Ambon Manise, Maluku


Bukan berlebihan bila terminologi kota laut dilekatkan pada ibukota Maluku ini. Jalan utama yang selalu berbatasan dengan laut memberikan sebuah sensasi alam yang tiada terbendung. Seakan-akan Ambon adalah atlantis di dunia modern. Penduduk dan laut sudah menjadi bagian kehidupan, laut adalah ambon dan ambon adalah laut. Perjalanan menyisir jalan utama Kota Laut Ambon adalah sebuah sensasi kehidupan baru untuk saya yang biasa hidup di sebuah kota yang jauh dari aroma pesisir.

kedatangan saya pagi ini sekitar pukul 7.00 waktu ambon, meski waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, tetapi langit masih tampak seperti pukul 06.00 pagi jika dibandingkan dengan kota Bandung. menghirup udara segar ambon yang sangat sejuk menjadi kenikmatan tersendiri saat lubang pernafasan ini menghidup senyawa O yang yang telah berubah menjadi O2.

berbagai baliho, spanduk, billboard besar yang menandakan dukungan atas SAIL BANDA 2010 pun terasa sangat di pelataran parkir bandara pattimura ambon. saya memutuskan untuk menaiki sebuah angkot dengan supir bernama pak burhan setelah saya berkenalan dengannya dalam perjalanan. perjalanan pagi di kota ambon merupakan pengalaman baru untuk saya, mengikuti jalan yang seakan menjadi bagian dari pesisir dan mentari yang baru keluar dari kelambunya memberikan kehangatan tersendiri dalam perjalanan di Kota Laut Ambon.

 

petualangan di negeri timur ini adalah petualangan sendiri yang saya dedikasikan untuk diri saya sendiri. orang-orang sering menyebutnya solo-travelling. ya , boleh saja disebut seperti itu. tetapi buat saya ini adalah perjalanan pencarian inspirasi. hmm.. sahabat, mungkin  anda pernah mengalami masa dimana anda terlalu menjadi budak atas rutinitas diri anda dan menyebabkan diri anda menjadi orang lain. percayalah, solo travelling bisa memberikan kesegaran baru dalam aktivitas anda.

perjalanan saya 3 hari di kota ambon yang belum pernah datangi sebelumnya memberikan sebuah tantangan bagi diri saya, karena saya tidak begitu mengenal daerah ini sebelumnya dan ada apa saja di kota ini. akhirnya saya memutuskan untuk melakukan perjalanan dengan menyewa ojek secara harian di kota Ambon, dan menjadikan supir ojek juga merangkap sebagai pemandu saya selama perjalanan.

saya berkenalan dengan bu ronald (bu adalah panggilan untuk kakak lelaki, seperti mas, atau akang) sebagai seorang tukang ojek di daerah paso. saya dikenalkan oleh pak burhan, supir angkot yang saya naiki sebelumnya. melalui perkenalan ini, tanpa terasa saya sudah menjadi teman bagi bu ronald selama tiga hari di ambon manisee…

kota ambon adalah sebuah kota yang berkembang secara linear membentuk huruf U mengelilingi teluk ambon. keunikan dari posisi tata ruangnya antara lain; bandara dan pusat kota terletak di ujung U yang berbeda sehingga memberikan kesempatan bagi pendatang untuk bisa menikmati seluruh pantai di teluk ambon dengan tuntas. selain itu, jalan yang berbukit membuat pusat kota tepat berada di bawah bukit yang bisa dinikmati dari ketinggian. pusat kota ambon sejatinya tidak begitu besar, akan tetapi dibalik kesederhanaan ini terdapat berjuta gairah budaya timur indonesia yang sangat gemerlap.

saya berani mengatakan ini, karena sunggu saya merasakan sentuhan timur indonesia yang amat sangat manise. tiada keramahan dan ketulusan memuliakan tamu yang pernah saya rasakan sebelumnya. saya rasakan dari cara setiap orang yang saya temui memberikan sebuah sapaan hangat dan seakan-akan kita adalah saudara. tiada toleransi beragama yang saya rasakan seindah di ambon,  dalam perjalanan saya bersama bu ronald, saya selalu diberhentikan di masjid terdekat saat azan tiba. bukan saya yang meminta  untuk berhenti, akan tetapi beliau sangat paham bahwa sebagai seorang muslim saya harus sholat 5 waktu, padahal bu ronald adalah seorang nasrani yang taat. sungguh indah, dan saya menjadi bertanya tentang pemberitaan tentang konflik agama di sini, benarkah itu terjadi di dalam masyarakat yang sangat santun dan toleransi ini.

keindahan kota ambon sangat sempurna, perpaduan cantiknya alam dan mulianya para penduduk membuat ambon memang layak disandingkan dengan kata manisee. perjalanan di kota ambon memang cukup lengkap, selain pantai yang indah dengan tarian desir ombak, ambon juga memiliki berbagai bukit yang memberikan panorama spektakuler. salah satu bukit yang terkenal adalah gunung nona, dibukit ini para penikmat alam bisa melihat kota ambon dari ketinggian dan laut lepas yang membentengi ambon .

pada sisi lain kota ambon, dalam perjalanan menujudesa shoya, juga terdapat titik panorama yang sangat indah. sangat jelas terlihat bagaimana mega-mega langit beririsan dengan batas kota ambon. dalam perjalanan mendaki ke bukit-bukit di ambon, tiada lelah yang kan terasa, karena setiap langkah yang dipijak akan menghasilkan sebuah panorama baru yang tak terlupakan.

panorama siang memang seakan membuncahkan gairah petualang, tetapi jangan merasa puas dulu bila belum menikmati matahari terbenam di Kota Laut ambon Manisee. saya menikmati pemandangan mentari terbenam di atas kapal feri galalah-pokka. kapal ini memperndek jalan agar para pejalan tak perlu mengikuti jalan huruf U dan cukup memotong teluk dengan menggunakan feri pelni dengan harga yang sangat murah. buat saya perjalanan ini bukan sekedar menyebrang teluk, akan tetapi juga merupakan taman bermain untuk sepuasnya menangkap momen terbenamnya mentari dari berbagai sudut kamera.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

selain menggunakan kapal feri, perjalanan menyebrangi teluk ambon ini juga bisa menggunakan sampan hanya dengan rp.1000 saja. jumlah yang sangat murah untuk transportasi dan pemandangan teluk yang sangat indah. seperti yang saya orkestrasikan sebelumnya, laut sudah menjadi bagian kehidupan ambon. masyarakat hidup, berkehidupan dan mencari penghidupan dari laut ambon yang menyimpang berjuta kekayaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

manisoo ! … satu hal lagi yang unik dari masyarakat kota ambon adalah kebanggaan mereka terhadap timnas sepakbola belanda. memang secara kultur, ada kedekatan antara belanda dan ambon. masyarakat ambon bisa sampai berpesta keliling jalan saat belanda memenangkan pertandingan. di beberapa rumah bahkan, di pasang bendera belanda sangat besar untuk menunjukkan kecintaan mereka pada orang belanda. dalam percakapan saya dengan seseorang di warung makan, beliau sangat bangga bawah van persie dan van bronkhorst memiliki keturunan darah maluku.

kedekatan ini membuat beberapa kata dalam bahasa ambon merupakan kata serapan dari belanda, seperti jalan-jalan = fakansi (vacation), terima kasih = danke. bahasa ambon lainnya yang saya pelajari antara lain ; aku = beta, kamu = ale, kita = katong, kakak lelaki = bu, kakak perempuan = usy, selamat jalan = amatoo !

nice place it is… ambon manise….

Katakan ‘Wow!’ untuk 3 Pantai Ambon yang Indah Ini


Sudah bukan rahasia umum lagi bila keindahan laut di Ambon, Maluku terkenal karena keindahannya. Seperti tiga pantai ini, yaitu Pantai Liang, Pintu Kota dan Pantai Natsepa. Laut indah membuat traveler takjub dan berkata, “Wow!”

Gue @pantai liang, ambon. wow kan?

Gue @pantai liang, ambon. wow kan?

Perjalanan ini dimulai dari Jakarta. Ketika ada promo tiket pesawat ke Ambon, Maluku, saya langsung memesan tiket tersebut. Padahal jarak beli tiket dengan keberangkatan lumayan lama, Oktober membeli tiketnya dan Januari baru berangkat. Karena sangat tertarik untuk pergi ke Ambon maka saya membeli tiket dari jauh-jauh hari.

Berangkat dengan menggunakan pesawat pukul 01.30 WIB, perjalanan ini sangatlah tidak terasa karena di pesawat pun tertidur. 1 Jam sebelum landing, pemandangan sudah mulai terlihat karena terdapat perbedaan waktu 2 jam antara Jakarta dan Ambon. Dilihat dari pesawat, laut-laut di Ambon sangat tenang dan indah. Tapi sayang, saya tidak dapat mengabadikan keindahan tersebut.

Setelah mendarat dan ke luar bandara, aroma laut sudah sangat terasa. Tidak jauh dari bandara, terpampang tulisan ‘Ambon The City Of Music’ yang menghadap ke arah laut. Perjalanan pun dilanjutkan dengan menuju Desa Tenga-Tenga, Tulehu yang berada di Maluku Tengah. Desa ini berada di atas gunung, sehingga traveler dapat dengan mudah melihat pemandangan laut yang berada di sekitar desa tersebut. 

Setelah beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju Pantai Liang. Begitu sampai, hanya 1 kata yang bisa terucap, “Wow!”

Pemandangannya sangat indah, dengan air laut tiga warna dan gradasi yang indah, serta pasir yang putih. Di Pantai Liang, pengunjung dapat melihat kapal feri yang akan menyeberang ke Pulau Seram. Harga tiket masuk ke destinasi ini hanya Rp 2.000 per orang. Cukup murah untuk menikmati pemandangan seindah itu.

Pantai Manis Di Negeri Liang, Wow Banget! Ayo, bilang wow, kalau gak, gue tonjok, wkwkw :D wow!

Pantai Manis Di Negeri Liang, Wow Banget! Ayo, bilang wow, kalau gak, gue tonjok, wkwkw :D wow!

Selanjutnya kita bisa mengunjungi Pintu Kota, Ambon. Jarak dari Desa Tenga-Tenga menuju Pintu Kota cukup jauh, butuh waktu sekitar 1,5 jam bila menggunakan sepeda motor. Saya kira letaknya tepat di pinggir jalan, tapi ternyata harus turun ke bawah lagi untuk mencapai Pintu Kota tersebut.

Sampai di sana, tepat pada saat air laut sedang surut sehingga saya dapat melihat lebih dekat Pintu Kota tersebut. Sekali lagi saya hanya bisa bilang, “Wow!” melihat pemandangan tersebut. Indah sekali! Tiket masuknya pun sama hanya Rp 2.000 per orang.

Setelah puas berfoto-foto sambil menikmati keindahan Pintu Kota, tujuan selanjutnya adalah Pantai Natsepa. Dari tiga pantai tersebut, hanya Pantai Natsepa yang ramai sekali didatangi pengunjung. Ya, karena memang pantai ini sudah terkenal. Lagi-lagi saya hanya bisa teriak, “Wow!” untuk pantai terakhir yang saya kunjungi ini.

Pantai Natsepa Kota Ambon, Wow, Bngt Kan!!! :p, hahaha :D

Pantai Natsepa Kota Ambon, Wow, Bngt Kan!!! :p, hahaha :D

Tidak lupa saya mencoba rujak Natsepa yang memang sudah tersohor karena kelezatannya. Bahkan ada yang bilang, “Belum ke Natsepa kalau belum mencoba rujaknya”.

Yang membuat rujak ini berbeda adalah karena kacangnya tidak diulek halus seperti rujak pada umumnya. Akan tetapi, kacang yang digunakan dalam rujak ini masih kasar. Makan rujak Natsepa di sore hari sangat ‘ajib’. Enak banget! Untuk harga tiket masuk ke Pantai Natsepa juga sama seperti pantai-pantai sebelumnya, yaitu Rp 2.000 per orang.

Demikianlah perjalanan saya selama di Ambon, sungguh sangat tidak terlupakan. Menikmati tiga pantai yang indah serta pemandangannya yang hijau. Sehingga membuat mata ini segar dan sedikit melupakan kepenatan rutinitas di kampus. So guys, let’s visit and explore Maluku!

Ambon, Kecantikan Kota Pinggir Pantai Yang Belum Terjamah


SEBAGIAN pulau di Indonesia, minus Bali dan Lombok belum terurus dengan baik. Sarana dan prasarana yang menunjang pariwisata belum tersedia. Ambon, the city by the sea salah satunya. Padahal pantai-pantai di Ambon bisa membuat napas tercekat karena keindahannya.

Demi untuk memonopoli perdagangan rempah, Belanda rela menukar New Amsterdam yang sekarang dikenal sebagai Manhattan, New York dengan Maluku yang pada waktu itu merupakan jajahan Inggris. Kejadian yang disebut sebagai Manhattan Transfer ini yang membuat Maluku dikenal secara internasional.

Di bawah kekuasaan VOC, Maluku menjadi penghasil rempah-rempah utama yang memasok kebutuhan dunia saat itu. Selain dikenal sebagai penghasil rempah-rempah, kepulauan Maluku dikenal karena keindahannya.

Pasca kerusuhan 1999, kepulauan Maluku dibagi ke dalam dua provinsi; Maluku dan Maluku Utara. Kepulauan Maluku beribukota Ambon, sedang Maluku Utara beribukota Sofifi.

Sebagai ibukota provinsi, Ambon tidak hanya menjadi pusat pemerintahan tapi juga tujuan utama turis yang ingin menikmati keindahan kota yang berada di pinggir pantai ini. Sejak menginjakkan kaki di bandar udara Pattimura, udara pantai sudah terasa.

Perjalanan dari bandara menuju pusat kota bisa ditempuh dengan menggunakan feri atau mobil. Bagi yang ingin menghemat waktu, perjalanan dengan menggunakan feri jauh lebih cepat. Dari dermaga feri sampai ke kota Ambon hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit. Sementara jika menggunakan mobil menghabiskan waktu 45-60 menit.

Taksi menjadi sarana transportasi umum yang bisa digunakan jika tidak ada yang menjemput di bandara. Di sini, taksi tidak dilengkapi dengan argo. Menyewa taksi dari bandara sampai dermaga feri kurang lebih 50 ribu rupiah. Sementara jika memilih jalan darat, ongkos yang dipatok kurang lebih 150 ribu rupiah. Pastikan bertanya tarif sebelum masuk ke dalam taksi. Kalau tidak bisa-bisa Anda shock mendengar rupiah yang harus dibayarkan.

Buat orang Ambon, menggunakan sabuk pengaman bukanlah hal yang biasa mereka lakukan. “Kami di sini tidak pernah menggunakan sabuk pengaman. Bisa ditertawakan orang,” ungkap Reyes, supir yang mengantar kami mengelilingi Ambon.

Meski kesannya tidak “cool”, sebaiknya tetap pakai sabuk pengaman selama berada di dalam mobil. Jangan takut atau ragu menegur supir bila mereka mengemudikan kendaraan ugal-ugalan. Perjalanan darat dari bandara menuju pusat kota Ambon dihiasi dengan pemandangan pantai dan pohon hijau. Keindahannya bisa membuat terpana.

“Seperti di Lyon (Perancis, red),” ungkap seorang teman sambil menunjuk bangunan yang menghiasi pinggir pantai dari kejauhan.

Meski Ambon didaulat sebagai ibukota provinsi, hanya ada satu hotel berbintang lima di sini, Aston Natsepa Ambon. Hotel lain, masuk dalam kategori Melati atau bintang 2- 3. Fasilitas yang ditawarkan pun terbatas. Jangan samakan dengan hotel setara di kota besar. Daripada terjerumus masuk hotel yang salah, ada baiknya bertanya dulu fasilitas yang mereka sediakan.

Menanti matahari terbit dari dekat patung Martha Christina Tiahahu
Banyak bertanya sangat diwajibkan bagi Anda yang berkunjung ke sini. Sebagai kota yang berada di pinggir pantai, keindahan pantai yang menjadi andalan Ambon. Menjemput matahari pagi di area patung Martha Christina Tiahahu yang berada di kawasan Padang Panjang sangat dianjurkan. Dari ketinggian Anda bisa melihat langsung hamparan pantai berhiaskan perumahan dan pelabuhan dengan semburat merah menandakan datangnya sang fajar.

Pintu Kota, trademark kota Ambon.
Belum menginjak Ambon jika belum datang dan berfoto di depan Pintu Kota. Ini bukan nama sebuah gerbang atau benteng peninggalan Belanda. Pintu Kota merupakan karang yang berlubang akibat hempasan ombak. Pintu Kota terletak di daerah Airlow yang berjarak kurang lebih 30-40 menit dari kota. Desa ini berada di dataran tinggi. Petunjuk jalan menuju kawasan ini cukup tersedia. Anda akan dibawa masuk ke kawasan pedesaan dengan pepohonan tinggi di pinggir jalan.

Rumah-rumah desa dan anjing liar menjadi pemandangan terbentang sepanjang jalan menuju Pantai Kota. Di dekat pintu masuk, terdapat rumah penduduk dan biasanya ada yang berjaga di depan portal yang terbuat dari besi ala kadarnya.

Anda dan rombongan bakal diijinkan masuk dengan membayar sejumlah uang. Nilainya tergantung dari kerelaan Anda memberi. Dari portal hentikan kendaraan di dekat anak tangga. Anak tangga ini mengingatkan pada jalan menuju pantai Padang-Padang di Bali. Kurang lebih ada 100 anak tangga yang harus Anda turuni sebelum bertemu dengan karang bolong yang disebut sebagai Pintu Kota. Anda bisa berfoto dengan puas. Tapi hati-hati, jangan terlalu dekat, apalagi di saat air pasang. Bisa-bisa terseret arus pantai.

Selain karang Pintu Kota, beberapa karang kecil di pinggir pantai bisa dijadikan pijakan. Jika dilihat sekilas, karang-karang ini mengingatkan pada pantai di Belitung. Walaupun jumlah karang dan bentuknya tidak serupa. Di Pintu Kota, karang berwarna hitam. Di pinggir pantai Anda bisa mencari kerang sebagai tanda mata.

Pantai Natsepa, rasakan sensasi berenang di lautan biru yang indah
Terpesona dengan keindahan Pantai Kota? Siapkan diri Anda sampai menginjakkan kaki di pantai Natsepa. Jaraknya kurang lebih sama dengan jarak tempuh ke Pantai Kota. Hanya berbeda arah. Pantai Natsepa mengingatkan pada keindahan Dreamland di Bali. Pantai putih dan air laut yang biru berhias awan putih begitu mengagumkan. Anda bisa berenang dengan bebas di pantai ini. Tapi kalau kemampuan berenang Anda pas-pasan, jangan terlalu pede berenang ke tengah.

Di sini tidak ada penjaga pantai yang bisa menolong Anda. Fasilitas wisata air nyaris tidak tersedia. Jadi, bawa semua perlengkapan main Anda.

Selama berada di Natsepa, Anda wajib mencoba rujak hasil olahan Oma Coz Suitella yang sudah berjualan sejak 1965. Warung rujak mulai dibuka jam 9.30 pagi. Keistimewaan rujak berharga 7 ribu rupiah ini terletak pada bumbu kacang yang dicampur belimbing manis. Campurannya tidak beda dengan rujak biasa.

Ada jambu air, nanas, belimbing, kedondong dan mangga. Bumbu ulek Oma yang bikin istimewa.

Kacang tanah tidak diulek lembut sehingga bisa merasakan potongan kacang yang renyah dan gurih.

Selain rujak Oma Suitella yang dahsyat, menikmati sagu manis yang masih hangat dan sepotong pisang goreng hanya bisa dilakukan di Natsepa. Entah kenapa, semua makanan itu terasa sangat lezat.

“Baru kali ini saya benar-benar tekun makan rujak sampai habis. Saya bahkan sayang membuang sisa bumbunya. Enak sekali,” ungkap Lina sambil terkikik.

Kurang lebih 15 menit dari Natsepa, ada pantai Liang. Pantai ini masih belum sepi dari turis. Fasilitas untuk turis masih sangat minim. Di pinggir pantai berpasir putih ini terdapat tempat menyewa ban atau perahu. Sebuah ban bisa disewa dengan harga 10 ribu rupiah. Sementara perahu kayu bisa Anda sewa dengan harga 50-75 ribu rupiah, tergantung ukurannya.

Sekali lagi, pastikan Anda bertanya dan menawar sebelum menggunakannya. Rayen, salah satu personel Pasto terlihat sedang asyik menikmati Pantai Liang dari atas perahu kayu sambil bertelanjang dada. Sebenarnya, wisata air yang Pantai Liang, pasir putih dan lautnya yang biru tidak kalah indah dari Kuta, Bali.

Pintu Kota, ditawarkan di pulau ini sangat banyak. Sayangnya fasilitas pendukungnya sangat minim. Pulau Banda Naira contohnya. Keindahan pulau ini sudah memukau pesohor seperti Elton John dan Fergie, Duchess of York. Tapi untuk mencapai pulau ini sulit sekali. Turis yang menyeberang ke sana bisa memilih naik pesawat atau kapal. Dengan maskapai Merpati, hanya dibutuhkan waktu 1 jam. Penerbangan ke Banda Naira dari Ambon hanya dilakukan setiap dua minggu sekali. Sementara Pelni yang juga menyediakan transportasi ke sana hanya berangkat seminggu sekali.

“Jadwal itu pun belum pasti. Kalau cuaca buruk atau ada pejabat yang mendadak harus berangkat ke sana, perjalanan bisa dibatalkan,” ungkap seorang agen perjalanan.

Minimal butuh waktu seminggusampai sepuluh hari jika ingin mengeksplorasi keindahan pulau-pulau di Ambon. Ambon juga terkenal dengan kuliner khas daerah pantai. Menu khas seperti Ikan Colo-Colo dan Ikan Kohu sayang untuk dilewatkan. Ikan Colo-Colo terasa unik karena bumbu cocolannya mirip dengan sambal dabu-dabu. Pedas, manis, dan asam bercampur jadi satu. Isinya terdiri dari bawang merah iris, cabai rawit, sambal, tomat hijau iris, air perasan jeruk lemon dan daun kemangi. Ikan bakar dicocol sambal colo-colo, seng ada lawan.

RM Barcelona yang berada di Jl. Said Perintah no. 26 bisa dijadikan tempat menyicip Ikan Colo-Colo. Jangan lupa juga memesan cumi bakarnya yang lembut dan gurih. Menu Ikan Kohu biasanya dimakan bersama singkong rebus. Ada perpaduan pedas dan asam. Biasanya irisan daun kedondong ditambahkan untuk memperkuat rasa. Sekali coba, Anda akan tergoda untuk nambah dan terus nambah.

Sering terserang lapar di malam hari, tidak perlu khawatir. Arahkan kendaraan ke Jl. A.M Sangaji. Tepatnya di depan toko Senyum 5000. Setelah jam 6 sore, sepanjang jalan terdapat meja-meja yang menjajakan Nasi Kuning Bagadang.

Ibu Mila yang berasal dari Madura ini sudah puluhan tahun berjualan Nasi Kuning dengan bermacam menu pendamping seperti ayam bakar, ayam goreng, telur ceplok, telur dadar, telur asin, cumi dan tongkol pedas. Setelah tiga kali mencoba Nasi Kuning Bagadang, cumi dan tongkol pedas yang paling mumpuni. Hao chi senjingbing. Bagi yang ingin membeli buah tangan, bisa datang ke Toko Petak 10. Di sini, Anda bisa membeli bagea, kudapan khas Ambon, minyak kayu putih, manisan pala, biji kenari atau mutiara khas Ambon.