Kapten timnas belanda ambon manise


Ambon Manise Der Oranje

Van Bronckhorst ahli waris sejarah “Paman Simon”.

Tiga pemain berkulit sawo matang–bukan hitam Afrika–di Hoenderloo, Belanda barat daya, pada awal Oktober 2001. Inilah untuk pertama kalinya Danny Landzaat, gelandang yang saat itu bermain untuk Willem II Tilburg, bergabung di pemusatan latihan tim nasional Belanda. Dia berjumpa dengan Giovanni van Bronckhorst dan Bobby Petta.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya, tiga pemain asal Maluku berada dalam satu kamp yang sama di pemusatan latihan tim Belanda,” kata Landzaat, yang kini berusia 31 tahun. “Dulu para pendahulu kami membela bendera tiga warna (Belanda) di Indonesia dan sekarang kami mengenakan kostum oranye (tim nasional Belanda).”

Berbilang tahun kemudian, salah satu dari mereka malah mengenakan ban kapten Der Oranje–julukan tim nasional Belanda–di lengannya, dialah Van Bronckhorst. Dia kapten tim Belanda pertama yang keturunan Maluku, provinsi di Indonesia yang beribu kota di Ambon. Sebaliknya, Petta sudah lama terpental dari tim dan Landzaat kerap tak dipanggil lagi.

Van Bronckhorst, 34 tahun, memperkuat Belanda jauh lebih lama daripada Landzaat, yakni sejak 1996. Bek kiri yang kini bermain untuk Feyenoord itu menjadi kapten untuk pertama kalinya ketika Belanda menjamu Rusia di Amsterdam pada partai persahabatan di Amsterdam, Februari 2007. Ketika itu kapten utama, kiper Edwin van der Saar, cedera.

Seusai Euro 2008, Van der Saar dan striker senior, Ruud van Nistelrooy, menyatakan pensiun dari tim Belanda. Sejak itu pelatih Bert van Marwijk menyerahkan sepenuhnya ban kapten ke lengan Van Bronckhorst, mantan pemain Barcelona dan Arsenal. Itu termasuk saat Belanda berhadapan dengan Islandia tadi malam.

“Karena nama saya Giovanni, banyak orang mengira saya keturunan Italia,” kata Van Bronckhorst. Bila melihat kulitnya, tentu saja anggapan itu jelas keliru. “Saya berdarah Maluku dari ibu saya.” Adapun ayahnya seorang Belanda.

Ibu Van Bronckhorst termasuk dalam rombongan orang-orang Maluku yang eksodus ke Belanda karena masalah politik pada akhir 1940-an. “Saya bangga mempunyai akar sejarah dari Maluku,” kata Van Bronckhorst.

Pemain bertinggi badan 178 sentimeter itu mendapat “kemewahan” yang tak diperoleh seniornya, Simon Tahamata. Tahamata, kini berusia 53 tahun, adalah legenda hidup di kalangan pemain sepak bola Belanda keturunan Maluku. “Kami memanggilnya Oom Simon (Paman Simon),” kata Landzaat.

Tahamata memperkuat Belanda pada kurun 1979-1986 dalam 22 pertandingan dengan mencetak 22 gol. Pada generasi selanjutnya ada Sonny Silooy dan Bart Latuheru. Selanjutnya terdapat Roy Makaay, juga Johny Heitinga.

Tahamata dihormati bukan sekadar karena kebintangannya di lapangan. Pria yang kini menjadi staf pelatih di Ajax Amsterdam junior itu juga disegani karena kepeduliannya terhadap komunitas Maluku di Belanda dan masyarakat Maluku di Ambon.

Tahamata mendirikan sebuah yayasan untuk mengumpulkan dana guna disumbangkan ke Maluku. Sebagian besar para pemain keturunan Maluku menjadi anggota yayasan ini.

Generasi kedua dan ketiga para pelarian politik itu belum benar-benar tercerabut dari akar kemalukuannya. “Bila saya menghadiri pernikahan orang-orang Maluku, di situlah saya merasakan bahwa saya tak bisa lepas dari sejarah saya,” kata Van Bronckhorst. “Kami, generasi ketiga, memang tak lagi mau pulang ke negeri asal (Indonesia), tapi kami mengenal benar sejarah kami,” Landzaat menambahkan.

Van Bronckhorst sudah 89 kali memperkuat tim nasional Belanda dengan mencetak lima gol. Dengan jabatannya sebagai kapten tim, nyong Ambon itu punya kans memperpanjang kariernya di tim nasional. Dia bahkan sudah melampaui Tahamata

Benteng Amsterdam, Hila


Kota Ambon ternyata memiliki tempat bersejarah yang dijadikan salah satu tempat wisata saat mengunjungi tempat ini. Adalah Benteng Amsterdam yang terletak di Desa Hila Kecamatan Leihitu. Bentang yang dibangun oleh bangsa Portugis ini awalnya digunakan sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah seperti pala dan cengkih

Setelah terjadi penyerahan kekuasaan kepada Belanda, maka tempat tersebut dijadikan sebagai benteng VOC. Adapun Gubernur Gerard Demmer yang memugar bangunan tersebut pada tahun 1640 dan mengganti nama benteng tersebut menjadi Benteng Amsterdam

Benteng Amsterdam yang berada di Desa Hila dapat ditempuh dengan jalan darat dengan menggunakan angkutan umum atau bisa juga dengan mobil sewaan. Jarak tempuh dari Bandara Pattimura kira 25 km dengan darat. Perjalanan sepanjang benteng adalah yang paling menyenangkan sebab kita akan dimanjakan dengan pegunungan indah. Tapi siap-siap untuk melewati jalan berkelok, menurun dan mendaki saat dalam kendaraan.

Di Benteng Amsterdam anda dapat melihat perlengkapan perang, barang pecah belah yang berusia ratusan tahun. Benteng-benteng kokoh sekalipun berusia ratusan tahun, pemandangan laut sekitar benteng yang menambah keasyikan saat mengunjungi benteng Amsterdam ini.

Negara-Negara Dengan Harga BBM Paling Tinggi


1. Eritrea, Afrika Timur. Harga minyak di Eritrea Rp.27.000 per galon

2. Swedia, Eropa Utara. Harga minyak di Swedia Rp.26.789 per galon

3. Norwegia, Eropa Utara. Harga minyak di Norwegia Rp.26.402 per galon

4. Monako, Eropa Selatan. Harga minyak di Monako Rp.26.300 per galon

5. Italia, Eropa Selatan. Harga minyak di Italia Rp.26.000 per galon

6. Denmark, Eropa Utara. Harga minyak di Denmark Rp.25.780 per galon

7. Hongkong, Asia Timur. Harga minyak di Hongkong Rp.24.000 per galon

8. Belanda, Eropa Barat. Harga minyak di Belanda Rp.23.350 per galon

9. Perancis, Eropa Barat. Harga minyak di Perancis Rp.22.090 per galon

10. Jepang, Asia Timur. Harga minyak di Jepang Rp.21.354 per galon