Negeri Booi


Hatonyo Beach, My own little Adventure

Akhir 2011, Saya menyempatkan diri menjelajah bagian Pulau Saparua, Maluku, yang belum pernah saya pijak. Penjelajahan ini pun dilakukan tanpa terencana, benar-benar penjelajahan impulsif saya. Siang itu saya sekedar berkunjung ke rumah teman lama saya Jimpat (twitter : @jpattia) di negeri Booi. Negeri Booi yang terletak di ujung selatan Pulau Saparua, adalah desa yang sejuk karena terletak di dataran tinggi. Saya harus memarkir mobil di pintu masuk negeri ini, karena tidak ada akses bagi kendaraan bermotor. Jalanan dalam negeri ini semuanya bertangga-tangga, seperti yang terlihat di foto di bawah.

Img_3794

Setelah ngobrol dengan jimpat, sore itu ia mengajak saya berkeliling negerinya. Menurut hitungan Jimpat, ada 536 anak tangga pada jalan utama Negeri Booi. Cukup melelahkan berkeliling negeri dengan naik turun tangga, tapi orang Booi sudah terbiasa. Saya bahkan melihat seorang nenek renta berjalan menapak anak tangga sambil meng”Keku” (membawa barang dengan cara diletakan di atas kepala) seikat kayu bakar tanpa kecapean. Kata jimpat mereka yang lahir di Booi memang terbiasa hidup seperti ini, bahkan Jimpat sendiri mengaku bisa berjalan menapaki negerinya walau dengan mata tertutup. Dari rumah Jimpat yang terletak di jantung negeri Booi, kami pun menapak turun menuju ke pantai negeri ini. Pantai Booi sedang rame karena sore itu akan diadakan lomba panggayo manggurebe (semacam lomba dayung perahu). Dari pantai negeri, Jimpat mengajak saya ke pantai Hatonyo yang terletak lebih terpencil. Tentu saja saya tak bisa menolak kesempatan yang bagus ini.

Kami Pun bergerak makin ke arah selatan dari pantai negeri, menelusuri masuk ke hutan negeri Booi. Pepohonan Cengkih, Pala, Kenari serta Durian adalah vegetasi utama dalam hutan Negeri Booi. Sayang sedang tidak musim buah, kalau tidak kami bisa menikmati durian matang yang baru dipetik dari pohonnya. Perjalanan menelusuri hutan Booi berlangsung sekitar setengah jam, dengan medan rintangan sedang. Sesampai di Pantai Hatonyo, saya langsung takjub dengan keindahan alamnya yang masih asri.  Menapak kaki di pasir putih yang tebal di Pantai ini sangat mengasikan, sangat mengundang diri untuk langsung menceburkan diri ke dalam laut. Sayangnya kami harus mengurungkan niat kami karena tidak membawa baju ganti. Pantai Hatonyo sangat bersih dari sampah, letaknya yang sulit terjamah menjaga keperawanan pantai ini. Pepohonan pun masih lebat disini sehingga kami tidak kepanasan bermain main. Kami pun menyusuri garis pantai ini dari ujung ke ujung, kira-kira sepanjang 200 meter. Tak terasa waktu sejam telah kami habiskan di pantai ini, hari pun semakin larut dan kami harus segera kembali kalau tidak mau menyusuri hutan di tengah kegelapan. Pengen kembali lagi ke pantai ini :)

 1 of 6

Pelantikan Raja Negeri Ouw


Kali ini saya bercerita sedikit mengenai pelantikan Raja Negeri Ouw. Agar pembaca tidak bingung mungkin perlu dijelaskan sedikit bahwa di Propinsi Maluku setelah jaman otonomi daerah maka penamaan desa kembali disebut “Negeri” dengan kepala pemerintahan seorang “Raja”. Hal ini dimaksudkan agar nilai nilai kearifan lokal tidak hilang tergerus dengan perkembangan jaman.

 

Layaknya sebuah kerajaan dimana penerus tahta adalah keturunan raja sebelumnya, maka demikian pula terjadi dalam pemilihan raja negeri. Calon raja terpilih minimal masih memiliki hubungan darah dengan raja-raja negeri sebelumnya, atau disebut matarumah negeri. Kemudian yang memutuskan siapa raja terpilih adalah para saniri negeri, tetua-tetua adat negeri yang sehari hari membantu raja. Seorang raja memiliki masa pemerintahan 5 tahun, dan setelah itu dapat dipilih lagi. Keputusan Saniri negeri akhirnya dilegitimasi dalam SK bupati maluku tengah.

 

Bulan desember 2010 saya berkesempatan mengikuti upacara pelantikan Raja Negeri Ouw, salah satu desa binaan puskesmas tempat saya bertugas. Yang Terpilih sebagai Raja negeri Ouw periode 2010-2015 adalah bapak Simon Pelupessy. Dalam bahasa asli maluku sendiri desa ouw disebut Lisaboly Kakelisa.

 

Prosesi dimulai dengan pelantikan secara Hukum oleh Bupati maluku tengah, Abdullah Tuasikal. Surat keputusan bupati dibacakan dan kemudian raja terlantik diambil sumpah jabatannya. Acara dilanjutkan dengan jamuan makan di rumah raja negeri ouw. Setelah Acara makan-makan selesai dimulailah pelantikan raja secara adat. Rombongan raja kembali ke Baileu (rumah adat maluku) disertai tarian cakalele dari para kapitan. Acara ditutup dengan pelantikan raja secara gerejawi di gereja negeri ouw.

 

Sungguh suatu prosesi yang panjang untuk melantik seorang raja, membutuhkan waktu seharian untuk menuntaskan semua prosesi ini. Bahkan lebih rumit daripada pelantikan presiden menurut saya. Tapi itulah uniknya kebudayaan maluku ini.

 9 of 11P

Fam-Fam Dari Negeri Ouw


1.       UKU LUA.

1.1.             SOA MAYAWA:KEPALA SOA TATIPATTA

*        MARGA TATIPATTA, TEUNONYA PELATU

*        MARGA SILAHOOY, TEUNONYA SAMATOUW

*        MARGA SAHETAPY, TEUNONYA KOLESINA

*        MARGA TITAHENA SBGN, TEUNONYA SAMATOUW

*        MARGA MANUPUTTY SBGN, TEUNONYA LEPALISSA

*        MARGA AYAWAILA SBGN, TEUNONYA SOTANIA

 

1.2.              SOA SALAHITU:KEPALA SOA SAPTENNO

*        MARGA SAPTENNO, TEUNONYA LILIPALU

*        MARGA TITALEY, TEUNONYA PELATU

*        MARGA TITAHENA sbgn, TEUNONYA SAMATOUW

*        MARGA LATUSALLO, TEUNONYA MATAALU

*        MARGA AYAWAILA sbgn, TEUNONYA SOTANIA

*        MARGA SILALILY, TEUNONYA LAUKOTU

*        MARGA TONGKE, TEUNONYA SOWALA

*        MARGA LEIWAKABESSY sbgn, TEUNONYA WAKA

*        MARGA HATUPUANG, TEUNONYA-

*        MARGA LIKUBESSY, TEUNONYA-

 

2.       UKU TOLU.

2.1.             SOA SALAHALU:KEPALA SOA HUTUBESSY

*        MARGA HUTUBESSY, TEUNONYA HAPEA

*        MARGA MANUPUTTY(Wakanno), TEUNONYA PEWAKA

*        MARGA SERHALAWAN, TEUNONYA SAPASINA

*        MARGA SOPACUA, TEUNONYA LEPALISSA

*        MARGA SEILATU, TEUNONYA HAPEA

*        MARGA PIKAWALA, TEUNONYA SELANA

*        MARGA HEHAKAYA sbgn, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA TITAHENA SATU KELUARGA, TEUNONYA SAMATOUW

 

2.2.             SOA PELETIMU:KEPALA SOA SYAHAILATUA

*        MARGA SYAHAILATUA, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA TUTUPOLY, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA HEHAKAYA, TEUNONYA SEHEUW

*        MARGA LEIWAKABESSY sbgn, TEUNONYA WAKA

*        MARGA LAHALLO, TEUNONYA SELANNA

*        MARGA TOISUTA, TEUNONYA LEPALISSA

 

2.3.             SOA LESIAMA:KEPALA SOA LIKUMAHUA

*        MARGA LIKUMAHUA, TEUNONYA LOUHATU

*        MARGA MAKAILOPU, TEUNONYA LOUHATU

*        MARGA TOMASOA, TEUNONYA LOUHATU

*        MARGA SINANU, TEUNONYA PEHATA

*        MARGA LUMALESSIL, TEUNONYA HABAWA

*        MARGA LATUMAHINA, TEUNONYA PEMAHU

*        MARGA PELUPESSY, TEUNONYA LILSAPI

*        MARGA NOYA, TEUNONYA PALESI

*        MARGA MATULAPELWA, TEUNONYA PELOKO

*        MARGA MATULATUA, TEUNONYA PELOKO

 

Menelusuri Maluku, Tanah Surga


Menelusuri  Maluku

Maluku atau yang dikenal secara internasional sebagai Moluccas adalah salah satu provinsi tertua di Indonesia. Ibukotanya adalah Ambon. Pada tahun 1999, sebagian wilayah Provinsi Maluku dimekarkan menjadi Provinsi Maluku Utara, dengan ibukota di Sofifi. Provinsi Maluku terdiri atas gugusan kepulauan yang dikenal dengan Kepulauan Maluku.

SOSIAL BUDAYA

Suku Bangsa

Suku bangsa Maluku didominasi oleh ras suku bangsa Melanesia Pasifik yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Samudra Pasifik.
Banyak bukti kuat yang merujuk bahwa Maluku memiliki ikatan tradisi dengan bangsa bangsa kepulauan pasifik, seperti bahasa, lagu-lagu daerah, makanan, serta perangkat peralatan rumah tangga dan alat musik khas, contoh: Ukulele (yang terdapat pula dalam tradisi budaya Hawaii).
Mereka umumnya memiliki kulit gelaprambut ikalkerangka tulang besar dan kuat serta profil tubuh yang lebih atletis dibanding dengan suku-suku lain di Indonesia, dikarenakan mereka adalah suku kepulauan yang mana aktivitas laut seperti berlayar dan berenang merupakan kegiatan utama bagi kaum pria.
Sejak jaman dahulu, banyak diantara mereka yang sudah memiliki darah campuran dengan suku lain, perkawinan dengan suku Minahasa, Sumatra, Jawa, Madura, bahkan kebanyakan dengan bangsa Eropa (umumnya Belanda dan Portugal) kemudian bangsa Arab, India sudah sangat lazim mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama 2300 tahun dan melahirkan keturunan keturunan baru, yang mana sudah bukan ras Melanesia murni lagi. Karena adanya percampuran kebudayaan dan ras dengan orang Eropa inilah maka Maluku merupakan satu-satunya wilayah Indonesia yang digolongkan sebagai daerah Mestizo. Bahkan hingga sekarang banyak marga di Maluku yang berasal bangsa asing seperti Belanda (Van Afflen, Van Room, De Wanna, De Kock, Kniesmeijer, Gaspersz, Ramschie, Payer, Ziljstra, Van der Weden dan lain-lain) serta Portugal (Da Costa, De Fretes, Que, Carliano, De Souza, De Carvalho, Pareira, Courbois, Frandescolli dan lain-lain). Ditemukan pula marga bangsa Spanyol (Oliviera, Diaz, De Jesus, Silvera, Rodriguez, Montefalcon, Mendoza, De Lopez dan lain-lain) serta Arab (Al-Kaff, Al Chatib, Bachmid, Bakhwereez, Bahasoan, Al-Qadri, Alaydrus, Assegaff dan lain-lain). Cara penulisan marga asli Maluku pun masih mengikuti ejaan asing seperti Rieuwpassa (baca: Riupasa), Nikijuluw (baca: Nikiyulu), Louhenapessy (baca: Louhenapesi), Kallaij (baca: Kalai) dan Akyuwen (baca: Akiwen).
Dewasa ini, masyarakat Maluku tidak hanya terdapat di Indonesia saja melainkan tersebar di berbagai negara di dunia. Kebanyakan dari mereka yang hijrah keluar negeri disebabkan olah berbagai alasan. Salah satu sebab yang paling klasik adalah perpindahan besar-besaran masyarakat Maluku ke Eropa pada tahun 1950-an dan menetap disana hingga sekarang. Alasan lainnya adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, menuntut ilmu, kawin-mengawin dengan bangsa lain, yang dikemudian hari menetap lalu memiliki generasi-generasi Maluku baru di belahan bumi lain. Para ekspatriat Maluku ini dapat ditemukan dalam komunitas yang cukup besar serta terkonsentrasi di beberapa negara seperti Belanda, Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Perancis, Belgia, Jerman dan berbagai benua lainnya.

Bahasa

Bahasa yang digunakan di provinsi Maluku adalah Bahasa Melayu Ambon, yang merupakan salah satu dialek bahasa Melayu. Sebelum bangsa Portugis menginjakan kakinya di Ternate (1512), bahasa Melayu telah ada di Maluku dan dipergunakan sebagai bahasa perdagangan. Bahasa Indonesia, seperti di wilayah Republik Indonesia lainnya, digunakan dalam kegiatan-kegiatan publik yang resmi seperti di sekolah-sekolah dan di kantor-kantor pemerintah.
Bahasa yang digunakan di pulau Seram, pulau ibu (Nusa Ina/Pulau asal-muasal) dari semua suku-suku di Provinsi Maluku dan Maluku Utara adalah sebagai berikut:
  • bahasa Wamale (di Seram Barat)
  • bahasa Alune (di Seram Barat)
  • bahasa Nuaulu (dipergunakan oleh suku Nuaulu di Seram selatan; antara teluk El-Paputih dan teluk Telutih)
  • bahasa Koa (di pegunungan Manusela dan Kabauhari)
  • bahasa Seti (di pergunakan oleh suku Seti, di Seram Utara dan Telutih Timur)
  • bahasa Gorom (bangsa yang turun dari Seti dan berdiam di Seram Timur)
Maluku merupakan wilayah kepulauan terbesar di seluruh Indonesia. Banyaknya pulau yang saling terpisah satu dengan yang lainnya, juga mengakibatkan semakin beragamnya bahasa yang dipergunakan di provinsi ini. Jika diakumulasikan, secara keseluruhan, terdapat setidaknya 132 bahasa di kepulauan Maluku.
Dua bahasa yang telah punah adalah Palamata dan Moksela.
Sebelum bangsa-bangsa asing (Arab, Cina, Portugis, Belanda dan Inggris) menginjakan kakinya di Maluku (termasuk Maluku Utara), bahasa-bahasa tersebut sudah hidup setidaknya ribuan tahun.
Bahasa Indonesia, seperti di wilayah Republik Indonesia lainnya, digunakan dalam kegiatan-kegiatan publik yang resmi seperti di sekolah-sekolah dan di kantor-kantor pemerintah, mengingat sejak 1980-an berdatangan 5000 KK (lebih) transmigran dari Pulau Jawa. Dengan banyaknya penduduk dari pulau lain tersebut, maka khazanah bahasa di Pulau Seram (dan Maluku) juga bertambah, yaitu kini ada banyak pemakai bahasa-bahasa Jawa, Bali dan sebagainya.

Sosial Budaya

Dalam masyarakat Maluku dikenal suatu sistem hubungan sosial yang disebut Pela dan Gandong.

PEMERINTAHAN

Kabupaten dan Kota

No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Buru Namlea
2 Kabupaten Buru Selatan Namrole
3 Kabupaten Kepulauan Aru Oobo
4 Kabupaten Maluku Barat Daya Tiakur
5 Kabupaten Maluku Tengah Masohi
6 Kabupaten Maluku Tenggara Tual
7 Kabupaten Maluku Tenggara Barat Saumlaki
8 Kabupaten Seram Bagian Barat Dataran Hunipopu
9 Kabupaten Seram Bagian Timur Dataran Hunimoa
10 Kota Ambon -
11 Kota Tual -

Daftar gubernur

No. Foto Periode Nama Gubernur Keterangan
1 J Latuharhary.jpg 1950 – 1955 Mr. J.J. Latuharhary
2 1955 – 1960 M. Djosan
3 1960 – 1965 Muhammad Padang
4 1965 – 1968 G.J. Latumahina
5 1968 – 1973 Soemitro
6 1973 – 1975 Soemeru
7 1975 – 1980 Hasan Slamet
8 1980 – 1985 Hasan Slamet
9 1985 – 1990 Sebastian Soekoso
10 1990 – 1993 Sebastian Soekoso
11 1993 – 1998 M. Akib Latuconsina
12 Saleh latconsina.jpg 1998 – 2003 Dr. M. Saleh Latuconsina
13 KA Ralahalu.jpg 2003 – 2013 Brigjen TNI (Purn) Karel Albert Ralahalu

PEREKONOMIAN

Secara makro ekonomi, kondisi perekonomian Maluku cenderung membaik setiap tahun. Salah satu indikatornya antara lain, adanya peningkatan nilai PDRB. Pada tahun 2003 PDRB Provinsi Maluku mencapai 3,7 triliun rupiah kemudian meningkat menjadi 4,05 triliun tahun 2004. Pertumbuhan ekonomi di tahun 2004 mencapai 4,05 persen dan meningkat menjadi 5,06 persen pada 2005.

Pariwisata

Sejak zaman purba kala, Maluku diakui telah memiliki daya tarik alam selain daripada rempah-rempahnya. Terdiri dari ratusan kepulauan membuat Maluku memiliki keunikan panorama disetiap pulaunya dan mengundang banyak turis asing datang untuk mengunjungi bahkan menetap di kepulauan ini. Selain objek wisata alam, beberapa peninggalan zaman kolonial juga merupakan daya tarik tersendiri karena masih dapat terpelihara dengan baik hingga sekarang. Beberapa dari objek wisata terkenal di Maluku antara lain:
  • Pantai Natsepa, Ambon
  • Pintu Kota, Ambon
  • Benteng Duurstede, Saparua
  • Benteng Amsterdam, Ambon
  • Benteng Victoria, Ambon
  • Banda Neira, Banda
  • Benteng Belgica, Banda
  • Pantai Hunimoa, Ambon
  • Pantai Ngur Sarnadan (Pasir Panjang), Kai
  • Gua Ohoidertavun di Letvuan, Kai
  • Sawai, Seram
  • Leksula, Buru
  • Pintu Kota, Ambon
  • Pantai Latuhalat, Ambon
  • Tanjung Marthafons, Ambon
  • Taman Nasional Manusela, Seram
  • Air Terjun Waihetu, Rumahkay, Seram
  • Pantai Hatuurang
  • Pantai Lokki, Seram
  • Pantai Englas, Seram
  • Pulau Pombo
  • Pulau Tiga
  • Pulau Luciapara
  • Pulau Ay, Run dan Rozengain (Hatta), Kepulauan Banda
  • Weluan, Kep. Tanimbar
  • Pulau Bais
  • Tanjung Sesar, Seram
  • Pulau Panjang, Pulau Lulpus dan Pulau Garogos
  • Gunung Boy
  • Kilfura, Seram
  • Pantai Soplessy, Seram
  • Gua Lusiala, Seram
  • Pantai Kobisadar
  • Ahuralo, Amahai
  • Gua Hutan Kartenes
  • Goa Akohy di Tamilouw, Seram
  • Benteng Titaley, Seram
  • Danau Binaya, Piliana

KOMUNIKASI:

Ambon Cyber City

Pada pertengahan tahun 2008, kota Ambon ditetapkan sebagai Cyber City. Pekerjaan proyek Ambon Cyber City yang dilakukan Pemkot Ambon untuk memberikan kemudahan berakses internet telah selesai hingga akhir Desember tahun tersebut. Pelaksanaan proyek ini semata-mata guna memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berakses dengan mudah dan murah ke “dunia maya”, tanpa harus antri di “warung internet” atau berlangganan telepon dengan biaya mahal untuk berinternet. Hanya dengan modal laptop atau komputer yang memiliki fasilitaswireless, masyarakat sudah bisa menikmati internet dengan mudah berbagai tempat di pusat kota Ambon. Pemkot Ambon pun telah menjalin kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi Telkomsel untuk meminjam tower perusahaan seluler itu, di mana peralatan Cyber akan dipasang pada menara tower milik perusahaan itu, sehingga bisa memancarkan sinyalnya dan menjangkau seluruh wilayah Kota Ambon.

Stasiun Televisi Lokal

Maluku juga mempunyai televisi lokal yaitu Molucca Tv dan Ambon Tv.

Surat Kabar Harian

  • Ambon Express
  • Suara Maluku
  • Metro Maluku
  • Siwalima
  • Radar Ambon
  • Titah Siwalima
  • Maluku Expose
  • Marinyo
  • Seram Pos
  • Suara Ekspresi

Stasiun Radio Lokal

  • Suara Pelangi
  • DMS
  • Rock FM
  • Binaya
  • G-Tavlul
  • Dian Mandiri
  • Sangkakala
  • Baku-Bae
  • Resthy Mulya
  • Arika Polnam
  • Manusela FM
  • Kabaresi

PENDIDIKAN

Perguruan Tinggi

Negeri

Nama Perguruan Tinggi Tahun Pendirian Pemimpin Lokasi Situs Web
Universitas Pattimura(UNPATTI) 1962 Prof. Dr. H.B. Tetelepta, M.Pd. Ambon http://www.unpatti.ac.id
Politeknik Negeri Ambon (POLNAM) 1985 Ir. H. D. Nikijuluw, M.T. Ambon http://www.polnam.ac.id
Politeknik Perikanan Negeri Tual(POLIKANT)[3] 2004 Ir. P. Beruatwarin, M.Si. Tual

Swasta

Nama Perguruan Tinggi Pemimpin Lokasi
Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) DR. A.M.L. Batlayeri Ambon
Universitas Darussalam (UNIDAR) Prof. Drs. Ismail Tahir Ambon
Universitas Iqra Drs. R. Suyatno S. Kusuma, M.Si. Buru
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Ambon F.C. Renyut. S.Sos. M.Si. Ambon
STIA Abdul Aziz Kataloka Drs. J. Madubun. M.Si. Ambon
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Said Perimtah Dr. A. Wattiheluw, S.Sos., M.Si. Masohi
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Darul Rachman Drs. Muuti Matloan Tual
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Langgur P.C. Renwarin, S.E. M.Si. Tual
Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Saumlaki Semuel Luturyali, S.H. Saumlaki
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Umel Asyara Rumkei, S.E. Tual
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Saumlaki Drs. M.M. Lololuan Saumlaki
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Manajemen (STIEM) Rutu Nusa Drs. G.M.B.K. Dahaklory Ambon
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial (STIS) Mutiara Cilifius Reyaan, S.Sos. Tual
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Kebangsaan Drs. J. Kapressy Masohi
Sekolah Tinggi Perikanan Hatta Sjahrir Prof. Dr. Hamadi B. Husein Banda
STKIP Gotong Royong Drs. Autan Sahib Patty Masohi
Akademi Maritim Maluku (AMM) Drs. P.P. Rahaor. M.Pd. Ambon
Akademi Kebidanan (AKBID) Aru Yonita E.O. Uniplaita, A.Kp., M.Kes. Dobo

SENI DAN BUDAYA

Musik

Alat musik yang terkenal adalah Tifa (sejenis gendang) dan Totobuang. Masing-masing alat musik dari Tifa Totobuang memiliki fungsi yang bereda-beda dan saling mendukung satu sama lain hingga melahirkan warna musik yang sangat khas. Namun musik ini didominasi oleh alat musik Tifa. Terdiri dari Tifa yaitu, Tifa Jekir, Tifa Dasar, Tifa Potong, Tifa Jekir Potong dan Tifa Bas, ditambah sebuah Gong berukuran besar dan Toto Buang yang merupakan serangkaian gong-gong kecil yang di taruh pada sebuah meja dengan beberapa lubang sebagai penyanggah. Adapula alat musik tiup yaitu Kulit Bia (Kulit Kerang).
Dalam kebudayaan Maluku, terdapat pula alat musik petik yaitu Ukulele dan Hawaiian seperti halnya terdapat dalam kebudayaan Hawaii di Amerika Serikat. Hal ini dapat dilihat ketika musik-musik Maluku dari dulu hingga sekarang masih memiliki ciri khas dimana terdapat penggunaan alat musik Hawaiian baik pada lagu-lagu pop maupun dalam mengiringi tarian tradisional seperti Katreji.
Diluar daripada beragamnya alat musik, orang Maluku terkenal handal dalam bernyanyi. Sejak dahulu pun mereka sudah sering bernyanyi dalam mengiringi tari-tarian tradisional. Tak ayal bila sekarang terdapat banyak penyanyi terkenal yang lahir dari kepulauan ini. Sebut saja para legenda seperti Broery Pesoelima dan Harvey Malaihollo. Belum lagi para penyanyi kaliber dunia lainnya seperti Daniel Sahuleka, Ruth Sahanaya, Monica Akihary, Eric Papilaya, Danjil Tuhumena, Romagna Sasabone, Harvey Malaihollo serta penyanyi-penyanyi muda berbakat seperti Glen Fredly, Ello Tahitu dan Moluccas.

Tarian

Tari yang terkenal adalah tari Cakalele yang menggambarkan Tari perang. Tari ini biasanya diperagakan oleh para pria dewasa sambil memegang Parang dan Salawaku (Perisai).
Ada pula Tarian lain seperti Saureka-Reka yang menggunakan pelepah pohon sagu. Tarian yang dilakukan oleh enam orang gadis ini sangat membutuhkan ketepatan dan kecepatan sambil diiringi irama musik yang sangat menarik.
Tarian yang merupakan penggambaran pergaulan anak muda adalah Katreji. Tari Katreji dimainkan secara berpasangan antara wanita dan pria dengan gerakan bervariasi yang enerjik dan menarik. Tari ini hampir sama dengan tari-tarian Eropa pada umumnya karena Katreji juga merupakan suatu akulturasi dari budaya Eropa (Portugis dan Belanda) dengan budaya Maluku. Hal ini lebih nampak pada setiap aba-aba dalam perubahan pola lantai dan gerak yang masih menggunakan bahasa Portugis dan Belanda sebagai suatu proses biligualisme. Tarian ini diiringi alat musik biola, suling bambu, ukulele, karakas, guitar, tifa dan bas gitar, dengan pola rithm musik barat (Eropa) yang lebih menonjol. Tarian ini masih tetap hidup dan digemari oleh masyarakat Maluku sampai sekarang.
Selain Katreji, pengaruh Eropa yang terkenal adalah Polonaise yang biasanya dilakukan orang Maluku pada saat kawinan oleh setiap anggota pesta tersebut dengan berpasangan, membentuk formasi lingkaran serta melakukan gerakan-gerakan ringan yang dapat diikuti setiap orang baik tua maupun muda.

ADAT PERKAWINAN

Daerah Maluku yang terdiri dari beratus-ratus pulau mempunyai berbagai suku bangsa, seperti suku Ternate, suku Ambon, suku Seram, suku Tidore, suku Kei dan sebagainya. dibawah ini akan diterangkan mengenai adat perkawinan di Maluku Utara yang banyak didiami oleh suku Ternate dan suku Tidore.

SEJARAH

Maluku memiliki sejarah yang panjang mengingat daerah ini telah dikuasai bangsa asing selama kurang lebih 2300 tahun lamanya dengan didominasi secara berturut-turut oleh bangsa Arab, Portugis, Spanyol dan Belanda serta menjadi daerah pertempuran sengit antara Jepang dan Sekutu pada era Perang Dunia ke II.
Para penduduk asli Banda berdagang rempah-rempah dengan negara-negara Asia lainnya, seperti Cina, paling tidak sejak zaman Kekaisaran Romawi. Dengan adanya kemunculan agama Islam, perdagangan didominasi oleh para pedagang Muslim. Salah satu sumber kuno Arab menggambarkan lokasi dari pulau ini berjarak sekitar lima belas hari berlayar dari Timur ‘pulau Jaba’ (Jawa)namun perdagangan langsung hanya terjadi hingga akhir tahun 1300an. Para pedagang Arab tidak hanya membawa agama Islam, tetapi juga sistem kesultanan dan mengganti sistem lokal yang dimana didominasi oleh Orang Kaya, yang disamping itu lebih efektif digunakan jika berurusan dengan pihak luar.
Melalui perdagangan dengan para pedagang Muslim, bangsa Venesia kemudian datang untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah dari Eropa antara 1200 dan 1500, melalui dominasi atas Mediterania ke kota pelabuhan seperti Iskandariyah (Mesir), setelah jalur perdagangan tradisional mulai terganggu oleh Mongol dan Turki. Dalam menunjang monopoli ini kemudian mereka ikut serta dalam Abad Eksplorasi Eropa. Portugal mengambil langkah awal penjelajahan dengan berlayar ke sekitar tanjung selatan benua Afrika, mengamankan rute-rute penting perdagangan, bahkan tanpa sengaja menemukan pantai Brazil dalam pencarian ke arah selatan. Portugal akhirnya sukses dan pembentukan daerah monompolinya sendiri dan memancing keukasaan maritim lain seperti Spanyol-Eropa, Perancis, Inggris dan Belanda untuk mengganggu posisinya.
Karena tingginya nilai rempah-rempah di Eropa dan besarnya pendapatan yang dihasilkan, Belanda dan Inggris segera terlibat dalam konflik untuk mendapatkan monopoli atas wilayah ini. Persaingan untuk memiliki kontrol atas kepulaiuan ini menjadi sangat intensif bahakn untuk itu Belanda bahkan memberikan pulau Manhattan (sekarang New York), di pihak lain Inggris memberikan Belanda kontrol penuh atas kepulauan Banda. Lebih dari 6.000 jiwa di Banda telah mati dalam perang rempah-rempah ini. Dan dikemudian hari, kemenangan atas kepulauan ini dikantongi Kerajaan Belanda.

Era Portugis dan Spanyol

Selain dari adanya pengaruh kebudayaan hal yang paling signifikan dari efek kehadiran Portugis adalah gangguan dan disorganisasi perdagangan Asia namun disamping itu adalah adanya penyebaran Agama Kristen di Indonesia Timur termasuk Maluku. Portugis yang telah menaklukkan Malaka pada awal abad keenambelas dan pengaruh mereka terasa sangat kuat di Maluku dan kawasan lain di timur Indonesia. Setelah penaklukan Portugis atas Malaka pada bulan Agustus 1511, Afonso de Albuquerque pelajari rute ke Kepulauan Banda dan Kpulauan Rempah-Rempah lainnya dengan mengirim sebuah penjelajahan tiga kapal ekspedisi di bawah pimpinan António de Abreu, Simao Afonso Bisigudo dan Francisco Serrano. Di tengah perjalanan untuk kembali, Francisco Serrao yang terdampar di pulau Hitu (Ambon utara) pada 1512. Ia mendirikan hubungan dengan penguasa lokal yang terkesan dengan kemampuan militer. Adanya pertikaian antara Kerajaan Ternate dan Tidore juga melibatkan Portugis.
Setelah bergabung dengan Ternate, Serrão kemudian membangun benteng di pulau tersebut dan menjadi kepala duitan dari para serdadu Portugis di bawah pelayanan satu dari dua sultan yang berkuasa mengendalikan perdagangan rempah-rempah. Namun dengan adanya penyebaran agama Kristen mengakibatkan terjadinya ketegangan dengan Penguasa Ternate yang adalah Muslim. Ferdinand Magellan Serrão mendesak dia untuk bergabung di Maluku dan memberikan informasi para penjelajah tentang Kepulauan rempah-rempah. Akan tetapi, keduanya meninggal sebelum sempat bertemu satu sama lain. Pada tahun 1535 Raja Tabariji diberhantikan dan dikirim ke Goa oleh Portugis. Ia kemudaun menganut Kristen serta mengubah namanya menjadi Dom Manuel. Setelah dinyatakan bersalah, dia dikirim kembali ke takhtanya kembali, tetapi meninggal dalam perjalanan di Melaka pada 1545. Meskipun begitu, ia mewariskan pulau Ambon kepada Ayah Baptisnya yang adalah seorang Portugis, Jordão de Freitas. Setelah kejadian pembunuhan Sultan Hairun oleh Portugis, Ternate keudian mengusir mereka pada tahun 1575 setelah pengepungan selama 5 tahun.
Pendaratan Portugis yang pertama di Ambon terjadi pada tahun 1513, yang dikemudian hari akan menjadi pusat kegiatan Portugal di Maluku setelah pengusiran dari Ternate. Kekuatan Eropa didaerah tersebut pada saat itu lemah dan Ternate makin menyebarkan kekuasaannya sebagai Kerajaan Islam anti Portugis dibawah pimpinan Sultan Baab Ullah dan anaknya Sultan Said. Di Ambon, Portugis mendapat perlawanan dari penduduk muslim lokal di daerah utara pulau tesebut terutama di Hitu yang telah lama menjalin hubungan kerjasama perdagangan dan agama dengan kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa.Sesungguhnya, Portugis tidak pernah berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah lokal dan gagal dalam upaya untuk membangun otoritas mereka atas kepulauan Banda, pusat produksi pala.
Spanyol kemudian mengambil kontrol atas Ternate dan Tidore. Misionaris dan saah satu dari Orang Suci Katholik, Santo Fransiscus Xaverius (Saint Francis Xavier), tiba di Maluku pada tahun 1546-1547 kepada orang Ambon, Ternate dan Morotai serta meletakkan dasar untuk misi permanen disana. Dengan tibanya beliau disana, 10.000 orang telah dibaptis menjadi Katholik, dengan presentase terbanyak di pulau Ambon dan sekitar tahun 1590 terdapat 50.000 bahkan 60.000 orang telah dibaptis, walaupun beberapa daerah sekitarnya tetap menjadi daerah Muslim.
Selama pekerjaan Misionaris, telah terdapat komunitas Kristen dalam jumlah besar di daerah timur Indonesia selama beberapa waktu, serta telah berkontribusi terhadap kepentingan bersama dengan Eropa, khususnya di antara orang Ambon. Pengaruh lainnya termasuk sejumlah besar kata berasal dari Indonesia Portugis yang di samping Melayu merupakan bahasa pergaulan sampai awal abad kesembilanbelas. Kata-kata dalam Bahasa Indonesia seperti pesta, sabun, bendera, meja, Minggu, semua berasal dari bahasa Portugis. Banyak pula nama-nama keluarga di Maluku berasal dari Portugis seperti de Lima, Waas, da Costa, Dias, de Fretas, Gonsalves, Mendosa, Rodrigues dan da Silva.

Kerajaan Belanda

Orang Belanda tiba pada tahun 1599 dan melaporkan adanya usaha Portugis untuk memonopoli perdagangan tradisional mereka. Setelah Orang Ambon berhasil membantu Belanda dalam membangun benteng di Hitu Lama, Portugis memulai kampanye melawan bantuan terhadap Ambon dari Belanda. Setelah 1605 Frederik Houtman menjadi gubernur Belanda pertama Ambon. VOC merupakan perusahan perdagangan Belanda yang terhambat oleh tiga faktor daam menjalankan usahanya yaitu: Portugis, penduduk lokal dan Inggris. Sekali lagi, penyelundupan merupakan satu-satunya cara untuk monopoli Eropa. Selama abad ke-17, Banda melakukan perdagangan bebas dengan Ingris. Upaya Belanda adalah dengan mengurangi jumlah penduduk asli Banda lalu mengirim lainnya ke luar pulai serta mendirikan instalasi budak kerja.
Walaupun lainnya kembali menetap di Kepulauan Banda, sisa wilayah Maluku lainnya tetap sangat sulit untuk berada dibawah kontrol asing bahkan setelah Portugis mendirikan stasiun perdagangannya di Makassar, terjadi pemberontakan penduduk lokal pada tahun 1636 dan 1646. Dibawah kontrol kompeni Maluku teradministrasi menjadi residen Belanda yaitu Ternate di Utara dan Amboyna (Ambon) di selatan.

Perang Dunia II

Pecahnya Perang Pasifik tanggal 7 Desember 1941 sebagai bagian dari Perang Dunia II mencatat era baru dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Gubernur Jendral Belanda A.W.L. Tjarda van Starkenborgh , melalui radio, menyatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda dalam keadaan perang dengan Jepang. Tentara Jepang tidak banyak kesulitan merebut kepulauan di Indonesia. Di Kepulauan Maluku, pasukan Jepang masuk dari utara melalui pulau Morotai dan dari timur melalui pulau Misool. Dalam waktu singkat seluruh Kepulauan Maluku dapat dikuasai Jepang. Perlu dicatat bahwa dalam Perang Dunia II, tentara Australia sempat bertempur melawan tentara Jepang di desa Tawiri. Dan untuk memperingatinya dibangun monumen Australia di desa Tawiri (tidak jauh dari Bandara Pattimura). Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maluku dinyatakan sebagai salah satu propinsi Republik Indonesia. Namun pembentukan dan kedudukan Propinsi Maluku saat itu terpaksa dilakukan di Jakarta, sebab segera setelah Jepang menyerah, Belanda (NICA) langsung memasuki Maluku dan menghidupkan kembali sistem pemerintahan kolonial di Maluku. Belanda terus berusaha menguasai daerah yang kaya dengan rempah-rempahnya ini, bahkan hingga setelah keluarnya pengakuan kedaulatan pada tahun 1949 dengan mensponsori terbentuknya Republik Maluku Selatan (RMS).

Sepenggal Kisah Negeri Haruku


Sepenggal Kisah Negeri Haruku
Di  negeri Haruku terdapat 2 aliran sungai yaitu WAI MEME (air perempuan) dan WAI IRA (air laki – laki). Kedua cabang air ini mengalir turun dan membentuk aliran sungai yang diberi nama air cabang dua yang sangat membantu kehidupan masyarakat yang memiliki dusun maupun yang tidak memiliki dusun. Dusun di negeri Haruku dibagi menjadi dua bagian yaitu dusun/ tanah Pusaka dan dusun/ tanah Dati. Perbedaan dusun/ tanah Pusaka dan dusun/ tanah Dati adalah bahwa dusun/ tanah Pusaka adalah kepunyaan perempuan dan pria, dan memiliki hak yang sama. Sedangkan untuk dusun/ tanah Dati perempuan tidak memiliki hak atasnya. Namun keduanya memiliki persamaan yaitu yang didahulukan adalah anak yang lebih tua/ anak pertama.
Peta Haruku

Peta Haruku, Terlihat Dua Negeri Besaudara HARUKU-SAMETH

Adapun pelabuhan di negeri Haruku adalah Labuhan besi atau yang dikenal sebagai Labuhan Vektor. Labuhan ini sampai sekarang masih terlihat yaitu yang menjadi tempat pemberhentian speed boat dan menjadi salah satu pintu gerbang ke negeri Haruku selain yang berada di kampung baru. Sayang sekali catatan sejarah tentang nama labuhan ini belum berhasil ditemukan.
Ada satu cerita turun temurun yang saya jumpai mengenai raja negeri Haruku. Cerita ini menyebutkan bahwa ketika terjadi pergantian tahta kepimimpinan dari raja kedua negeri Haruku Tunisaha Risakota (1567 – 1584) kepada penggantinya maka raja memberi kesempatan kepada saudara mudanya (disinyalir fam/ marga Talabessy). Tapi pada saat pelantikan calon raja tersebut tidak dapat melanjutkan perjalanan karena kakinya luka parah (busuk/ boba) karena tertombak saat perang, maka calon raja tersebut mengutus sahabatnya Sahurata Ruhupessy, untuk mewakili dirinya mengambil sumpah dan draft perjanjian.
Namun, sesampainya disana, dewan negeri menganggap bahwa yang datang adalah calon raja. Maka dilantik dan diangkat sumpah terhadap Sahurata Ruhupessy menjadi Raja negeri Haruku. Disebutkan juga bahwa karena merasa ditipu, (dikemudian hari diluruskan karena kesalahpahaman) maka keluarga besar Risakota memutuskan untuk keluar dari negeri Haruku dan mencari daerah baru untuk didiami. Sejarah mencatat bahwa saat ini keluarga fam/ marga Risakota bermigrasi ke negeri Latuhalat di pulau Ambon dan mengganti fam/ marganya dengan penambahan T sehingga menjadi Risakotta. Namun sebelum berdomisili di Latuhalat, keluarga Risakotta pernah mampir di Negeri Kulur.
Semenjak peninggaln fam/ marga Risakota dari negeri Haruku ke negeri Latuhalat, maka tanah/ dusun yang mereka tinggalkan, saat ini menjadi hak milik fam/ marga – marga dari Soa Rumalesi atau Soa Bebas.
Kebenaran cerita ini masih harus diteliti lebih lanjut agar tidak menjadi kerancuan dikemudian hari. Sebagai catatan cerita ini buka bertujuan untuk memecah belah persatuan negeri Haruku atau untuk menimbulkan iri hati satu sama lain. Hal ini saya masukan semata – mata karena alasan sejarah. Jika nanti dikemudian hari terbukti bahwa cerita ini tidak benar, maka catatn sejarah ini akan diluruskan kembali. Sejauh ini saya pribadi masih mencari kebenarannya.
Selanjutnya maka pucuk kepemimpinan negeri Haruku diwariskan secara turun temurun kepada fam/ marga Ferdinandus dari Soa Raja (fam/ marga Ferdinandus ada juga dari Soa Rumalesi/ Soa Bebas) sampai hari ini. Namun dalam perjalanannya sempat diselinggi oleh beberapa fam/ marga lain. Alasan dan penyebabnya pun belum saya temukan.
Persaudaraan Negeri Haruku dan Negeri Samet
Menurut cerita dan hasil wawancara yang saya lakukan bahwa, pada mulanya Negeri Samet, SAMASURU RESILOLO berada pada sisi Kanan Negeri Haruku (dilihat dari laut), yang berada didekat tanjung Batu Kapal. Diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, rakyat dari negeri Samet sering mendapat gangguan dan diculik oleh orang – orang asing (Mandar/ Makassar) dan sangat ketakutan. Untuk itu Raja negeri Samet meminta bantua kepada Raja dan masyarakat Haruku.
Raja serta masyarakat negeri Haruku memberi bantuan pada saat terjadi perang. Kemudian karena tempat asal negeri Samet dirasa tidak cocok untuk ditinggali, maka Raja dan masyarakat Haruku memberi tanah kepada Raja dan masyarakat negeri Samet di sebelah Kiri (dilihat dari laut) negeri Haruku dan sampai sekarang hubungan saudara kedua negeri ini sangat erat terjaga. Meskipun memiliki struktur adat sendiri – sendiri namun kedua masyarakat adat ini saling bersatu hati dalam segala hal. Hal ini kemudian tertuang dalam satu slogan yang sangat manis terdengar: Haruku Ka Lau, Samet Ka Laut. Haruku ka Dara, Samet Ka Dara. (Haruku ke laut, Samet ke laut. Haruku ke darat, Samet ke darat.) yang berarti kesehatian dalam hal apapun, dan segala pekerjaan menjadi ringan bila dikerjakan bersama.
Fam/ Marga Yang Berasal dari negeri Haruku dan Samet
Karena adanya ikatan persatuan yang kuat dan ditambah dengan letak geografis yang sangat berdekatan, maka fam/ marga yang berada di kedua negeri ini menjadi saling bercampur. Istilah orang Maluku kaluar – maso. Untuk itu saya berpendapat bahwa meskipun tulisan ini bertujuan untuk memperkenalkan negeri Haruku, tapi untuk bagian fam/ marga, saya memasukan juga fam/ marga asal negeri Samet. Adapun Fam/ marga asal negeri Haruku dan Samet adalah sebagai berikut:
Amahoru, Bernardus, Bremer, Dobberd, Fasalbessy, Ferdinandus, Hatupué, Hendatu, Hetharia, Hiskia, Huwai, Joseph, Jordan, Kaihattu, Kakisina, Kisia/Kissya, Kruytzer, Lappia, Lappi(y), Latuharhari, Latupapua, Lesimanuaja, Louhanapessy, Maätita, Mantouw, Manuhuttu, Manusama, Mustamu, Nahuriti, Nirahua, Paijer, Pissireron/Pessireron, Rihia, Risakahu, Ririmassé, Riupassa/Rieuwpassa, Rugebrecht, Selanno, Silveira, Singadji/Sangadji, Sitania, Soldenan/Seldinand, Souissa, Tahija, Talabessy, Titipasanea, Tuahattu, Tuhumuri, Tupamahu, Tutuarima, Wattimena.
Fam/ marga diatas juga sudah termasuk fam/ marga pendatang yang telah berdomisili ratusan tahun sehingga menganggap negeri Haruku dan Samet sebagai negeri mereka sendiri.
Daftar Raja Yang Pernah Memerintah di Negeri Haruku
1540 – 1567    : Hatubessy Risakota (disinyalir sebagai Talabessy Risakota?)
1567 – 1584    : Tunisaha Risakota
1584 – 1608    : Sahurata Ruhupessy (Ferdinandus)
1608 – 1625    : Romentes Ferdinandus
1625 – 1656    : Salvador/ Salvada Ferdinandus
1656 – 1700    : Walling Ferdinandus
1700 – 1729    : Jacob Ferdinandus
1729 – 1749    : Jonas Ferdinandus
1749 – 1778    : Flip Benjamin Ferdinandus
1778 – 1803    : Petrus Ferdinandus (menjadi Pati di Aboru pada tanggal 30 April 1825)
1803 – 1839    : Jacob Chrosneles Ferdinandus
1839 – 1847    : Jacobus Ferdinandus
1847 – 1862    : Kosong
1862 – 1864    : Jacobus Manusama (Ferdinandus)
1864 – 1872    : Bernardus Ferdinandus Calon Raja
1872 – 1884    : Jordan Ferdinandus
1884 – 1888    : Jacob C.D Ferdinandus (dipecat)
1888 – 1940    : Christoffel/ Christofol Manusama (direbut dari Raja Ferdinandus)
1940 – 1946    : Jakomina Manusama (Gelar Tuede Regentes)
1946 – 1949    : Chroneles Rehata (Raja Soya/Bistir Asisten Van Saparua)
1949 – 1978    : Johannes Ferdinandus
1979 – 1980b  : Dominggus Ferdinandus (Caretaker)
1980 – 1989    : Berty Ririmase
1989 – 1993    : Michael Talabessy (Caretaker)
1993 – 1996    : Dominggus Nanlohy (Caretaker)
1996 – 2010    : John Polnaya (Caretaker)
2010 –             : Sefnath Ferdinandus
Sumber: Keterangan Raja-raja yang memegang pemerintahan pada Tahun 1540 di Haruku sesuai perintah Contraleur Saparua membuat Slak Bom Raja-raja tertanggal 05 April 1907 Nomor 406
Struktur Adat Masyarakat Haruku
Seperti juga halnya di pulau – pulau atau daerah lain Maluku pada umumnya, struktur masyarakat adat Haruku, pada hakekatnya, bertumpu pada ikatan hubungan-hubungan kekerabatan dalam suatu satuan wilayah petuanan (batas-batas tanah, hutan atau laut) yang menjadi milik bersama semua warga yang hidup di suatu negeri (pusat pemukiman, kampung atau desa). Para warga negeri tersebut umumnya masih memiliki hubungan-hubungan darah satu sama lain yang terbagi dalam beberapa kelompok SOA (marga besar/ clan) yang merupakan himpunan dari semua mata – rumah (keluarga besar, extended family) yang bermarga sama. Karena itu, struktur masyarakat adat di Maluku, dalam kenyataan sehari-harinya, sebenarnya lebih merupakan dasar pembagian fungsi(tugas) komunal belaka.

LATU – PATI: adalah Dewan Raja Pulau Haruku, yakni badan kerapatan adat antar para Raja seluruh Pulau Haruku. Tugas utama lembaga ini adalah mengadakan pertemuan apabila ada keretakan antar negeri (kampung/desa) mengenai batas-batas tanah atau hal-hal lain yang dianggap sangat penting. Tetapi, para Raja ini tidak boleh memaksakan kehendaknya sendiri dan harus mengambil keputusan atas dasar asas kebersamaan dan dengan cara damai.

RAJA: adalah pucuk pimpinan pemerintahan negeri (pimpinan masyarakat adat). Tugas-tugas utamanya adalah:
(a) menjalankan roda pemerintahan negeri;
(b) memimpin pertemuan-pertemuan dengan tokoh – tokoh adat & tokoh – tokoh masyarakat;
(c) melaksanakan sidang pemerintahan negeri;
(d) menyusun program pembangunan negeri.

SANIRI BESAR: adalah Lembaga Musyawarah Adat Negeri, terdiri dari staf pemerintahan negeri, para tetua adat dan tokoh-tokoh masyarakat. Tugas utamanya adalah sewaktu -waktu mengadakan pertemuan atau persidangan adat lengkap kalau dianggap perlu dengan para anggotanya (tokoh adat dan tokoh masyarakat).

KEWANG: adalah lembaga adat yang dikuasakan sebagai pengelola sumberdaya alam dan ekonomi masyarakat, sekaligus sebagai pengawas pelaksanaan aturan-aturan atau disiplin adat dalam masyarakat. Tugas-tugas utamanya adalah:
(a) menyelenggarakan sidang adat sekali seminggu (pada hari Jumat malam);
(b) mengatur kehidupan perekonomian masyarakat;
(c) mengamankan pelaksanaan peraturan sasi;
(d) memberikan sanksi kepada yang melanggar peraturan Sasi Negeri;
(e) meninjau batas-batas tanah dengan desa atau negeri tetangga;
(f) menjaga sertamelindungi semua sumberdaya alam, baik di laut, kali dan hutan sebelum waktu buka sasi;
(g) melaporkan hal-hal yang tidak dapat terselesaikan pada sidang adat (Kewang) kepada Raja dan meminta agar disidangkan dalam Sidang Saniri Besar.

SANIRI NEGERI: adalah Badan Musyawarah Adat tingkat negeri yang terdiri dari perutusan setiap soa yang duduk dalam pemerintahan negeri. Tugas utamanya adalah:
(a) membantu menyusun dan melaksanakan program kerja pemerintah negeri;
(b) hadir dalam sidang-sidang pemerintahan negeri;
(c) membantu Kepala Soa dalam melaksanakan pekerjaan negeri yang ditugaskan kepada soa.

KAPITANG: adalah Panglima Perang Negeri. Tugas utamanya adalah mengatur strategi dan memimpin perang pada saat terjadi perang yang melanda negeri.

TUAN TANAH: adalah kuasa pengatur hak – hak tanah petuanan negeri. Tugas utamanya adalah mengatur dan menyelesaikan masalah – masalah dengan desa – desa tetangga yang menyangkut batas – batas tanah serta sengketa tanah petunanan yang terjadi dalam masyarakat.

KEPALA SOA: adalah pemimpin tiap soa yang dipilih oleh masing – masing anggota soauntuk duduk dalam staf pemerintahan negeri. Tugas – tugas utamanya adalah:
(a) membantu menjalankan tugas pemerintahan negeri apabila Raja tidak berada di tempat;
(b) memimpin pekerjaan negeri yang dilaksanakan oleh soa;
(c) sebagai wakil soa yang duduk dalam badan pemerintahan negeri; dan
(d) menangani acara-acara adat perkawinan dan kematian.

SOA: adalah kumpulan beberapa fam/ marga (clan) yang menjalankan tugas:
(a) melaksanakan pekerjaan negeri bila ada titah (perintah) dari Raja melalui Kepala Soa masing – masing;
(b) membantu Kepala Soa menangani dan mempersiapkan semua keperluan bagi keluarga-  keluarga anggota soa dalam upacara – upacara perkawinan dan kematian.

MARINYO: adalah pesuruh/ pembantu Raja, sebagai penyampai berita dan titah melalui tabaos (pembacaan maklumat) di seluruh negeri kepada seluruh warga masyarakat

Strukrtur Masyarakat Adat Negeri Haruku
Fam/ Marga yang Memiliki Jabatan di Negeri Haruku
Berikut ini adalah fam/ marga yang memiliki jabatan pada struktur masyarakat adat negeri Haruku.
·         Raja                             : fam Ferdinandus
·         Kewang Darat             : fam Kissya
·         Kewang Laut               : fam Ririmasse
·         Kapitan                        : fam Latuharhary
·         Tuan tanah                  : fam Hendatu
·         Soa                              : > soa Raja                             : Latuharhary
                                      > soa Suneth                         : Souissa
                                      > soa Moni                            : Sitanija
                                      > soa Lesirohi                        : Talabessy
                                      > soa Rumalesi (bebas)        : Ferdinandus
·         Marinyo                       : boleh dari fam/ marga apa saja dan tidak bersifat turunan.
Soa Soa Yang Ada di Negeri Haruku
Soa Raja:
  • Latuharhary (kepala Soa)
·         Ferdinandus
·         Hizkia
·         Kissya
·         Bernardus
·         Hendatu
Soa Suneth:
·         Nirahua
·         Souissa (kepala soa)
·         Kaihattu
·         Silvera
Soa Moni:
·         Sitania (kepala Soa)
·         Mustamu
·         Lappy
·         Mantouw
·         Pesireron
·         Jordan
·         Huwai
·         Lewerissa
Soa Lesirohi
·         Talabessy (kepala Soa)
·         Ririmasse
·         Lesimanuaja
·         Sangadji
Soa Rumalesi (bebas)
·         Ferdinandus (kepala soa)
·         Bremer
·         Dobberd
·         Mustamu
·         Tuahattu
·         Wattimena
·         Hetharia
·         Titapasanea
·         Tuhumury
Sasi Ikan Lompa
Di antara semua jenis dan bentuk sasi di negeri Haruku, yang paling menarik dan paling unik atau khas desa ini adalah sasi Ikan Lompa (Trisina baelama; sejenis ikan sardin kecil). Jenis sasi ini dikatakan khas Haruku, karena memang tidak terdapat di tempat lain di seluruh Maluku. Lebih unik lagi karena sasi ini sekaligus merupakan perpaduan antara sasi laut dengan sasi kali. Hal ini disebabkan karena keunikan ikan lompa itu sendiri yang, mirip perangai ikan salmon yang dikenal luas di Eropa dan Amerika. Ikan jenis ini dapat hidup baik di air laut maupun di air kali/ sungai.
Setiap hari, dari pukul 04.00 dinihari sampai pukul 18.30 petang, ikan ini tetap tinggal di dalam kali Learisa Kayeli sejauh kurang lebih 1500 meter dari muara. Pada malam hari barulah ikan – ikan ini ke luar ke laut lepas untuk mencari makan dan kembali lagi ke dalam kali pada subuh hari. Yang menakjubkan adalah bahwa kali Learisa Kayeli yang menjadi tempat hidup dan istirahat mereka sepanjang siang hari, menurut penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura Ambon, ternyata sangat miskin unsur – unsur plankton sebagai makanan utama ikan-ikan. Walhasil, tetap menjadi pertanyaan sampai sekarang: dimana sebenarnya ikan lompa ini bertelur untuk melahirkan generasi baru mereka?
Bibit atau benih (nener ikan lompa biasanya mulai terlihat secara berkelompok di pesisir pantai Haruku antara bulan April sampai Mei. Pada saat inilah, sasi lompa dinyatakan mulai berlaku (tutup sasi). Biasanya, pada usia kira-kira sebulan sampai dua bulan setelah terlihat pertama kali, gerombolan anak-anak ikan itu mulai mencari muara untuk masuk ke dalam kali.
Hal-hal yang dilakukan Kewang sebagai pelaksana sasi ialah memancangkan tanda sasi dalam bentuk tonggak kayu yang ujungnya dililit dengan daun kelapa muda (janur). Tanda ini berarti bahwa semua peraturan sasi ikan lompa sudah mulai diberlakukan sejak saat itu, antara lain:
1. Ikan – ikan lompa, pada saat berada dalam kawasan lokasi sasi, tidak boleh ditangkap atau diganggu dengan alat dan cara apapun juga.
2. Motor laut tidak boleh masuk ke dalam kali Learisa Kayeli dengan mempergunakan atau menghidupkan mesinnya.
3. Barang-barang dapur tidak boleh lagi dicuci di kali.
4. Sampah tidak boleh dibuang ke dalam kali, tetapi pada jarak sekitar 4 meter dari tepian kali pada tempat – tempat yang telah ditentukan oleh Kewang.
5. Bila membutuhkan umpan untuk memancing, ikan lompa hanya boleh ditangkap dengan kail, tetapi tetap tidak boleh dilakukan di dalam kali.
Bagi anggota masyarakat yang melanggar peraturan ini akan dikenakan sanksi atau hukuman sesuai ketetapan dalam peraturan sasi, yakni berupa denda. Adapun untuk anak-anak yang melakukan pelanggaran, akan dikenakan hukuman dipukul dengan rotan sebanyak 5 kali yang menandakan bahwa anak itu harus memikul beban amanat dari lima soa (marga besar) yang ada di Haruku.
Pada saat mulai memberlakukan masa sasi (tutup sasi), dilaksanakan upacara yang disebut panas sasi. Upacara ini dilakukan tiga kali dalam setahun. Dimulai sejak benih ikan lompa sudah mulai terlihat. Upacara panas sasi biasanya dilaksanakan pada malam hari, sekitar jam 20.00. Acara dimulai pada saat semua anggota Kewang telah berkumpul di rumah Kepala Kewang dengan membawa daun kelapa kering (lobe) untuk membuat api unggun. Setelah melakukan doa bersama, api induk dibakar dan rombongan Kewang menuju lokasi pusat sasi (Batu Kewang) membawa api induk tadi. Di pusat lokasi sasi, Kepala Kewang membakar api unggun, diiringi pemukulan tetabuhan (tifa) bertalu – talu secara khas yang menandakan adanya lima soa (marga besar) di negeri Haruku.
Pada saat irama tifa menghilang, disambut dengan teriakan Sirewei (ucapan tekad, janji, sumpah) semua anggota Kewang secara gemuruh dan serempak. Kepala Kewang kemudian menyampaikan Kapata (wejangan) untuk menghormati negeri dan para datuk serta menyatakan bahwa mulai saat itu, di laut maupun di darat, sasi mulai diberlakukan (ditutup). Seperti biasanya, sekretaris Kewang bertugas membacakan semua peraturan sasi lompa dan sanksinya agar tetap hidup dalam ingatan semua warga desa. Upacara ini dilakukan pada setiap simpang jalan dimana tabaos (titah, maklumat) biasanya diumumkan oleh Marinyo kepada seluruh warga dan baru selesai pada pukul 22.00 malam di depan Baileo (Balai Desa) dimana sisa lobe yang tidak terbakar harus di buang ke dalam laut.
Setelah selesai upacara panas sasi, dilanjutkan dengan pemancangan tanda sasi. Tanda sasi ini biasanya disebut kayu buah sasi, terdiri dari kayu buah sasi mai (induk) dan kayu buah sasi pembantu. Kayu ini terbuat dari tonggak yang ujungnya dililit dengan daun tunas kelapa (janur) dan dipancangkan pada tempat-tempat tertentu untuk menentukan luasnya daerah sasi.
Menurut ketentuannya, yang berhak mengambil kayu buah sasi mai dari hutan adalah Kepala Kewang Darat untuk kemudian dipancangkan di darat. Adapun Kepala Kewang Laut mengambil kayu buah sasi laut atau disebut juga kayu buah sasi anak (belo), yakni kayu tongke (sejenis bakau) dari dekat pantai, kemudian dililit dengan daun keker (sejenis tumbuhan pantai juga) untuk dipancangkan di laut sebagai tanda sasi. Luas daerah sasi ikan lompa di laut adalah 600 x 200 meter, sedang di darat (kali) adalah 1.500 x 40 meter mulai dari ujung muara ke arah hulu sungai.
Setelah ikan lompa yang dilindungi cukup besar dan siap untuk dipanen (sekitar 5-7 bulan setelah terlihat pertama kali), Kewang dalam rapat rutin seminggu sekali pada hari Jumat malam menentukan waktu untuk buka sasi (pernyataan berakhirnya masa sasi). Keputusan tentang “hari-H” ini dilaporkan kepada Raja Kepala Desa untuk segera diumumkan kepada seluruh warga.
Upacara (panas sasi) yang kedua pun dilaksanakan, sama seperti panas sasi pertama pada saat tutup sasi dimulai. Setelah upacara, pada jam 03.00 dinihari, Kewang melanjutkan tugasnya dengan makan bersama dan kemudian membakar api unggun di muara kali Learisa Kayeli dengan tujuan untuk memancing ikan ikan lompa lebih dini masuk ke dalam kali sesuai dengan perhitungan pasang air laut. Biasanya, tidak lama kemudian, gerombolan ikan lompa pun segera berbondong – bondong masuk ke dalam kali. Pada saat itu, masyarakat sudah siap memasang bentangan di muara agar pada saat air surut ikan-ikan itu tidak dapat lagi keluar ke laut.
Tepat pada saat air mulai surut, pemukulan tifa pertama dilakukan sebagai tanda bagi para warga, tua – muda, kecil – besar, semuanya bersiap – siap menuju ke kali. Tifa kedua dibunyikan sebagai tanda semua warga segera menuju ke kali. Tifa ketiga kemudian menyusul ditabuh sebagai tanda bahwa Raja, para Saniri Negeri, juga Pendeta, sudah menuju ke kali dan masyarakat harus mengambil tempatnya masing – masing di tepi kali. Rombongan Kepala Desa tiba di kali dan segera melakukan penebaran jala pertama, disusul oleh Pendeta dan barulah kemudian semua warga masyarakat bebas menangkap ikan – ikan lompa yang ada.
Biasanya, sasi dibuka selama satu sampai dua hari, kemudian segera ditutup kembali dengan upacara panas sasi lagi. Catatan penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura pada saat pembukaan sasi tahun 1984 menunjukkan bahwa jumlah total ikan lompa yang dipanen pada tahun tersebut kurang – lebih 35 ton berat basah: suatu jumlah yang tidak kecil untuk sekali panen dengan cara yang mudah dan murah. Jumlah sebanyak itu jelas merupakan sumber gizi yang melimpah, sekaligus tambahan pendapatan yang lumayan, bagi seluruh warga negeri Haruku. Masalahnya kini adalah: sampai kapan semua itu bisa bertahan?
Perusakan lingkungan (habitat) terumbu karang di pantai Haruku oleh pemboman liar pihak – pihak yang tidak bertanggungjawab tetap berlangsung sampai saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat (melalui Kewang) untuk mencegah semakin meluasnya perusakan tersebut, bahkan sampai ke tingkat memperkarakannya di pengadilan dan kepolisian. Namun, semua upaya itu nyaris buntu semua, seringkali hanya karena penduduk Haruku adalah rakyat kecil yang sederhana dan awam yang tidak memiliki saluran ke pusat-pusat kekuasaan yang berwenang. Dalam keadaan nyaris putus asa dan bingung, seringkali rakyat Haruku merasa bahwa bahkan Hadiah Kalpataru 1985 bagi mereka, lengkap dengan tugu peringatannya di depan Balai Desa Haruku, sama sekali tidak bermakna apa – apa untuk mencegah para perusak lingkungan tersebut.
Legenda Ikan lompa
Menurut tuturan cerita rakyat Haruku, konon, dahulu kala di kali Learisa Kayeli terdapat seekor buaya betina. Karena hanya seekor buaya yang mendiami kali tersebut, buaya itu dijuluki oleh penduduk sebagai “Raja Learisa Kayeli”. Buaya ini sangat akrab dengan warga negeri Haruku. Dahulu, belum ada jembatan di kali Learisa Kayeli, sehingga bila air pasang, penduduk Haruku harus berenang menyeberangi kali itu jika hendak ke hutan. Buaya tadi sering membantu mereka dengan cara menyediakan punggungnya ditumpangi oleh penduduk Haruku menyeberang kali. Sebagai imbalan, biasanya para warga negeri menyediakan cincin yang terbuat dari ijuk dan dipasang pada jari – jari buaya itu. Pada zaman datuk – datuk dahulu, mereka percaya pada kekuatan serba – gaib yang sering membantu mereka. Mereka juga percaya bahwa binatang dapat berbicara dengan manusia. Pada suatu saat, terjadilah perkelahian antara buaya – buaya di pulau Seram dengan seekor ular besar di Tanjung Sial. Dalam perkelahian tersebut, buaya – buaya Seram itu selalu terkalahkan dan dibunuh oleh ular besar tadi. Dalam keadaan terdesak, buaya – buaya itu datang menjemput Buaya Learisa yang sedang dalam keadaan hamil tua. Tetapi, demi membela rekan – rekannya di pulau Seram, berangkat jugalah sang “Raja Learisa Kayeli” ke Tanjung Sial.
Perkelahian sengit pun tak terhindarkan. Ular besar itu akhirnya berhasil dibunuh, namun Buaya Learisa juga terluka parah. Sebagai hadiah, buaya – buaya Seram memberikan ikan – ikan lompa, make dan parang parang kepada Buaya Learisa untuk makanan bayinya jika lahir kelak. Maka pulanglah Buaya Learisa Kayeli ke Haruku dengan menyusur pantai Liang dan Wai. Setibanya di pantai Wai, Buaya Learisa tak dapat lagi melanjutkan perjalanan karena lukanya semakin parah. Dia terdampar disana dan penduduk setempat memukulnya beramai – ramai, namun tetap saja buaya itu tidak mati. Sang buaya lalu berkata kepada para pemukulnya: “Ambil saja sapu lidi dan tusukkan pada pusar saya”. Penduduk Wai mengikuti saran itu dan menusuk pusar sang buaya dengan sapu lidi. Dan, mati lah sang “Raja Learisa Kayeli” itu.
Tetapi, sebelum menghembuskan nafas akhir, sang buaya masih sempat melahirkan anaknya. Anaknya inilah yang kemudian pulang ke Haruku dengan menyusur pantai Tulehu dan malahan kesasar sampai ke pantai Passo, dengan membawa semua hadiah ikan – ikan dari buaya – buaya Seram tadi. Karena lama mencari jalan pulang ke Haruku, maka ikan parang – parang tertinggal di Passo. Sementara ikan lompa dan make kembali bersamanya ke Haruku. Demikianlah, sehingga ikan lompa dan make (Sardinilla sp) merupakan hasil laut tahunan di Haruku, sementara ikan parang – parang merupakan hasil ikan terbesar di Passo.
Pela Nolloth
Pela antara orang dari negeri Haruku adalah dengan negeri Noloth di pulau Saparua. Ceritanya bermula ketika, anak perempuan bapa Raja Negeri Haruku bernama nona Aihua Pareta Narani yang cantik dan menawan itu pada suatu hari sedang berdiri di depan pantai. Raja Noloth yang bernama Markus Risaluan yang sedang berlayar di sekitar pulau itu melihat sang putri Bapa Raja seketika ia jatuh cinta. Ia perintahkan perahunya mendarat dan berkenalan dengan sang putri. Raja Noloth lalu kembali ke Saparua untuk mempersiapkan peminangan. Ketika raja Noloth dan rombongannya datang, ia mendapati sang putri telah menjadi jasad akibat wabah penyakit yang melanda negeri Haruku. Karena cintanya yang tulus, Raja Noloth minta dikawinkan dengan jasad sang putri. Sejak itu antara negeri Haruku dan negeri Noloth dinyatakan pela kawin.
Dan sampai sekarang masyarakat negeri Haruku menganggap masyarakat Nolloth sebagai kakak, dan hubungan kedua negeri ini terjalin dalam semua sendi kehidupan. Contohnya ketika ada perlombaan Arumbai (perahu) maka persekutuan ini selalu keluar bersama dengan nama NOHASA (Nolloth, Haruku dan Samet). Dipercaya jika salah satu dari ke tiga negeri ini keluar dengan memakai nama negeri sendiri, maka akan terjadi malapetaka bagi mereka. Hal ini pernah terjadi pada sodara pela Nolloth.
Penutup
Basudara ana – cucu negeri Haruku dimana pun berada demikian sekilas cerita tentang Negeri Haruku. Beta mewakili sebagian basar ana – cucu Haruku yang mencintai sejarah batong pung tanah, sangat mengharapkan masukan dan informasi tambahan dari opa – oma, oom – tante, bu – usi, ade – kaka  deng basudara samua supaya kedepannya batong pung  sejarah Negeri Haruku bisa lebih lengkap dan berguna voor batong sandiri.. Maju tarus ana – cucu PELASONA NARUROKO!!
“Ite amani nala, riamatai kawa e, ite amani nala, atou e ta’ele”
 
sumber: cerita leluhur turun-temurun dari mulut ke mulut, wawancara langsung dengan opa Zeth Talabessy dan opa Ete Bu Talabessy, wawancara via telp dengan oom Abe Lewerissa di Haruku, http://kewang-haruku.org/ postingan oom Henry ‘Endy’ Ferdinandus-Syamsunandar di group Haruku di FB.

Negeri Eti, Hutan Aren & Sopi


Negeri Eti merupakan salah satu desa di Pulau Seram yang termasuk di dalam Kabupaten Seram Bagian Barat. Negeri Eti merupakan desa adat yang dipimpin oleh seorang Raja. Daerah petuanannya cukup luas dengan beberapa dusun dibawah Pemerintahan Raja Eti. Pulau Marsegu dalam kasawan Taman Wisata Alam Laut juga termasuk di dalam petuanan negeri ini.
Selain itu,  Negeri Eti sejak dulu terkenal dengan komoditas yang dihasilkan dari pohon aren. Masyarakat memanfaatkannya pohon aren untuk berbagai kebutuhan.

Pohon Aren (Arenga Pinnata)

Pohon Aren (Arenga Pinnata)

Pohon aren di daerah ini banyak yang disadap untuk diambil niranya, kemudian melalui proses penyulingan dihasilkan minuman yang beralkohol yang dinamakan “Sopi”.

Sopi merupakan sumber penghasilan yang cukup lumayan untuk menopang kehidupan keluarga, bahkan bisa menunjang kebutuhan lain sampai pada biaya pendidikan anak-anak.

Penyulingan Sopi

Penyulingan Sopi

Sadapan nira dari aren yang diambil disebut “sageru” kemudian sageru dimasukan ke dalam suatu wadah untuk dimasak menjadi sopi.

Pekerjaan penyadapan dari pohon aren hingga menjadi sageru dikenal dengan istilah “Tifar”. Untuk satu kali pekerjaan dari tifar hingga masak sopi, biasanya mereka tinggal di “walang sopi” selama 1 – 2 hari. Hasil yang mereka dapatkan dalam 2 hari berkisar Rp. 300 ribuan. Pekerjaan ini biasa dikerjakan bersama-sama sebanyak 2 orang. Kalo petani mempunyai jumlah pohon aren yang lebih banyak serta lebih rajin dalam bekerja maka pendapatan mereka bisa lebih tinggi.

Masak Sopi

Peralatan untuk Masak Sopi

Dalam penyulingan menghasilkan sopi dapat digunakan bermacam-macam perlengkapan, misalnya bambu dan juga plastik. Plastik dipakai supaya menghasilkan Sopi yang lebih bersih dan jernih.

Minum Sopi

Minum Sopi

Setiap melewati “walang sopi” jika pemiliknya sedang masak sopi pasti ditawari untuk mencicipi rasa sopi yang dihasilkan. Tapi ingat jangan sampai berlebihan, kalo berlebihan anda pasti akan mabuk dan tidak dapat melanjutkan perjalanan.

Perlindungan Dan Pelestarian Penyu Di Haruku, Maluku


 

Perlindungan Pesisir Pantai pada lokasi rumah kewang sebagai tempat perlindungan dan pengembangbiakan penyu.

 

 

 

 

Pantai pasir putih merupakan habitat bertelur dari penyu yang datang pada saat tertentu.

 

JUARA OPINI
Pantai Pasir Putih Penyu menetas keluar dari pasir
TELUR MALEO
Om Eli bersama penyu hasil pembiakan Anak-anak penyu
 

BAILEO

LARANGAN
Anak-anak penyu Penyu di dalam lokasi pengembangbiakan
LARANGAN LARANGAN
Penyu disiapkan menuju ke laut Penyu sudah bebas di laut

Mari Lestarikan Maleo


 Gambar-gambar tentang usaha pelestarian dan konservasi burung maleo di negeri Haruku, pulau Haruku, Maluku.

PAPAN
habitat
Papan Promosi Lingkungan Burung Maleo
habitat
habitat
Habitat bertelur Pagar pengaman habitat bertelur Maleo
GALI TELUR
MALEO
Menggali telur Maleo di dalam pasir Telur dan Burung Maleo
HABITAT BERTELUR
HABITAT BERTELUR
Habitat bertelur yang dikelilingi pagar pelindung dan vegetasi pantai Vegetasi pantai Pongamia pinnataBaringtonia asiatica, Pterocarpus indicus dll
PANTAI
PANTAI
Lokasi di luar pagar yang sering dipakai bertelur Vegetasi pantai sebagai cover untuk Maleo

Sasi Lompa Negeri Haruku


Di antara semua jenis dan bentuk sasi di Haruku, yang paling menarik dan paling unik atau khas desa ini adalah sasi ikan lompa (Trisina baelama; sejenis ikan sardin kecil). 
Jenis sasi ini dikatakan khas Haruku, karena memang tidak terdapat di tempat lain di seluruh Maluku. Lebih unik lagi karena sasi ini sekaligus merupakan perpaduan antara sasi laut dengan sasi kali. Hal ini disebabkan karena keunikan ikan lompa itu sendiri yang, mirip perangai ikan salmon yang dikenal luas di Eropa dan Amerika, dapat hidup baik di air laut maupun di air kali. Setiap hari, dari pukul 04.00 dinihari sampai pukul 18.30 petang, ikan ini tetap tinggal di dalam kali Learisa Kayeli sejauh kuranglebih 1500 meter dari muara. Pada malam hari barulah ikan-ikan ini ke luar ke laut lepas untuk mencari makan dan kembali lagi ke dalam kali pada subuh hari. Yang menakjubkan adalah bahwa kali Learisa Kayeli yang menjadi tempat hidup dan istirahat mereka sepanjang siang hari, menurut penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura, Ambon, ternyata sangat miskin unsur-unsur plankton sebagai makanan utama ikan-ikan. Walhasil, tetap menjadi pertanyaan sampai sekarang: dimana sebenarnya ikan lompa ini bertelur untuk melahirkan generasi baru mereka?

IKAN

 

* Legenda Ikan Lompa

Menurut tuturan cerita rakyat Haruku, konon, dahulu kala di kali Learisa Kayeli terdapat seekor buaya betina. Karena hanya seekor buaya yang mendiami kali tersebut, buaya itu dijuluki oleh penduduk sebagai “Raja Learisa Kayeli”. 

Buaya ini sangat akrab dengan warga negeri Haruku. Dahulu, belum ada jembatan di kali Learisa Kayeli, sehingga bila air pasang, penduduk Haruku harus berenang menyeberangi kali itu jika hendak ke hutan. Buaya tadi sering membantu mereka dengan cara menyediakan punggungnya ditumpangi oleh penduduk Haruku menyeberang kali. Sebagai imbalan, biasanya para warga negeri menyediakan cincin yang terbuat dari ijuk dan dipasang pada jari-jari buaya itu. 

Pada zaman datuk-datuk dahulu, mereka percaya pada kekuatan serba-gaib yang sering membantu mereka. Mereka juga percaya bahwa binatang dapat berbicara dengan manusia. Pada suatu saat, terjadilah perkelahian antara buaya-buaya di pulau Seram dengan seekor ular besar di Tanjung Sial. Dalam perkelahian tersebut, buaya-buaya Seram itu selalu terkalahkan dan dibunuh oleh ular besar tadi. Dalam keadaan terdesak, buaya-buaya itu datang menjemput Buaya Learisa yang sedang dalam keadaan hamil tua. Tetapi, demi membela rekan-rekannya di pulau Seram, berangkat jugalah sang “Raja Learisa Kayeli” ke Tanjung Sial. Perkelahian sengit pun tak terhindarkan. 

Ular besar itu akhirnya berhasil dibunuh, namun Buaya Learisa juga terluka parah. Sebagai hadiah, buaya-buaya Seram memberikan ikan-ikan lompa, make dan parang parang kepada Buaya Learisa untuk makanan bayinya jika lahir kelak. 

Maka pulanglah Buaya Learisa Kayeli ke Haruku dengan menyusur pantai Liang dan Wai. Setibanya di pantai Wai, Buaya Learisa tak dapat lagi melanjutkan perjalanan karena lukanya semakin parah. Dia terdampar disana dan penduduk setempat memukulnya beramai-ramai, namun tetap saja buaya itu tidak mati. Sang buaya lalu berkata kepada para pemukulnya: “Ambil saja sapu lidi dan tusukkan pada pusar saya”. Penduduk Wai mengikuti saran itu dan menusuk pusar sang buaya dengan sapu lidi. Dan, mati lah sang “Raja Learisa Kayeli” itu. 

Tetapi, sebelum menghembuskan nafas akhir, sang buaya masih sempat melahirkan anaknya. Anaknya inilah yang kemudian pulang ke Haruku dengan menyusur pantai Tulehu dan malahan kesasar sampai ke pantai Passo, dengan membawa semua hadiah ikan-ikan dari buaya-buaya Seram tadi. Karena lama mencari jalan pulang ke Haruku, maka ikan parangparang tertinggal di Passo, sementara ikan lompa dan make kembali bersamanya ke Haruku. Demikianlah, sehingga ikan lompa dan make (Sardinilla sp) merupakan hasil laut tahunan di Haruku, sementara ikan parang parang merupakan hasil ikan terbesar di Passo

* Pelaksanaan Dan peraturan Sasi

Bibit atau benih (nener ikan lompa biasanya mulai terlihat secara berkelompok dipesisir pantai Haruku antara bulan April sampai Mei. Pada saat inilah, sasi lompa dinyatakan mulai berlaku (tutup sasi). Biasanya, pada usia kira-kira sebulan sampai dua bulan setelah terlihat pertama kali, gerombolan anak-anak ikan itu mulai mencari muara untuk masuk ke dalam kali. 

Hal-hal yang dilakukan Kewang sebagai pelaksana sasi ialah memancangkan tanda sasi dalam bentuk tonggak kayu yang ujungnya dililit dengan daun kelapa muda (janur). Tanda ini berarti bahwa semua peraturan sasi ikan lompa sudah mulai diberlakukan sejak saat itu, antara lain: 

1. Ikan-ikan lompa, pada saat berada dalam kawasan lokasi sasi, tidak boleh ditangkap atau diganggu dengan alat dan cara apapun juga. 
2. Motor laut tidak boleh masuk ke dalam kali Learisa Kayeli dengan mempergunakan atau menghidupkan mesinnya. 
3. Barang-barang dapur tidak boleh lagi dicuci di kali. 
4. Sampah tidak boleh dibuang ke dalam kali, tetapi pada jarak sekitar 4 meter dari tepian kali pada tempat-tempatyang telah ditentukan oleh Kewang. 
5. Bila membutuhkan umpan untuk memancing, ikan lompa hanya boleh ditangkap dengan kail, tetapi tetap tidak boleh dilakukan di dalam kali. 

Bagi anggota masyarakat yang melanggar peraturan ini akan dikenakan sanksi atau hukuman sesuai ketetapan dalam peraturan sasi, yakni berupa denda. Adapun untuk anak-anak yang melakukan pelanggaran, akan dikenakan hukuman dipukul dengan rotan sebanyak 5 kali yang menandakan bahwa anak itu harus memikul beban amanat dari lima soa (marga besar) yang ada di Haruku.

* Upacara Sasi

Pada saat mulai memberlakukan masa sasi (tutup sasi), dilaksanakan upacara yang disebut panas sasi. Upacara ini dilakukan tiga kali dalam setahun, dimulai sejak benih ikan lompa sudah mulai terlihat. Upacara panas sasi biasanya dilaksanakan pada malam hari, sekitar jam 20.00. Acara dimulai pada saat semua anggota Kewang telah berkumpul di rumah Kepala Kewang dengan membawa daun kelapa kering (lobe) untuk membuat api unggun. Setelah melakukan doa bersama, api induk dibakar dan rombongan Kewang menuju lokasi pusat sasi (Batu Kewang) membawa api induk tadi. Di pusat lokasi sasi, Kepala Kewang membakar api unggun, diiringi pemukulan tetabuhan (tifa) bertalu-talu secara khas yang menandakan adanya lima soa (marga) di desa Haruku. Pada saat irama tifa menghilang, disambut dengan teriakan Sirewei (ucapan tekad, janji, sumpah) semua anggota Kewang secara gemuruh dan serempak. Kepala Kewang kemudian menyampaikan Kapata (wejangan) untuk menghormati desa dan para datuk serta menyatakan bahwa mulai saat itu, di laut maupun di darat, sasi mulai diberlakukan (ditutup) seperti biasanya. Sekretaris Kewang bertugas membacakan semua peraturan sasi lompa dan sanksinya agar tetap hidup dalam ingatan semua warga desa. Upacara ini dilakukan pada setiap simpang jalan dimana tabaos (titah, maklumat) biasanya diumumkan kepada seluruh warga dan baru selesai pada pukul 22.00 malam di depan baileo (Balai Desa) dimana sisa lobe yang tidak terbakar harus di buang ke dalam laut.

LOBE

* Pemasangan Tanda Sasi

Setelah selesai upacara panas sasi, dilanjutkan dengan pemancangan tanda sasi. Tanda sasi ini biasanya disebut kayu buah sasi, terdiri dari kayu buah sasi mai (induk) dan kayu buah sasi pembantu. Kayu ini terbuat dari tonggak yang ujungnya dililit dengan daun tunas kelapa (janur) dan dipancangkan pada tempat-tempat tertentu untuk menentukan luasnya daerah sasi. 
Menurut ketentuannya, yang berhak mengambil kayu buah sasi mai dari hutan adalah Kepala Kewang Darat untuk kemudian dipancangkan di darat. Adapun Kepala Kewang Laut mengambil kayu buah sasi laut atau disebut juga kayu buah sasi anak (belo), yakni kayu tongke (sejenis bakau) dari dekat pantai, kemudian dililit dengan daun keker (sejenis tumbuhan pantai juga) untuk dipancangkan di laut sebagai tanda sasi. Luas daerah sasi ikan lompa di laut adalah 600 x 200 meter, sedang di darat (kali) adalah 1.500 x 40 meter mulai dari ujung muara ke arah hulu sungai (lihat Peta Daerah Sasi Ikan Lompa Haruku).

TANDA

 

* Buka Sasi

Setelah ikan lompa yang dilindungi cukup besar dan siap untuk dipanen (sekitar 5-7 bulan setelah terlihat pertama kali), Kewang dalam rapat rutin seminggu sekali pada hari Jumat malam menentukan waktu untuk buka sasi (pernyataan berakhirnya masa sasi). Keputusan tentang “hari-H” ini dilaporkan kepada Raja Kepala Desa untuk segera diumumkan kepada seluruh warga.

PENGUMUMAN

Upacara (panas sasi) yang kedua pun dilaksanakan, sama seperti panas sasi pertama pada saat tutup sasi dimulai. Setelah upacara, pada jam 03.00 dinihari, Kewang melanjutkan tugasnya dengan makan bersama dan kemudian membakar api unggun di muara kali Learisa Kayeli dengan tujuan untuk memancing ikan ikan lompa lebih dini masuk ke dalam kali sesuai dengan perhitungan pasang air laut. Biasanya, tidak lama kemudian, gerombolan ikan lompa pun segera berbondong-bondong masuk ke dalam kali. Pada saat itu, masyarakat sudah siap memasang bentangan di muara agar pada saat air surut ikan-ikan itu tidak dapat lagi keluar ke laut.

API UNGGUN
MAKAN BERSAMA

Tepat pada saat air mulai surut, pemukulan tifa pertama dilakukan sebagai tanda bagi para warga, tua-muda, kecil-besar, semuanya bersiap-siap menuju ke kali. Tifa kedua dibunyikan sebagai tanda semua warga segera menuju ke kali. Tifa ketiga kemudian menyusul ditabuh sebagai tanda bahwa Raja, para Saniri Negeri, juga Pendeta, sudah menuju ke kali dan masyarakat harus mengambil tempatnya masing-masing di tepi kali. Rombongan Kepala Desa tiba di kali dan segera melakukan penebaran jala pertama, disusul oleh Pendeta dan barulah kemudian semua warga masyarakat bebas menangkap ikan-ikan lompa yang ada.

PUKUL TIFA

Biasanya, sasi dibuka selama satu sampai dua hari, kemudian segera ditutup kembali dengan upacara panas sasi lagi. Catatan penelitian Fakultas Perikanan Universitas Pattimura pada saat pembukaan sasi tahun 1984 menunjukkan bahwa jumlah total ikan lompa yang dipanen pada tahun tersebut kurang-lebih 35 ton berat basah: suatu jumlah yang tidak kecil untuk sekali panen dengan cara yang mudah dan murah. Jumlah sebanyak itu jelas merupakan sumber gizi yang melimpah, sekaligus tambahan pendapatan yang lumayan, bagi seluruh warga negeri Haruku. Masalahnya kini adalah: sampai kapan semua itu bisa bertahan?

SASI LOMPA

Perusakan lingkungan (habitat) terumbu karang di pantai Haruku oleh pemboman liar pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab tetap berlangsung sampai saat ini. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat (melalui Kewang) untuk mencegah semakin meluasnya perusakan tersebut, bahkan sampai ke tingkat memperkarakannya di pengadilan dan kepolisian. Namun, semua upaya itu nyaris buntu semua, seringkali hanya karena penduduk Haruku adalah rakyat kecil yang sederhana dan awam yang tidak memiliki saluran ke pusat-pusat kekuasaan yang berwenang. Dalam keadaan nyaris putus asa dan bingung, seringkali rakyat Haruku merasa bahwa bahkan Hadiah Kalpataru 1985 bagi mereka, lengkap dengan tugu peringatannya di depan Balai Desa Haruku, sama sekali tidak bermakna apa-apa untuk mencegah para perusak lingkungan tersebut.

tugu kalpataru

 

Tradisi Sasi Di Negeri Haruku


Sebagaimana desa-desa lain di Maluku, maka demikian juga halnya di negeri (desa) Haruku, hukum adat sasi sudah ada sejak dahulu kala. Belum ditemukan data dan informasi autentik tentang sejak kapan sasi diberlakukan di desa ini. Tetapi, dari legenda atau cerita rakyat setempat, diperkirakan sejak tahun 1600-an, sasi sudah mulai dibudayakan di negeri Haruku.

KEWANG

 

* Pengertian Sasi

Sasi dapat diartikan sebagai larangan untuk mengambil hasil sumberdaya alam tertentu sebagai upaya pelestarian demi menjaga mutu dan populasi sumberdaya hayati (hewani maupun nabati) alam tersebut. Karena peraturan-peraturan dalam pelaksanaan larangan ini juga menyangkut pengaturan hubungan manusia dengan alam dan antar manusia dalam wilayah yang dikenakan larangan tersebut, maka sasi, pada hakekatnya, juga merupakan suatu upaya untuk memelihara tata-krama hidup bermasyarakat, termasuk upaya ke arah pemerataan pembagian atau pendapatan dari hasil sumberdaya alam sekitar kepada seluruh warga/penduduk setempat.

* Dasar Hukum dan Kelembagaan

Sasi memiliki peraturan-peraturan yang ditetapkan dalam suatu keputusan kerapatan Dewan Adat (Saniri; di Haruku disebut Saniri’a Lo’osi Aman Haru-ukui, atau “Saniri Lengkap Negeri Haruku”). Keputusan kerapatan adat inilah yang dilimpahkan kewenangan pelaksanaannya kepada lembaga Kewang, yakni suatu lembaga adat yang ditunjuk untuk melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan peraturan sasi tersebut.
Lembaga Kewang di Haruku dibentuk sejak sasi ada dan diberlakukan di desa ini. Struktur kepengurusannya adalah sebagai berikut:
1. Seorang Kepala Kewang Darat;
2. Seorang Kepala Kewang Laut;
3. Seorang Pembantu (Sekel) Kepala Kewang Darat;
4. Seorang Pembantu (Sekel) Kepala Kewang Laut;
5. Seorang Sekretaris
6. Seorang Bendahara
7. Beberapa orang Anggota.

Adapun para anggota Kewang dipilih dari setiap soa (marga) yang ada di Haruku. Sedangkan Kepala Kewang Darat maupun Laut, diangkat menurut warisan atau garis keturunan dari datuk-datuk pemula pemangku jabatan tersebut sejak awal mulanya dahulu. Demikian pula halnya dengan para pembantu Kepala Kewang. Sebagai pengawas pelaksanaan sasi, Kewang berkewajiban: (a) mengamankan Pelaksanaan semua peraturan sasi yang telah diputuskan oleh musyawarah Saniri Besar; (b) melaksanakan pemberian sanksi atau hukuman kepada warga yang melanggarnya; (c) menentukan dan memeriksa batas-batas tanah, hutan, kali, laut yang termasuk dalam wilayah sasi; (d) memasang atau memancangkan tanda-tanda sasi; serta (e) menyelenggarakan Pertemuan atau rapat-rapat yang berkaitan dengan pelaksanaan sasi tersebut.

KEWANG

 

* Jenis-Jenis Sasi

Di negeri Haruku, dikenal empat jenis sasi, yaitu:
1. Sasi Laut;
2. Sasi Kali;
3. Sasi Hutan;
4. Sasi dalam Negeri.

KEWANG