Upacara adat Cuci negeri biasanya diselenggarakan pada setiap minggu kedua bulan Desember. Sebelum pelaksanaan upacara, pada tanggal 1 Desember selalu diadakan Rapat Saniri Besar,  dimana berkumpul semua orang laki-laki yang dewasa, bersama Badan Saniri Negeri, serta Tua-Tua Adat untuk bermusyawarah membicarakan persoalan Negeri. Dalam musyawarah ini, terjadi dialog antara pemerintah dan rakyat secara langsung mengenai berbagai hal yang telah dipersiapkan oleh Saniri atas dasar Surat Masuk maupun yang langsung disampaikan oleh rakyat yang hadir pada saat itu. Pada rapat inilah,  masalah upacara adat dibicarakan.

2.    Pembersihan Negeri
 
Pada hari Rabu minggu kedua bulan Desember semua rakyat diwajibkan keluar untuk membersihkan negeri secara gotong royong. Pembersihan tersebut dimulai dari depan Gereja sampai ke Batu Besar, pekuburan, dan Baileo. Dalam kerja ini, Seorang wanita yang baru saja kawin dengan seorang pemuda Negeri Soya diterima sebagai “Mata Ina Baru” yang wajib mengambil bagian dalam upacara ini untuk menunjukkan ketaatannya kepada adat Negeri Soya.

Berkenaan dengan pembersihan Baileo, proses ini diawali oleh Kepala Soa Adat yang biasanya disebut “pica baileo”. Proses ini kemudian dilanjutkan oleh setiap anak negeri Soya yang hadir pada saat itu. Yang menonjol dari suasana pembersihan negeri ini adalah suasana gotong royong, kekeluargaan, dan persatuan.
 
3.    Naik Ke Gunung Sirimau
 
Pada hari Kamis malam  minggu kedua, sekumpulan orang laki-laki yang berasal dari Rumah Tau tertentu (Soa Pera) berkumpul di Teong Tunisou untuk selanjutnya naik ke Puncak Gunung Sirimau. Dengan iringan pukulan tifa, gong, dan tiupan “Kuli Bia” (kulit siput). Disana, mereka membersihkan Puncak Gunung Sirimau sambil menahan haus dan lapar.


4.    Turun dari Gunung Sirimau dan Penyambutan di Rulimena
 
Keesokan harinya, Jumat sore, orang-orang laki-laki yang sejak malam berada di puncak Gunung Sirimau turun dari Gunung Sirimau. Mereka  kemudian disambut untuk pertama kalinya di Soa Erang (Teung Rulimena). Di sana mereka  dijamu dengan sirih pinang, serta sopi.. Setelah itu rombongan menuju baileu. Di   Baileo mereka disambut oleh Mata Ina dengan gembiranya.


5.    Upacara “Naik Baileo” (Samasuru)
 

Mempersiapkan upacara Naik Baileo, rombongan “mata Ina” (ibu-ibu) dengan iringan tifa gong,  pergi menjemput Upulatu (Raja) serta membawanya ke Baileo,  semen-tara seluruh rakyat telah ber-kumpul di Baileo menantikan Raja dan rombongan. Di pintu Baileo,  Upulatu disambut oleh seorang Mata Ina dengan ucapan selamat datang serta kata-kata penghormatan sebagai berikut : “Tabea Upulatu Jisayehu,  Nyora Latu Jisayehu, Guru Latu Jisayehu. Upu Wisawosi, Selamat datang  -  Silahkan Masuk ” -  Raja kemudian memasuki Baileu dan saat itu upacara segera dimulai.

Dengan iringan tifa dan gong yang bersemangat, para “Mata Ina” secara simbolik membersihkan baileu dengan sapu lidi dan gadihu, suatu tanda berakhirnya pembersihan negeri secara keseluruhan.

Setelah  itu, Upulatu melanjutkan acara dengan menyampaikan titahnya kepada rakyat. Titah itu mempunyai arti yang besar bagi rakyat, yang oleh rakyat dipan-dang sebagai suatu pidato tahun-an yang disampaikan oleh Raja. Tita Upulatu kemudian dilanjut-kan oleh Pendeta (Guru Latu)  yang selanjutnya dikuti dengan penjelasan tentang arti Kain Gan-dong oleh salah seorang Kepala Soa yang tertua. Selanjutnya Kepala Soa Adat melaksanakan tugasnya dengan “Pasawari Adat” atau “Kapata”,  suatu ucapan dalam bahasa tanah yang dimaksudkan untuk memintakan dari Allah perlindungan bagi negeri, jauhkan penyakit-penyakit, memberikan panen yang cukup, serta pertambahan jiwa untuk negeri.

Bunyi Kapata tersebut adalah sebagai berikut :
“Kapua Upu Ilah Kahuressy Lebehanua, Kedua Yang Maha Besar Tuhan Kami, Isa Almasih, Ketiga Rohul Kudus. Upulatu Jisayehu, Upu Ama, Upu Wisawosi, Lopa Amang-Pamang Kupahareuw Pamesang-pamesang, Mahina-mahina, Malona-Malona Hai Amang Hona-Hona Pau Amang Penyakit-Penyakit tinggalkan negeri ini. Kahu Erimaang Saka Upu amang Upu Wisa Wosi Wei, Amang. Kalau-kalau sasoi Pasala Pamanisa o Sasou Maniska Ampun Ilah-Ilah. Ene Anak Maingheru yang sekarang ada berdiri di dalam Teung Lapiang Makakuang Haumalamang, kalau Sosoupasala Pamanisa Ou Sasou Manisa ampun Ilah-Ilah, karena itu bukan barang areka urung sakakenu menyembah berhala-berhala, bukan sekali-kali, hanya sebab Hauw Enamaang Eumena Enaam Guru Haji. Upu Ilah Kahuressy Lebehanua Komsidana UpuLatu Salemau Ka Hulubalang Dewana Deperneahau Amang Latu Jisayehu Sohiu (Sohia). Anak Maingheruw sekarang ada minta kalau boleh tolong-menolong lopang masim-masim kepada negeri ini supaya jangan negeri ini bersungut-sungut. Mahurung-mahurung Ambole Tatika karna saka karena Upu Ilah Kahuressy beserta Upu Latu Selemau Agam Raden Mas Sultan Labu Inang Modjopahit, kalau boleh tolong-menolong, parihu-parihu, Mahina-mahina, Malona-malona o Hija Ja Mesang Henu-Henu Humuhandeuw Minulai Halemuli Haumeat . Penu-Penu Hawa Teung Tuniwou Wala Werhalouw Rulimena Sasamasa Enamai. Ka segala selamat.
Ilah yang di atas semua Ilah Yang Maha Besar Tuhan Yesus Ketiga Rohul Kudus. Raja Latu Jisayehu, beserta Orang-orang tua bahkan seluruh rakyat mintakan agar menghindarkan segala bahaya kesulitan serta penyakit-penyakit dari wanita-wanita, laki-laki dan semua kekeluargaan. Kalau ada kesalahan kami mohon ampun dari Ilah dan sebagainya.

Sesudah itu segera tifa dibunyikan dan “suhat” (Nyanyian Adat) mulai dinyanyikan. Pada garis besarnya nyanyian tersebut mengisahkan peringatan kepada Latu Selemau serta datuk-datuk yang telah membentuk negeri ini, penghormatan kepada tugu-tugu peringatan dari kedatangan Rumah-Tau (Teung serta penghargaan kepada air yang memberi hidup) (Wai Werhalouw dan Unuwei).

 
6.    Kunjungan ke Wai Werhalouw dan Uniwei

 
Sambil menyanyi, rombongan terbagi dua, sebagian menuju air Unuwei, (anak Soa Erang dan Rakyat lainnya). Di sana setiap orang mencuci tangan, kaki, dll, kemudian rombongan yang datang dari air Unuwei berkumpul di Soa Erang (Teung Rulimena) sambil menantikan rombongan dari Wai Werhalouw (Soa Pera).

 7.    Persatuan Dalam “Kain Gandong”
 

Di Teung Tunisouw, telah dipersiapkan Kain Gandong yang kedua ujungnya dipegang oleh dua orang “Mata Ina” yang tertua dari Soa Pera membentuk huruf U menantikan rombongan yang naik dari Wai Werhalouw. Setelah rombongan ini masuk ke dalam Kain Gandong, maka Kain Gandong diputar-putar sebanyak tiga kali (sebutan orang Soya: Dibailele) mengelilingi rombongan, kemudian menuju rumah Upulatu Yisayehu. Dari sini, rombongan dari Tunisou melanjutkan perjalan-an menuju Soa Erang (Rulimena) untuk menjemput rombongan. di Soa Erang, rombongan dari Tunisou dielu-elukan oleh rombong-an Soa Erang yang kemudian menyatukan diri dalam Kain Gandong. Di tempat itu pula Kain Gandong diputar-putar sebanyak tiga kali mengelilingi rombongan yang telah bersatu  tersebut. 


Rombongan Soa Pera dijamu oleh rombongan Soa Erang dengan hidangan ala kadarnya sebagai penghormatan dan rasa persatuan. Disamping itu, disediakan juga satu meja persatuan dengan makanan adat bagi para tamu yang tidak pergi ke Unuwei. Selanjutnya kedua rombongan yang telah bersatu dalam Kain Gandong tersebut sambil bersuhat menuju kembali ke rumah Upulatu.

8.    Kembali Ke Rumah Upulatu
 

Di rumah Upulatu, rombongan kemudian menggendong Upulatu dan istrinya dan orang tua-tua lainnya ke dalam kain gandong sambil berpantun. Dengan demikian lengkaplah seluruh unsur dalam negeri sebagai satu kesatuan. Prosesi ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian upacara.  Prosesi ini kemudian  dibubarkan,  dan Kain Gandong disimpan di rumah Upulatu. Para tamu yang ada kemudian  dijamu dengan makanan adat di rumah Upulatu.  


9.    Pesta Negeri
 

Upacara Cuci Negeri akan menjadi lengkap dengan pesta negeri yang merupakan suatu ungkapan suka-cita, kebersamaan, dan kekeluargaan. Atas semua proses upacara cuci negeri yang boleh dilakukan.  Pesta ini biasanya sangat meriah karena dihadiri oleh seluruh rakyat. Pesta itu diisi dengan badendang, tifa, totobuang, menari, dll.

10.    Cuci Air
 

Pada keesokan harinya, Sabtu,  setelah berpesta semalam suntuk, semua orang menuju kedua air (Wai Werhalouw dan Unuwei) untuk membersihkannya. 

Hal ini dimaksudkan agar  air selalu bersih untuk dapat digunakan oleh masyarakat.   
11.    Penutup
 

Demikian tulisan ini kami persembahkan  dan kiranya dari padanya, kita akan memiliki pengetahuan awal tentang Budaya Cuci Negeri, yang merupakan tradisi dari turun-temurun. Kami sadar sungguh bahwa, tulisan ini tidak lepas dari berbagai kekurangan dan kelemahannya. Demi penyempurnaannya, kami berharap adanya kritik dan saran dari Bapak/Ibu. Kiranya Kekayaan budaya ini akan menjadi tata kehidupan dalam menuntun hidup bermasyarakat di Negeri Soya.Semoga ..!